
Setelah selasai melakukan tugas subuh, Syaren merasa kepalanya sangat pusing. Ia berusah kuat, ia segera turun ke bawah untuk membantu bi Anik memasak.
Sedang Yumna sudah berdandan, dan bersiap untuk pergi kerja. Yumna tak merasa bersalah atas kejadian tadi malam.
Reyhan segera bersiap turun. Dia lega, saat melihat Yumna baik-baik saja. Reyhan dan Yumna turun bersamaan, mereka duduk di meja makan.
"Uwek ... uwekkkkkl ... owkkkkkh!!"
Suara muntahan terdengar hingga di meja makan.
Bi Anik, Ainah, dan Neneng sangat cemas melihat wajah Syaren, wajahnya sangat pucat, tangan Syaren juga sangat dingin.
Mendengar suara orang muntah dari arah dapur Reyhan segera berlari. Yumna menyusul Reyhan, terukir senyuman sisnis dari wajah Yumna.
Reyhan kaget melihat keadan Syaren. "Syaren kenapa bi?" Reyhan panik.
"Kakak, santai kak, memang begini kalau awal kehamilan mah," ejek Yumna.
Syaren sangat lemah, ia tak mampu lagi untuk bicara, membela dirinya.
"Apa maksud kamu Yumna?" Bentak Reyhan
"Kakak sih **** di pelihara, Syaren sama Andrey itu udah pacaran 2 tahun, Andrey sendiri yang ngaku!" Ucap Yumna dengan nada yang ketus.
Reyhan nampak sangat marah.
"Hem, tunggu!" Yumna meraih ponsel Syaren, dia meraih jari Syaren untuk membuka kunci ponsel itu. Langkah Yumna berhasil, ponsel terbuka, lalu ia membuka file foto Syaren. Terlihat banyak foto-foto Syaren bersama Andrey. Bukan hanya pelukan, bahkan ada beberapa foto syaren bercumbu mesra dengan Andrey. Belum lagi video saat ulang Andrey, Syaren memeluk erat dan mencumbu Andrey.
Melihat semua itu wajah Reyhan memerah, luapan kemarahannya sangat tinggi.
"Tuan!!" Teriakan Ainah, melihat Syaren pingsan.
Reyhan langsung membopong Syaren menuju mobilnya. Ainah mengejar Reyhan, dia langsung menyelimuti Syaren. Reyhan segera membawa Syaren kerumah sakit, Anik juga ikut menemani Reyhan.
Sedangkan Yumna, dia merasa sangat puas, dia cuek dan masa bodoh dengan keadaan Syaren, dan langsung pergi ke kantor.
***
Dalam perjalan Reyhan menelpon Andrey.
"Apa yang kamu lakukan pada adikku?!" Bentak Reyhan.
"Apa maksud kamu Rey? Aku nggak ngerti."
"Kalau terjadi apa-apa sama kedua adikku, Aku akan beri ganjaran yang lebih!!" Teriak Reyhan.
"Aku benar benar nggak faham Rey."
"Mau bohongin apalagi kamu? Kamu
sudah macarin adikku Syaren selama 2 tahun, kamu masih pura-pura?" Bentak Reyhan
Reyhan langsung meng akhiri panggilan teleponnya, dia fokus menyetir.
Andrey sangat bingung dengan kata-kata Reyhan barusan. Dia segera berangkat menuju kantor, berharap mendapat penjelasan dari Yumna.
Sesampai di Rumah Sakit Reyhan minta tolong perawat mengangkat Syaren. Segera ia di bawa ke UGD dan di tangani tim medis. Tindakan medis pun di lakukan tim perawat serta Dokter UGD.
"Pak ... silakan tebus ini ke apotek samping," pinta seorang perawat, sambil memberikan kertas resep.
Tanpa bicara Reyhan berlari menuju Apotek, dan kembali membawa sekantong obat-obatan.
Tim perawat langasung memasang infus di tangan Syaren. Dokter sudah selesai dengan Syaren, ia menuju meja kerjanya.
"Dok ... apa benar adik saya hamil? Tadi pagi ia muntah-muntah, dok." wajah Reyhan sangat cemas.
__ADS_1
"Apa? Hamil? Adik anda sakit Pak, bukan hamil." Seru Dokter.
Reyhan menganga. "Syukurlah ....." gumamnya.
"Sepertinya maag adik anda kumat, selain itu ia nampak depresi, stres, dan tertekan." jelas Dokter.
"Iya dok, ada sedikit masalah keluarga tadi malam." sahut Reyhan.
"Non Syaren tadi malam tidak makan tuan," Anik menyela
"Oh pantas saja, sepertinya dia harus di rawat beberapa hari," sahut Dokter.
"Lakukan yang terbaik buat adik saya dok," pinta Reyhan.
"Kami akan berusaha semampu kami." sahut dokter.
***
Gedung Wisma Corporation Group.
Sesampai kantor, Andrey langsung mencari Yumna. Terlihat, Yumna akan memasuki lift, Andrey memepercepat langkahnya, ia langsung menarik Yumna, masuk ke dalam lift, beruntung ia bisa berduaan dengan Yumna, di dalam lift. Yumna menatap tajam wajah Andrey, tanpa expresi.
"Yumna, Apa yang terjadi pada Syaren? Dari tadi malam ia tak bisa di telepon, Reyhan juga aneh? Pagi tadi, dia marah-marah saat menelpon aku."
Yumna memberikan senyuman memaksa. "Oh ... selamat ya ...." Yumna menarik tangan Andrey dan menjabatnya
"Selamat apa Yumna?" Andrey sangat heran.
"Oh ... selamat! Sepertinya Syaren hamil, tu dia lagi di bawa kak Rey, kerumah sakit, Syaren hamil, jadi kamu bakal jadi ayah, selamat!"
pintu lift terbuka, Yumna keluar begitu saja, tanpa perdulikan Andrey, yang masih mematung di dalam lift.
Andrey menutup kembali pintu lift, dia segera menuju ruangan pemimpin yang bertanggung jawab, dia meminta izin pulang. Andrey mendapat izin, dia segera menuju rumah sakit, di mana Syaren di rawat.
*****
Syaren mulai sadar.
"Tuan ... non Syaren sadar," Anik memanggil Reyhan.
Reyhan langsung menghampiri Syaren. "Kamu mau makan sayang? mau makan apa, biar kaka carikan," Reyhan mengusap lembut pucuk kepala Syaren.
"Apa aja, kak."
"Maag kamu tinggi, sepertinya hanya buhur yang boleh, kakak carikan bubur buatmu," Reyhan langsung pergi, dia segera mencari bubur di kantin Rumah Sakit.
Setelah tahu di mana kamar perawatan Syaren, Andrey segera menuju ruangan itu. Di koridor rumah sakit, jarak Andrey dan Reyhan tidak terlalu jauh, Reyhan yang berjalan di belakang Andrey fokus dengan ponselnya, membalas pesan-pesan yang masuk.
Brakkkkk!
Andrey membuka pintu begitu kasar, ia masuk begitu saja masuk tanpa salam.
Andrey memandangi Syaren yang nampak lemah. "Oh ... kamu beneran hamil? Apa karena hal ini, kamu putusin aku!"
Andrey berjalan mendekati Syaren. "Kamu hamil anak pacar kamu yang mana?"
Bouggggggh!!
Andrey langsung tersungkur, saat hantaman keras dari tangan Reyhan mendarat tepat di wajahnya. Membuat bibir Andrey berdarah.
Reyhan mencengkeram krah baju Andrey. "Kamu menghina adik aku! Kamu pacarin adikku di belakangku, sekarang kamu merendahkan dia dengan tuduhan hamil. Adikku sakit! Bukan hamil!!" Teriak Reyhan.
"Ada apa ini ribut-ribut! Ini rumah sakit!" Bentak satpam yang datang. Memecah ketegangan yang terjadi di kamar itu.
"Ini Pak, orang ini membuat keributan di kamar adik saya, tolong amankan dia," pinta Reyhan.
__ADS_1
Satpam langsung menarik Andrey dari kamar itu.
****
Syaren menangis, tuduhan Andrey sungguh menyayat hatinya.
Reyhan mendekati Syaren, mengusap pucuk kepala adiknya penuh kasih sayang. "Sudah, lupakan hal ini, ayo makan dulu, kakak ngga mau kamu sakit lebih parah lagi."
Reyhan menghela nafasnya. "Kalau kamu sayang sama kakak, sayang sama bi Anik, ayoo makan, demi kami. Biar kita cepat pulang." pinta Reyhan.
"Iya non, makan ya ... sini bibi suapin, non Syaren kan, sangat suka bibi suapin." seru Anik
Syaren mengangguk, Anik segera menyiapkan bubur, dan langsung menyuapi Syaren.
"Terima kasih bi, selama ini kalian mencurahkan kasih sayang buat kami semua." Syaren memegang lengan Anik.
"Iya, sama sama non ...." Anik tersenyum, dan kembali menyuapi Syaren.
Syaren mengambil sendok di tangan Anik, ia menyendok bubur itu, dan menyuapi Anik.
"Non, jangan non." Anik menolak.
"Bibi takut ketularan penyakit saya? Tenang bi, penyakit saya nggak menular kok," rengek Syaren.
"Tapi nanti sendoknya bekas mulut bibi."
"Biarin! Bibi ... aaaaa!" Syaren meminta Anik membuka mulutnya.
Anik terpaksa menuruti rengekan majikannya ini, ia membuka mulutnya demi membahagiakan Syaren. Syaren tersenyum, ia kembali makan dengan sendok yang sama setelah menyuapi Anik.
Reyhan tersenyum melihat adiknya kembali bersemangat dan bisa tersenyum.
"Bii, aku pulang sebentar ya, aku mau ambil beberapa keperluan untuk kita di sini, sekalian juga, aku mau jemput bi Ainah," ucap Reyhan.
"Iya tuan" sahut Anik.
"Kakk, beli makanan atau bawa makan buat bibi juga, bibi belum sarapan," pinta Syaren lemas
"Iya sayang," Reyhan melempar semyum pada Syaren.
*****
Reyhan dalam mobil menuju rumahnya, namun dia teringat Wisma Corporation, Reyhan segera menuju gedung Wisma Corporation, untuk mengurus izin Syaren.
Di Area parkir Gedung Wisma Corporation, mobil Reyhan dan Joan parkir berdampingan. Joan langsung mendekati laki-laki itu.
"Maaf Pak, ini bukan parkir untuk umum, bisakah anda memindahkan mobil anda? Di sana, itu tempat parkir umum Pak." Joan menunjukkan arahnya.
"Oh maaf, saya tidak tahu, saya kemari hanya sebentar. Saya ingin mengurus izin buat adik saya."
Joan teringat sosok laki-laki di depannya. "Ada yang bisa saya bantu, saya juga pekerja di gedung ini."
Reyhan mulai mengatakan siapa Syaren, dan keadaan Syaren saat ini.
"Okey, saya mengerti, tolong tulis saja nama adik anda, nama rumah sakit tempat dia menjalani pengobatan, dan kamar perawatannya, nanti staff kami yang bertugas akan memeriksa langsung." Joan menuju mobilnya, dia mengambil note, lalu memberikannya pada Reyhan.
Reyhan memberikan kertas itu, setelah selesai menukis semua yang di minta laki-laki di depannya.
"Terima kasih Pak, saya akan usahakan urus izin adik anda, perkenalkan, nama saya, Joan, saya penanggung jawab ketiga, di gedung ini." Joan memperkenalkan diri.
"Saya Reyhan." Sambil meyambut uluran tangan Joan.
Joan tersenyum, dia langsung pergi meninggalkan Reyhan, dan langsung masuk ke gedung Wisma Corporation.
Sedang Reyhan, ia melanjutkan perjalanannya menuju rumah
__ADS_1