Menua Bersama

Menua Bersama
bab 30. Firasat


__ADS_3

Bruggg!!!


Syaren menjatuhkan dirinya, dari mobil yang melaju, diatas 80 km/jam.


Tubuh Syaren terpental di jalan, dan mengguling beberapa kali,


Di kejauhan nampak sepasang mata melihat wanita jatuh dari mobil, ia menurunkan kecepatan mobilnya, dan menepikan mobilnya, melaju perlahan di sisi badan jalan.


Sedang Joan mengerem mobil yang dia setir, sambil membanting setiran ke arah samping. Dimas sungguh ketakutan, melihat Syaren nekat seperti itu.


Mobil yang melaju perlahan di belakang mobil Dimas, seketika berhenti di samping wanita yang tergeletak di tengah jalan itu, untung saja, keadaan jalanan sedang sepi. Ia segera turun, mendekati wanita itu, saat semakin dekat dengan wanita itu. Seketika kedua matanya melotot, menyadari wanita itu adalah Syaren, adik bungsunya.


"Syaren!" Reyhan sangat panik.


Joan semakin menambah kecepatan putar balik mobilnya, saat dia melihat tubuh Syaren, diangkat oleh laki-laki lain.


Di jalanan sana, Reyhan segera mengangkat tubuh Syaren, perlahan dia mendudukkan Syaren kedalam mobilnya, ia sangat panik melihat banyak darah yang mengucur, di bagian samping, kepala Syaren.


Reyhan berjalan kearah belakang, dia mengambil baju kaosnya yang bersih, untuk menahan darah yang keluar dari bagian kepala Syaren yang terluka.


Reyhan langsung masuk ke kemudi mobilnya, belum melaju, Dimas menghampirinya, dan mencegatnya.


"Biar aku yang bawa Syaren, kerumah sakit Kelana." ucap Reyhan langsung menyela Dimas yang ingin bicara.


"Bawa saja kerumah sakitku." pinta Dimas.


"Tidak! Aku ingin fakta yang jelas, aku tak mau fakta yang di tutup-tutupi!" seru Reyhan. Dia menatap Dimas dengan tatapan marah.


Reyhan langsung melajukan mobilnya, dengan kecepatan tinggi, menuju Rumah Sakit Kelana. Tanpa menghiraukan Dimas.


Sesampai di rumah sakit, Syaren langsung di tangani tim medis. Setelah memeriksa Syaren, dokter keluar menghampiri Reyhan, wajah dokter tampak cemas.


"Keluarga pasien?!" Tanya dokter.


"Saya kakak pasien dok!" Jawab Reyhan.


"Kami harus segera, melakukan tindakan oprasi, saat ini, adik anda kritis!" kata Dokter.

__ADS_1


"Lakukan apa saja yang terbaik buat adik saya dok."


"Kami akan oprasi setelah anda menyetujui surat persetujuam ini." pungkas dokter. Dokter memberikan lembaran kertas pada Reyhan.


Reyhan membaca surat persetujuan yang dia terima dari dokter. Hatinya sangat hancur, saat membaca isi surat yang harus dia tanda tangani.


Surat keterangan itu menerangkan. Kalau Syaren bereseko besar cacat permanen, dan reseko terkecilnya kehilangan sebagian memorinyanya, yang dikenal istilah Amnesia. Dampak dari operasi yang akan di jalani Syaren nanti.


Reyhan menangis bersandar menghadap tembok, ia melepaskan begitu saja surat persetujuan itu. Hingga surat itu tergeletak di lantai.


"Dok, kenapa adik saya? Kenapa dia harus menghadapi masalah medis seserius ini?"


"Ada benturan keras di kepalanya, sehingga menimbulkan masalah yang sangat serius, dan kami, harus segera melakukan tindakan medis, untuk masalah seserius ini. Sepertinya dia habis melakukan pengobatan, pada lengannya ada perban, apa yang terjadi sebelumnya?" Tanya Dokter.


"Saya tidak tahu dok, sebelumnya, saya melihat adik saya jatuh dari mobil yang melaju cepat di jalan tol, dan ...." Reyhan tidak mampu meneruskan ucapannya.


"Saya mengerti sekarang." seru Dokter


"Terus luka lengannya?" Tanya Reyhan


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Dimas.


Dokter mengulangi penjelasan yang sebelumnya dia katakan pada Reyhan.


Dimas mengambil lembar kertas yang ada di lantai, ia membacanya bersama Joan. Tubuh Dimas seketika lunglai, setelah selesai membaca kertas itu, dia jatuh pingsan. Joan meminta pertolongan perawat, Dimas segera mereka baringkan di bangkar, yang ada di UGD.


"Pak, semakin cepat semakin baik!" Seru Dokter.


Reyhan mengambil kertas itu dan menanda tanganinya. Setelah senyelesaikan syarat syarat lainnya. Tindakan operasi, segera dilakukan.


"Biar kami yang tanggung semuanya." ucap Joan.


Reyhan menarik krah baju Joan


"Sejak keluar dari hotel! Firasatku mengatakan, kalau ada hal buruk tentang majikanmu itu! Sekarang! Lihat !! Apa yang terjadi pada adikku! Aku akan membuat perhitungan yang setimpal dengan kalian!" Teriak Reyhan.


Reyhan mendengus, mengingat Syaren melindungi Dimas. "Wanita melindungi laki-laki? Laki-laki macam apa bos kamu itu! Aku tidak butuh uang kalian!" Bentak Reyhan.

__ADS_1


Reyhan meninggalkan Joan begitu saja.


Ia duduk di ruang tunggu dekat ruang oprasi, dia langsung menelpon Yumna menceritakan yang terjadi pada Syaren.


Yumna langsung meminta sopir taksi merubah tujuannya. Taksi yang di tumpangi Yumna langsung melaju menuju rumah sakit kelana. Yumna semakin khawatir.


Sesampai di rumah sakit, Yumna berlari menuju Reyhan. Ia langsung memeluk Reyhan dan menangis di pelukan Reyhan.


"Ya Tuhan ... ambil nyawaku saja, jangan adik ku ...."pekik Yumna.


"Jangan seperti itu sayang ... kalian berdua nggak boleh kenapa-napa, kakak akan selalu menjaga kalian." ringis Reyhan.


Dimas sudah sadar, dia dan Joan berjalan kembali menyusul Reyhan. Melihat Joan dan Dimas berjalan kearahnya, membuat amarah Yumna memuncak.


Dengan langkah yang cepat, serta tatapan mata yang penuh kemarahan, Yumna mendekati Dimas dan Joan. Melihat reaksi Yumna, Joan langsung ingin mencegat wanita itu, agar tidak terlalu deekat dengan Dimas, namun Joan di tahan oleh Dimas.


Yumna berdiri di hadapan Dimas.


Plakkkkkk!!


Tamparan dari tangan Yumna, mendarat di pipi Dimas.


"Andaikan aku tidak takut hukuman waktu itu, maka adiku tidak mengalami masalah ini!!" Bentak Yumna.


"Yumna! Apa maksud kamu?" Tanya Reyhan.


"Syaren terpaksa menikahi orang gila ini, semata untuk menyelamatkan masa depanku dan karierku, juga menyelamatkanku dari murkamu, kak Rey!"


Yumna kembali menoleh kearah Dimas. "Lebih baik kamu penjarakan aku sekarang! Beri hukuman mati padaku! Dari pada aku mengizinkan adikku menikahi laki-laki bejat sepertimu! Ayo .... penjarakan aku! Se-Ka-Rang!! Tapi ... kembalikan adiku ... kembalikan adikku, kembalikan adiku!" Pekik Yumna.


Seketika Yumna tak sadarkan diri. Dia tidak mampu menahan tekanan batinnya.


Reyhan masih tidak mengerti, dia segera membawa Yumna ke kursi, ia pun membaringkan Yumna di sana.


"Apa maksudnya?" Tanya Reyhan


"Kami akan jelaskan jika semua sudah tenang." sahut Joan.

__ADS_1


__ADS_2