Menua Bersama

Menua Bersama
Bab 60. Mengerjai Teman


__ADS_3

Bukan cuma Mey dan Dimas yang terlanjur jatuh cinta dengan Dona dan Dina, Joan pun ikut terpikat dengan kemanisan mereka. Setelah pertemuan saat acara di kantornya, Joan selalu terbayang wajah si kembar.


Keesokan paginya, Joan berangkat ke panti Asuhan ibu Khadijah.


"Wah Pak Joan kemari, ada yang bisa saya bantu Pak." sapa Dijah, pengurus panti.


"Saya cuma ingin berkenalan dengan orang tua si kembar, Dona dan Dina " sahut Joan.


"Wah kebetulan sekali mereka sedang di dapur, hari ini bundanya si kembar tidak masuk kerja, mari ikut saya." seru Dijah.


Joan pun mengikuti Dijah kedapur, suasana dapur nampak sibuk. Joan inisiatif ikut turun tangan membantu menyajikan makanan. Setelah semua anak-anak panti mendapatkan makanan mereka, Joan pun di ajak berkenalan dengan bundanya si kembar.


"Nah ini dia bundanya si kembar, yang kita cari-cari dari tadi." seru Dijah.


"Iya ada apa bu?" Sahut Syaren sambil berbalik


Joan dan Syaren sama sama terkejut.


"Syaren?" Joan sungguh terkejut mengetahui siapa ibu si kembar.


"Joan?" lirih Syaren yang tak kalah terkejut


"Waduh sudah saling kenal toh, kalau gitu silahkan bicara di depan." seru Dijah, Dijah pun meninggalkan Syaren dan Joan.


Syaren dan Joan berjalan bersama menuju ruangan depan. Mereka pun duduk di kursi yang biasa dipakai untuk menyambut tamu.


"Mereka anak anak Dimas?" Tanya Joan.


"Iya ..., tapi Dimas tidak tahu, aku harap kau juga tak memberi tahunya." sahut Syaren.


"Kenapa kau pergi hingga sejauh ini?" Tanya Joan.


"Aku pergi sejauh ini, karena aku yakin Dimas akan mengambil anakku." sahut Syaren.


"Itu pasti, karena kemaren Dimas dan Mey bertemu si kembar, dan mereka ingin mengadopsi sikembar," sahut Joan.


Syaren mematung mendengar kata-kata Joan.


"Dimas ayah mereka, bukankah Dimas jug berhak atas si kembar?" Tanya Joan.


"Ayah? Tapi dia membuangku demi menikahi Mey, kekasihnya yang pergi dulu, aku tak berbuat apa-apa, tiba-tiba dia---" Syaren tak bisa melanjutkan kata-katanya, sangat perih hidup sendiri saat hamil tanpa suami.


"Maafkan aku, kau pasti sangat menderita, maaf, aku membuat luka lamamu kembali terbuka."


"Sekarang aku bukan asisten Dimas lagi, aku sudah punya usaha sendiri, aku janji, aku tak akan memberitahu Dimas tentangmu dan si kembar."


"Baguslah, aku sangat senang jika kau tak memberitahu Dimas," sahut syaren.


"Syaren, aku tinggal daerah sini, boleh aku sering bermain dengan anak mu? Maaf aku sangat menyukai mereka."


Syaren tersenyum dan mengangguk.


"Kamu tahu, tadinya aku kemari mau menyogok bunda nya si kembar, agar aku bisa mengadopsi si kembar." seru Joan sambil tertawa.


"Oh ya?"

__ADS_1


"Iya niat nya aku mau merayu ibu nya, atau apa saja agar memberikan si kembar padaku," seru Joan.


"Coba rayu ...."


Joan menggeleng sambil tersenyum.


"Aku heran, Dimas bukan cuma satu kali kehilanganmu, namun dia masih beruntung bisa bersamamu kembali, aneh nya dia malah melepas wanita se istimewa kamu" lirih Joan.


"Itu mudah, karena aku bukan pilihan hatinya," sahut Syaren.


"Bunda ..., kita boleh main sama kak Mutia?" Tanya Dina.


"Iya boleh sayang ..., tapi kenalan dulu sama om Joan," seru Syaren.


"Kita sudah kenalan kemaren bunda," seru Dona.


"Iya benar, kita udah kenal kemaren," sahut Joan mendekati si kembar dan mencium pipi mereka.


"Silahkan lanjut mainnya cantik." seru Joan.


Si kembar pun masuk kedalam bersama Mutia.


"Ren bisa bantu?" Kata-kata Harun terhenti saat melihat Syaren bersama seorang laki-laki.


"Oh maaf kalau kamu sibuk, silahkan dilanjut, ngga apa-apa aku cari orang lain lagi," seru Harun.


"Oh engga ..., kami cuma ngobrol aja, oh ya kak Harun kenalin ini Joan teman aku di kota asalku," seru Syaren.


Joan dan Harun pun berkenalan


"Bantu aku cek beberapa stok di gudang," seru Harun.


"Aku boleh ikut bantu?" Tanya Joan.


"Boleh banget, kalau kamu ngga keberatan sih, soalnya kerjaan yang mudah cuma misahin ukuran baju," seru Harun.


"Okey, aku ikut bantu," seru Joan.


Joan pun ke ruangan yang ditunjukan Harun, sedang Syaren sudah berada di gudang lain dan mulai menulis beberapa laporan.


"Itu.... calon ayah nya si kembar?" Tanya Harun yang baru masuk, Syaren terkejut dengan suara Harun.


"Ya ellah calon ayah ...." Syaren tertawa


"Kan si kembar harus punya sosok ayah." seru Harun.


"Ih sikembar di salahin, tuh si Mutia yang ngebet minta mama kok ngga kakak kasih?" jawab Syaren.


"Enggak ada yang mau sama papanya gimana?" Tanya Harun.


"Emang kalau ada, kakak nerima?"


"Kenapa enggak? Asal dia mau jadi ibu yang baik buat Mutia." sahut Harun malu.


Syaren menarik Harun menuju ruangan Nami,

__ADS_1


"Diam di sini." bisik Syaren.


Nami sedang sibuk menyortir baju-baju di ruangan lainnya sendirian. Syaren masuk lalu mengambil kain dan langsung mengikatkannya di mata nami,


"Jangan di lepas sebelum aku suruh, berjanji demi dirimu, kalo kamu lepas kamu jomblo seumur hidup!" Seru Syaren.


"Ya ampun Syaren bercandanya ngga lucu ah." rengek Nami.


"Janji dulu."


"Iya aku janji, aku ngga akan lepas sampai kamu suruh."


"Tunggu aku mau ambil sesuatu." lirih Syaren.


"Yeeah ..., sepertinya aku dapat surprize ya," lirih Nami.


"Iya, surprize yang ngga akan kamu lupa seumur hidup kamu."


Syaren menarik Harun masuk kedalam ruangan itu, dan memberi isyarat diam.


Harun pun faham. Harun berdiri tepat di depan Nami yang mata nya ditutup Syaren dengan kain.


"Ini Al-qur'an, aku harap kamu bersumpah kamu ngga akan bohong!" Lirih Syaren.


"Ih nggak asyik banget sih ..., ancamannya jomblo seumur hidup, pake acara sumpah kitab suci segaal, ah ... Syaren ... aku merinding ah .... " lirih Nami.


"Aku pegang Al-qur'an di atas kepala kamu, kamu harus bersumpah akan mengakui dari hati kamu yang terdalam " lirih Syaren.


"Iya aku sumpah!!!" Jawab Nami ketus.


"Baiklah, bagaimana perasaanmu sama Harun?" Tanya Syaren.


"Hah ..., nanti kamu bilang bilang ke orangnya, nggak mau ah, aku malu nanti." rengek Nami.


Harun memandangi wajah Nami lekat.


"Aku janji ... aku ngga akan bilang kesiapapun, yang aku pegang ini Al-qur'an, cepat katakan, aku pegal nih." lirih Syaren.


"Iya, aku jujur, aku cinta sama kak Harun, sejak kapan ya aku cinta sama harun? Aku nggak ingat Ren ..., pokoknya sejak dia sering kemari, sejak itu hati aku tu gimana gitu, aneh ..., sekarang aja aku ngerasa dia tepat di hadapanku." lirih Nami.


Wajah harun pun mengucur keringat, mendengar pengakuan Nami.


"Aku akuin aku cinta sama Harun, tapi aku ngga berani bilang, secara dia menutup dirinya, aku jadi kasian sama Mutia, jauh sekali impian nya terwujud punya mama baru, secara ayah nya ngga buka hatinya buat wanita." lirih Nami.


"Oh ..., jadi beneran kamu suka sama Harun " lirih Syaren.


"Iya.., tapi cinta aku cuma sebelah tangan Ren," lirih Nami.


"Hem ya sudah ..., buka aja tutup matanya hatiku sudah puas mengerjaimu," seru Syaren.


"Lagi pula, aku ngga pegang kitab suci, ngga berani aku main-main sama kitab suci," seru Syaren.


"Apa? Kamu ngerjain aku!" Seru Nami langsung melepas penutup matanya.


Glekkkkk! Nami tegang melihat Harun tepat di depan matanya.

__ADS_1


"Surprize ..., aku janji ngga akan bilang siapa-siapa." teriak Syaren sambil lari keluar ruangan dan mengunci pintunya dari luar.


__ADS_2