
Dimas memadangi Syaren, dia masih sangat sesak melihat pemandangan di depan matanya. Apalagi saat menyadari Sayren melahirkan anak kembar. Dimas hanya memandangi mereka semua bergantian.
"Syaren, apa kau dan Joan saling mencintai?" Tanya Dimas.
"Kami ...." lirih Joan.
"Kami tak bisa saling jatuh cinta seperti remaja, tapi kami akan berusaha saling mencintai hingga masa tua kami nanti." jawab Syaren sambil memeluk Joan.
"Dimas, terima kasih sudah melepaskanku," lirih Syaren.
"Joan, kau sangat beruntung mendapatkan Syaren." lirih Dimas.
"Kau lebih beruntung, bisa bersama dengan wanita yang selama ini kamu cintai," potong Syaren. Syaren melihat Mey berjalan kearah mereka.
Mey masih tertegun, dia tidak menyangka ada Syaren ditempat ini, bersama dua anak kembar yang ingin dia adopsi dulu.
"Mey, terima kasih, berkat kedatanganmu, aku bisa menemukan orang yang cinta padaku," Syaren menatap Joan.
__ADS_1
"Kalau kau tak datang, mungkin selamanyanya aku akan hidup dengan orang yang kasihan padaku." lirih Syaren menatap Dimas.
"Terima kasih Mey." Syaren memeluk Mey.
"Syaren ... aku yang terjebak, hidup dengan orang yang aku kasihani, aku selalu cinta padamu Syaren, aku hanya tak berdaya meninggalkan Mey, karena aku kasihan pada nya." lirih hati Dimas.
"Kapan kalian akan tambah pasukan?" Tanya Joan.
"Oh, penyakit aku Jo, aku tak di izinkan Dokter hamil lagi, padahal kami rencana membuat keseblasan." jawab Mey.
"Kalian sendiri? Apakah akan memberikan anak kalian adik baru buat si kembar?" Tanya Mey.
Semuanya hancur, karena kesalah fahamannya. Hingga Mey masuk dalam hidupnya.
"Oh sementara tidak, aku meminta Syaren program KB, karena kematian istriku dulu, aku jadi parno sama wanita hamil, aku takut kehilangan wanita yang sangat beharga di hidup ku." lirih Joan.
"Kau benar Joan, sangat pedih kehilangan wanita yang sangat kita cinta." sahut Dimas.
__ADS_1
"Maaf sayang, aku tak berniat meninggalkanmu dulu, aku hanya tak ingin kau menikahiku hanya karena kau kasian padaku." lirih Mey.
"Mey, sekarang kau jadi istriku karena aku kasian padamu, tapi aku mencintai Syaren Mey." lirih hati Dimas.
Keadaan menjadi hening,
Dimas menatap sayu kearah Syaren, dia tidak bisa membohongi hatinya, karena dia benar-benar mencintai Syaren. Tak ada lagi perasaan lain, selain penyesalan, karena telah melepaskan Syaren dan menyakiti Syaren dimasa lalu.
Syaren merasa risih, karena pandangan mata Dimas yang yang hanya tertuju buatnya. Syaren berusaha santai dengan berbicara dengan si kembar.
Joan faham, apa yang Dimas rasakan saat ini, karena dia sangat mengenal Dimas, selama ini hanya dia yang mengenal Dimas lebih dekat.
Mey masih memandangi si kembar.
Dina dan Dona sangat bosan berdiam diri seperti ini, mereka memandangi wahana permainan yang ada. Lama menunggu namun orang-orang dewasa ini masih betah dalam keheningan mereka.
"Ayah ... bunda ... main yang lain aku bosen." rengek Dina. Sambil menarik lembut tangan Syaren dan Joan.
__ADS_1
"Iya aku juga bosen." rengek Dona.
Lamunan Syaren buyar, dia segera bicar pada si kembar. "Sebentar sayang ... kenalan dulu sama om Dimas dan aunty Mey." pinta Syaren.