
Sejak kehamilan Syaren, Aira dan Amel menetap di rumah Dimas. Terpaksa Reyhan dan Andrey mengikuti kemauan istri mereka. Kebersamaan mereka sungguh sangat heboh.
Kesehatan Malik kian hari, semakin menurun.
Namun ia sembunyikan, ia tak mau Syaren cemas. Ia selalu kerumah sakit tanpa sepengatahuan siapapun.
Pagi ini Syaren mulai merasakan nyeri yang begitu kuat di perutnya. Padahal sudah dari tadi malam Syaren merasa sakit, namun ia tahan, karena itu hanya kontraksi palsu.
"Mas ... seperti nya ada yang pengen keluar ...." Syaren meringis, sambil mengelus perutnya, wajah nya pun menampakkan kalau yang punya diri, menahan sakit.
Segera Malik membawa Syaren ke mobil. Citra dan Maria Mempersiapkan peralatan bayi dan perlengkapan buat di rumah sakit.
Citra langsung menelpon Dimas, mengabari kalau Syaren akan melahirkan.
Setelah lumayan berkendara Syaren pun sampai di rumah sakit. Para perawat langsung membawa Syaren keruangannya.
karena Syaren akan melahirkan di kamar perawatannya itu.
Dokter mulai memeriksa bukaan demi bukaan. Keadaan sungguh tegang, jam menujukkan ja 12 siang, namun Syaren belum juga melahirkan. Joan datang mengantar makan siang untuk mereka yang menemani Syaren. di ruangan itu hanya ada Malik dan Citra. Setelah mengantar makanan, Joan pun pamit.
Sekarang jam 9 malam,Syaren berjuang di puncaknya. Malik nampak tegar menyemangati istrinya, Citra sangat terharu, melihat anak laki-lakinya, begitu bertanggung jawab. Tak seperti dia, saat melahirkan Malik hanya di temani kakak dan kakak iparnya, yaitu kedua orangtua Dimas.
sedang ayah Malik entah di mana.
Beberapa menit kemudian, setelah melewati perjuangan yang menguras tenaga, suara tangisan bayi pecah diruangan itu. Bagaikan energi baru bagi setiap orang yang mendengarnya. Syaren merasa sangat bahagia, rasa sakit yang tiada tara, seakan lunas, saat melihat bayinya lahir.
"Selamat! Bayinya perempuan, sangat cantik!" Seru dokter.
Perawat langsung membersihkan bayi Syaren, sedang dokter menyelesaikan penanganannya pada Syaren. Perawat menyerahkan bayi pada Malik.
__ADS_1
"Silakan pak." seru perawat, dengan hati-hati perawat memberikan bayi itu ke gendongan Malik.
Malik mulai meng azdani dan meng iqamahkan bayi perempuannya yang cantik.
Semua orang terharu melihat dan mendengarnya.
Melihat Malik sudah selesai, perawat mempersilahkan Malik, memberikan bayi itu pada Syaren. Untuk menyusu dini pada ibunya.
Malik menciumi wajah Syaren. Ia melihat langsung perjuangan Syaren melahirkan keturunannya kedunia ini. Malik kemudian memeluk ibunya.
"Makasih ma ... perjuangan mama sangat besar, bahkan sampai Malik sebesar ini, Malik masih merepotkan mama." ringis Malik menangis dalam pelukan Citra
"Engga benar itu, Malik nggak pernah repotin mama. Malik hadiah terindah dari Tuhan buat mama." seru Citra, sambil mengusap lembut punggung Malik.
"Andai Malik sehat seperti kebanyakan orang, Malik nggak akan nyusahin semua orang. Penyakit Malik, membuat semua orang susah." lirih Malik.
"Terima kasih sayang ... kamu memberikan kebahagiaan besar di sisa terakhir waktu mas," lirih Malik.
"Apa maksud mas?!" Teriak Syaren. Teriakan Syaren membuat bayi itu menangis.
Citra langsung mengambil bayi Syaren, dan menenangkannya. Keadaan menegang mendengar Syaren berteriak.
"Mas ngga boleh mati! Mas harus temani kami, dan dampingi aku dan putri kita!" Syaren menangis, dia tahu akan penyakit Malik, namun rasa cintanya pada Malik, membuat dia tidak siap kehilangan Malik.
"Sayang ... inilah kenyataannya, mas ngga sehat, kamu tahu itu," ucap Malik lirih.
"Mas cuma ingin ninggalin aku kan? Karena aku gendut!" Teriak Syaren.
Malik tidak mampu mengatakan keadaannya saat ini, berterus terang tentang keadaan kesehatannya yang semakin menurun.
__ADS_1
"Maaf sayang, mas cuma mau kamu tegar, dan siap sebelum mas---"
"Kalau mas mau mati! Lebih baik aku mati duluan!" Teriak Syaren.
Malik merasa sesak melihat rasa cinta Syaren buatnya, dia langsung memeluk Syaren. "Sayang, bagaimana nanti keadaan kamu, jika waktu mas benar-benar habis." ringis hati Malik. Malik menghujani Syaren dengan ciumannya.
Malik menarik nafasnya dalam, mengumpulkan energi untuk bicara. "Mas janji, kita rawat anak kita bareng-bareng sayang, mas akan berusaha sekuat mungkin bertahan demi kamu dan anak kita." lirih Malik.
"Semoga mas bisa sayang, mas ingin kamu tetap bahagia, walaupun mas sudah tiada." ringis hati Malik.
Air mata Dimas mengalir deras melihat cinta Syaren yang begitu besar pada Malik. Citra kembali menyerahkan bayi Syaren, pada Syaren untuk menyusu lagi.
Citra hanya bisa menahan air matanya. Namun mengingat keadan Malik saat ini, air matanya tak bisa di tahan. Ia berjalan ke luar dari ruangan Syaren. Dimas mengikuti Citra, ia tahu Citra akan menangis.
Di luar ruangan perawatan Syaren. Dimas menarik Citra kedalam pelukannya. Citra menangis di pelukan Dimas.
"Bagaimana Syaren dan putrinya, jika Malik tak mampu bertahan?" ringis Citra. Tangisnya pun kian pecah.
Dimas juga tak sanggup menahan air matanya. "Kita akan usahakan yang terbaik mah buat Malik, mah." seru Dimas.
"Apa kamu lupa? Ingat apa yang dokter katakan 15 tagun yang lalu? Dokter bilang itu usaha yang terakhir." ringis Citra.
"Tapi dokter salah ma, Lihat! Sekarang Malik berumur panjang, dia juga punya anak."
Citra mulai tenang, dia menghapus air matanya.
"Kita harus optimis mah! Malik insya Allah, dia berumur panjang untuk anak dan istrinya."
Setelah merasa lega, Citra dan Dimas pun kembali ke dalam ruangan Syaren, berkumpul bersama Malik dan Syaren.
__ADS_1