Menua Bersama

Menua Bersama
Bab 42. Berdarah


__ADS_3

Tidak ada acara syukuran dan lainnya, karena Amel dan Yumna, tengah hamil lima bulan, sedang Aira, dia sibuk menjadi ibu baru.


Para pembantu mengunci kamar Malik, beberapa barang Syaren sudah berpindah kekamar Dimas.


"Dimas benar ... jika sesuatu yang di takdirkan untuknya, maka sesuatu itu akan datang padanya." gerutu hati Citra.


Setelah makan malam, sangat terpaksa Syaren menuju kamar Dimas, perlahan ia masuk kekamar Dimas. Syaren lega, ternyata kamar Dimas masih kosong, mungkin Dimas masih sibuk di ruang kerjanya.


Syaren segera merebahkan tubuhnya di tempat tidur, hingga ia larut ke alam mimpi. Syaren bermimpi bertemu Malik. Dia bicara banyak hal dengan Malik.


Sedang di alam nyata, Dimas masuk ke kamarnya, dilihatnya Syaren sudah tidur, dia pun berbaring di samping Syaren.


"Mas Malik!!!" Teriak Syaren.


Teriakan Syaren membuat Dimas yang tadi mulai larut terperanjat, karena kaget.


"Ada apa Syaren? Jika kau keberatan aku di sini aku akan keluar." lirih Dimas.


Nafas Syaren masih tersengal, dia masih tidak rela, karena dalam mimpi Malik memintanya jadi istri yang baik bagi Dimas. "Maaf kak Dimas ... aku hanya mimpi, aku mimpi bertemu mas Malik." ringis Syaren, air matanya pun mulai membasahi pipinya, karena teringat Malik.


Dimas sangat sedih melihat Syaren yang tidak bisa move on dari Malik.


Melihat Syaren nampak kacau, Dimas prihatin, dia takut Syaren syok lagi. "Di mana obatmu?" Tanya Dimas.


Syaren menunjuk, kearah nakas yang dekat dengan tempat tidur.


"Diamlah ... aku akan mengambilkannya," Dimas menyalakan lampu terang, Karena banyak Dimas bingung.


"Yang mana?" Tanya Dimas. Sambil memperlihatkan obat-obatan milik Syaren.


"Dalam botol 2 butir." sahut Syaren.


Dimas pun memberikan obat dan segelas air pada Syaren. Setelah minum obat Syaren pun langsung berbaring. Sedang Dimas mematikan lampu terang, lalu merebahkan dirinya di samping Syaren.


Sekitar jam 2 malam Syaren berhalusinasi, ia merasa Dimas itu Malik.


Syaren naik ketubuh Dimas yang masih tidur itu yang ia kira Malik. Syaren menyerang bibir Dimas dengan halus, lalu ia melepaskan bajunya, Dimas terkejut, ia aneh dengan perbuatan Syaren. Terus saja Syaren agresif padanya.


Karena ia laki-laki normal tentu mengimbangi pelayanan Syaren. Dia terus mendalami aksi mereka.


Dimas membiarkan kehendak Syaren. Kegiatan mereka semakin dalam. Namun saat Syaren sampai puncak tertingginya, hati Dimas hancur, mendengar jelas Syaren meracau memanggil manggil Malik. Dimas langsung berhenti, ia baru sadar, kalau Syaren mengira dirinya Malik. Tapi Syaren menariknya. Hingga kegiatan mereka terus berlanjut, Syaren terkulai lemas, sambil memeluk erat diri Dimas.

__ADS_1


"Mas malik ..., jangan pergi ...." rengek Syaren, kalimat itu selalu ia ulang, hingga Syaren lelap dalam tidurnya.


Setelah Syaren tidur Dimas mulai beranjak untuk pergi mandi. Dimas menyalakan lampu terang untuk memandangi Syaren. Saat Syaren berbalik ada bercak darah di sprei, membuat Dimas khawatir.


"Kenapa berdarah?" Gumam Dimas.


Dimas segera mematikan lampu terang.


Dimas pergi ke kamar mandi, lalu berpakaian. Ia langsung berlari kekamar Citra. Beberapa kali mengetok pintu, akhirnya Citra membuka kan pintu.


"Ada apa Dimas? Kenapa jam segini kamu ganggu mama?" Tanya Citra


"Mah ... kita harus bawa Syaren kerumah sakit mah." ucap Dimas, wajahnya nampak panik.


Rasa kantuk Citra pun hilang mendengar kata-kata Dimas barusan.


"Kenapa Syaren?" Tanya Citra.


"Ada darah yang keluar dari bawah sana mah." jawab Dimas.


"Banyak?" Citra semakin panik.


"Ngga ma, tapi bercaknya nampak di sprei."


"Astaga, mama pikir apaan." gerutu Citra.


"Kalian melakukan?" Goda Citra.


"Apa bahaya mah? Maaf, aku Khilaf ... dia yang mulai lebih dulu padaku." Dimas panik.


"Dia selalu memanggil Malik dan aktif sendiri, aku bisa apa?" Ucap Dimas semakin panik.


"Maafkan dia Dimas, dia masih mencintai Malik, tenanglah ... hal barusan yang kamu lihat, tak bahaya, nanti besok mama akan bawa Syaren ke dokter sayang " lirih Citra, berusaha menahan senyumannya.


"Maafin aku mah, itu di luar kendaliku." ucap Dimas cemas.


"Sayang, Syaren mama suruh melakukan oprasi penanaman selaput dara, karena kalian bercinta selaput dara buatan itu pecah, tenang ... itu hadiah buat kamu." seru Citra.


Dimas menganga. Dia mengutuki dirinya dalam hati, betapa bodohnya ia.


"Sudah ... mama mau tidur lagi." seru Citra terus berusaha menahan tawa.

__ADS_1


Dimas terpaksa pergi dari kamamr Citra, dia melanjutkan tidurnya, di ruang kerja.


Jam 5 pagi Syaren bangun, namun ia merasa sedikit perih di intinyanya, ia melihat baju Dimas dan bajunya berserakan di lantai. Dipandanginya tubuhnya polos tanpa apa-apa.


"Apa yang terjadi? Oh tidak!!! Jangan-jangan aku mimpi bercinta dengan mas Malik itu, aku malah bercinta sama kak Dimas? Akkk!!!" Pekik Syaren.


"Mas Malik ... maafkan aku, aku telah menyerahkan milikmu pada kak Dimas ...." ringis Syaren.


Syaren bangkit dari tempat tidur, menuju kamar mandi.


"Harus nya aku sadar! Dia lebih gagah dari mas Malik" ringis batin Syaren.


Syaren mengutuki dirinya sendiri.


"Syaren ... jangan tenggelam lagi dalam dukamu, kalau kau terus tenggelam, maka kau akan mempermalukan dirimu sendiri." rintihnya sendirian.


Selesai melakukan tugasnya Syaren keluar, ia keliling rumah mencari Dimas, untuk minta maaf, namun ia tak juga bertemu Dimas. Ia putuskan untuk bermain bersama Reina putrinya. Kini mereka sarapan, Mata Syaren masih mencari-cari seseorang.


"Dimas? Dia sudah pergi, pagi-pagi sekali." sahut Citra.


Syaren berusaha tersenyum, menanggapi kata-kata Citra, sedang Citra menghampiri Syaren dan memeluknya.


"Kamu tahu, kamu sudah membuat anak mamah Malik tenang, Malik pasti bahagia melihat mantan istrinya menjadi istri yang baik, jika kau mencintai Malik, maka berbaktilah pada suamimu yang sekarang" lirih Citra.


Syaren gugup mendengari ucapan citra, namun ia terus berusaha mengukir senyuman di wajahnya.


Syaren sedang asyik bermain dengan Reina, tiba-tiba Citra datang menghampirinya, danmengajaknya keluar, Syaren pun menuruti permintaan Citra..


Citra membawa Syaren periksa kewanitaannya ketempat dokter specialis, Citra lega, mendengar penjelasan dokter. Dokter hanya membersihkan dan melakukan perawatan lainnya pada Syaren.


Selesai di tempat dokter, Citra dan Syaren pun langsung pergi dari tempat itu.


"Mah, apa aku boleh jalan sebentar?" Pinta Syaren.


"Iya boleh sayang, kalau begitu, mama pulang duluan."


"Iya mah,"


Citra langsung pulang kerumah, sedang Syaren mendatangi Dimas di kantornya.


Selama perjalanan Syaren terus berpikir, kalimat apa yang akan dia ucapkan saat bertemu Dimas. Syaren larut dalam lamunannya, hingga tanpa dia sadari, taksi yang dia tumpangi, sudah berhenti di depan gedung Wisma Corporation.

__ADS_1


"Non, sudah sampai." Suara supir taksi mengagetkan Syaren.


__ADS_2