Menua Bersama

Menua Bersama
Bab 79. Penawaran


__ADS_3

Geral masih belum menyerah, kali ini dia mengintai anak-anak Syaren. Sejak pagi-pagi buta, orang suruhan Geral sudah stand by di depan Sekolah anak-anak Joan. Salah seorang dari salah satu, orang suruhan Geral berpura-pura berjualan di depan sekolah itu. Tapi sayang, di depan sekolah mereka di larang berjualan. Karena pihak sekolah menyediakan kantin bagi para pedagang.


Geral geram, sekolahan tempat anak-anak Joan menempuh pendidikan bukan sekolah biasa, cctv tersebar di mana-mana. Tidak mudah mendekati anak‐anak Joan. Anak-anak juga langsung turun ke area dalam pagar sekolah, bukan pinggir jalan, membuat anak buah Geral sulit mengenali yang mana target mereka.


"Maaf boss, kami tidak bisa menjalankan misi," lapor salah satu orang suruhan Geral.


"Iya misi di batalkan biar aku turun tangan sendiri," jawab Geral geram.


Siang hari Geral dan satu orang suruhannya kembali ke rumah Joan, Geral melihat mereka semua masuk ke dalam mobil Joan, Geral segera mengikuti mereka. Setelah perjalanan yang lumayan, ternyata Joan sekeluarga ke rumah sakit.


Joan berjalan sambil menggandeng istrinya, sedang anak-anak membuntuti Mereka. Geral tidak mau diam, Geral juga membuntuti mereka. Geral meminta orang suruhannya menunggu di lantai teratas gedung rumah sakit.


Di depan sebuah ruangan, nampak Dina, Dona, dan Zay bercanda menunggu pemeriksaan bunda mereka. Geral meraih pisau lipat dalam tas mininya, lalu berjalan cepat ke arah tiga anak Joan, karena Zay yang paling mudah di jangkau, Geral menodong Zay dengan pisaunya.


"Jangan bergerak! Ikut tante!!!" Bentak Geral.


Sontak Dina dan Dona berteriak, Joan segera keluar dari ruangan pemeriksaan, dia kaget melihat Zay, dibawa Geral. Dia langsung mengejar Geral yang menawan Zay anaknya. Namun, Joan ketinggalan Lift, Joan segera berlari mencari lift yang lain.


Dina dan Dona masih menangis.


"Ada apa sayang?" Syaren memeluk kedua putrinya.


"Kak Zay di todong pisau bunda ...." rengek Dina.

__ADS_1


Hati Syaren nyeri mendengar cerita anaknya.


"Kemana kak Zay di bawa?" Tanya Syaren.


Dina menunjuk kearah lift.


"Kalian sembunyi di ruang dokter ya, bunda mau bantu ayah cari kak Zay," seru Syaren.


"Dok ...." lirih Syaren.


"Silakan, anak-anak aman sama saya," jawab dokter. Setelah Syaren pergi, dokter segera menelpon pihak kepolisian.


Syaren berjalan menuju lift, hatinya bergeritik pasti penodong itu ke lantai paling atas.


"Bagus sekali Syaren, kau datang kemari, aku ingin memberimu pilihan, selamatkan anak laki laki mu? Atau suami mu?" Tanya Geral.


"Aku ingin selamatkan keduanya, suamiku dan anakku, aku tukar mereka dengan dua nyawa yang ada dalam diriku," lirih Syaren.


"Aw penawaran mu bagus sekali Syaren, baik aku setuju, Joan jika kami tidak mau kembali padaku, maka kamu akan kehilangan nyawa istri dan bayimu, Joan ... kau pilih kembali padaku, atau meilih berpisah dengan mereka?" Tanya Geral.


Geral meraih sesuatu dalam tasnya, ternyata itu pistol. Geral mengarahkan pistol itu ke arah Syaren.


"Ayo Joan, nyawa mereka tergantung keputusanmu," seru Geral.

__ADS_1


Joan menatap Geral dengan pandangan membunuh, membuat mata yang melihatnya merinding.


"Aku rindu tatapan tajammu sayang, tapi aku butuh jawabanmu, bukan tatapanmu," seru Geral mulai menarik pelatuk pistolnya.


Zay sadar kalau pistol itu akan menembak ke arah bundanya, Zay menangkis pistol itu, hingga Geral reflex menarik pelatuknya, dan peluru itu mengenai bahu rekannya yang menodong Joan, Geral marah dia mendorong Zay hingga Zay terjatuh dari sisi gedung itu.


"Zay!!!!!!!!" Teriak Syaren dan Joan bersamaan.


Joan langsung menampar Geral tanpa ampun hingga bibir Geral mengeluarkan darah, membuat Geral tersungkur di lantai.


"Kamu Gila Geral!! Zay anak kandungmu dan Joan!!!" Teriak Syaren.


"Zay!!!" Teriak Syaren pecah di sisi lantai teratas itu.


Geral tertawa juga menagis, menyadari dia membunuh anak kandungnya sendiri.


Syaren menangis sejadi-jadinya, Joan berusaha menenangkannya.


Beberapa anggota kepolisia langsung mengamankan Geral dan rekannya. Geral masih tertawa dan menangis saat polisi menyeret dirinya.


Cett cet cet!!!


Sebuah Lift pembersih bagian luar Gedung setara dengan lantai teratas itu.

__ADS_1


"Bunda kenapa menangis?" Tanya Zay.


__ADS_2