Menua Bersama

Menua Bersama
Bab 29. Tes keperawanan


__ADS_3

"Ikut aku!" Bentak Dimas.


Syaren terpaksa mengikuti Dimas, Dimas berjalan menuju kamar mandi. Di sana, Dimas membasuh wajahnya di westafel, lalu membasahi rambutnya dengan kedua telapak tangannya yang sebelumnya ia basahi air. Sedang Syaren membisu, melihat aktivitas Dimas.


Ia menarik Syaren ke arahnya, dan melakukan hal yang sama pada rambut Syaren. Hingga rambut mereka terlihat sedikit basah. Syaren melamun, dia baru faham apa maksud Dimas, tujuan Dimas, agar semua orang mengira, mereka melakukan malam pengantin mereka.


Lamunan Syaren, terhenti. Dia sangat terkejut, merasakan Dimas berkegiatan di lehernya. Dimas sengaja meninggalkan bintik merah di sana. Agar keluarga mereka percaya, kalau mereka menikmati malam pengantin mereka.


Syaren pasrah, rencana Dimas juga menguntungkan dirinya, dia berharap, Reyhan dan Yumna juga berpikir kalau dia bahagia dengan pernikahan ini.


"Ayo turun!" Bentak Dimas.


Syaren terperanjat, karena kaget dengan bentakkan Dimas, Syaren segera mengikuti langkah Dimas. Mereka berdua, berjalan ber iringan menuju Restoran, yang ada di hotel itu. Karena, anggota keluarga yang lain, sudah menunggu mereka, di sana.


***


Di Restoran.


Wajah-wajah itu nampak masam, menatap piring kosong yang ada di depan mata mereka, mereka semua tidak bisa sarapan, karena pasangan pengantin baru itu, belum juga datang. Padahal, mereka semua tersiksa dengan rasa lapar mereka.


Sebelum anggota keluarga lain menyadari kehadiran mereka, Dimas langsung melingkarkan tangannya di pinggang Syaren. Sedang Syaren hanya diam.


"Selamat pagi semua." sapa Dimas.


Amel, Aira, Aleta, Yumna, dan Reyhan sangat terkejut melihat dua orang yang datang. Mereka di buat merinding, dengan apa yang mereka lihat. Rambut pengantin baru yang basah, juga bintik merah yang ada di leher Syaren, membuat pikiran menerka-nerka.


"Ayo, kita mulai sarapan, pasti kalian semua sudah lapar." Seru Dimas.


Lamunan mereka buyar, saat mendengar suara Dimas. Mereka semua menikmati sarapan pagi mereka. Sikap romantis Dimas pada Syaren, membuat jiwa-jiwa jomblo yang melihat hal itu panas dingin.


Selesai Sarapan, mereka semua segera kembali ke kamar, keluarga Dimas, dan kakak-kakak Syaren pulang lebih dulu. Kkni di hotel itu tinggal Joan, Dimas, dan Syaren.


Joan memasukan koper Syaren dan koper Dimas kedalam mobil mereka. Sedang Syaren dan Dimas sudah menunggu Joan di dalam mobil. Selesai memasukan koper majikannya itu, Joan segera duduk, di kursi kemudi, bersiap melajukan mobil yang dia kemudikan. Perlahan mobil itu mulai melaju, meninggalkan area hotel.


"Joan, kita pulang lewat tol saja." Pinta Dimas.


Joan segera membelokan mobilnya memasuki jalan tol.


Pesshhht!!


Beg beg beg ......" Mobil yang di setir Joan, oleng.


Perlahan Joan menurukan kecepatannya dan memarkirkan mobilnya di tepi jalan. "Maaf Pak, sepertinya ban mobil bocor." seru Joan.


Dimas dan Joan turun dari mobil. Joan segera mengambil Dongkrak dan kunci roda untuk mengganti ban mobil yang bocor, dengan ban sirep yang ada. Sedang Dimas Asik melihat Joan mengganti ban. Syaren ikut turun dari mobil. Dia berdiri mematung di pinggir jalan. Memandangi beberapa mobil yang melintas di jalan itu.


Dimas Asyik bicara di telpon, ia tak melihat sebuah mobil yang melaju ke arahnya, penumpang mobil itu, menodongkan senjata dari jendela mobil yang melaju. Syaren melihat hal itu, ia panik. Ia secepat mungkin berlari ke arah Dimas. Saat dekat dengan Dimas Syaren langsung mendorong Dimas.


Doarrrr!!!


Suara tembakan, mengejutkan Dimas yang masih tersungkur, dan Joan yang tadi fokus memasang baut roda mobil. Sedang mobil yang melepaskan tembakan itu langsung tancap gas, meninggalkan area itu.


Dimas berusaha bangkit, dia sangat tegang melihat Syaren yang kena tembakan, karena melindunginya.

__ADS_1


"Joan! cepat selesaikan! Bahu Syaren berdarah!" Teriak Dimas.


Joan semakin mempercepat memasang ban. Sedang Dimas membantu Syaren masuk kedalam mobil. Syaren meringis, menahan rasa sakit di bahunya. Joan langsung menghidupkan mesin mobilnya, dia langsung melajukan mobilnya, dengan kecepatan tinggi, menuju Rumah Sakit Wisma, milik Dimas.


Sambil menyetir, Joan menelpon orang-orang, yang bekerja di Wisma Corporation, memknta mereka untuk menyelidiki orang yang berusaha menembak Dimas sebelumnya. Akhirnya, mereka sampai di rumah sakit.


Syaren langsung di tangani tim medis. Syaren masih di tangani para petugas kesehatan di dalam ruangan itu, terlihat seorang dokter keluar dari ruangan itu. Dokter itu mendekati Dimas dan Joan.


"Lukanya tidak parah, cuma tergores peluru, pasien juga sudah membaik. Silakan jika ingin menemani pasien, dia akan dipindahkan kekamar perawatan." kata Dokter.


Dimas dan Joan segera menuju kamar yang akan di tempati Syaren. Di kamar itu, terlihat Syaren duduk memandangi perban yang melilit di bahunya.


"Kenapa kau melakukan ini!" Bentak Dimas.


Syaren terkejut, mendengar suara Dimas. "Aku tidak tahu! Apa salah, jika aku ingin melindungi suamiku?" Jawab Syaren.


Hati Dimas bergejolak, mendengar jawabn Syaren.


"Seharusnya kau biarkan aku mati, agar kau lepas dari janjimu." Dimas berusaha mengusir rasa yang timbul di hatinya.


"Aku melindungimu, karena kau suamiku!" Teriak Syaren.


"Hah suami?! Tapi aku tidak menganggapmu istriku." ucap Dimas, dengan seringai liciknya.


"Aku tidak perduli! Kau menganggapku apa, tapi pernikahan ini bukan main-main, bagaimanapun, aku sudah menjadi istrimu." ucap Syaren, dengan nada lirih.


"Istri? Menyentuhmu saja aku jijik! Aku yakin, kau mau menikah denganku hanya perlu nama dan menutupi aibmu, karena kau sudah sering bukan melakukan hal itu dengan kekasih-kekasihmu, pastinya ... kau tidak perawan lagi," Senyum Dimas begitu menyayat hati Syaren.


Air mata Syaren mengalir begitu deras, tuduhan Dimas, sungguh keterlaluan. Ada yang tercabik-cabik di dalam dada Syaren.


Syaren bangkit dari posisinya, dia berjalan mendekati Dimas, dia berdiri tegap, tepat di hadapan Dimas. kedua matanya melotot, menatap tajam pada Dimas, tapi air matanya tidak mau berhenti menetes.


"Aku tidak pernah melakukakan hal hina yang kau tuduhkan itu, aku mau menikah denganmu, karena aku tak mau menyerahkan tubuhku, tanpa dasar pernikahan. Kau sendiri yang mengancamku, jika aku menolakmu, aku bisa apa?" Lirih Syaren


"Oh ya? Tapi aku tidak percaya, jangan-jangan lelaki yang menyentuhmu sebelumnya tidak mau menikahimu, hingga kau memakai alasan ini, agar kau mendapat gelar istri," seru Dimas.


Plakkkk!!!


Tamparan keras mendarat di pipi Dimas, dari tangan Syaren. Dia tidak mampu lagi, menahan hinaan Dimas padanya.


"Berani sekali kau menamparku Bodoh!" Bentak Dimas.


"Aku memang bodoh! Seharusnya kubiarkan saja kau tadi mati!" Teriak Syaren.


"Kalau kau ingin aku percaya, kalau dirimu masih perawan, ayoo kita tes keperawanan." Tantang Dimas.


"Siapa takut!!" Sahut Syaren.


Joan menggeleng melihat Dimas. Joan menarik Dimas keluar ruangan.


"Pak, tolong jangan keterlaluan, aku khawatir, nanti anda malah jatuh cinta padanya."


"Tidak akan Jo, justru aku bahagia menjadikannya mainan, aku lelah bermain di tempat tidur langsung, dan terkulai begitu saja, itu sudah sering aku lakukan dengan banyak wanita, saatnya aku mempermainkan emosi, mental dan hati wanita, kau tahu bukan, kalau selama ini, wanita yang menjadi mainanku malah senang, ini mainan baru, dia tidak suka padaku. Mau menjadi wanitaku saja, harus dengan menikah, tapi dia juga terpaksa meminta syarat itu, bukan."

__ADS_1


"Pak, bukankah anda menginginkannya, dia sudah milik anda. Tunggu apalagi. Anda sudah tau dari awal dia perawan, masih saja anda mempermainkan perasaan dia."


"Akh, urusan tempat tidur nanti saja, setelah aku puas, aku sangat senang membuatnya seperti ini."


Joan menghela nafasnya begitu berat, dia sungguh kasihan pada Syaren. Mereka bertiga berjalan menuju laboratorium yang ada di rumah sakit itu, untuk melakukan tes keperawanan pada Syaren.


Syaren berbaring bangkar, membiarkan seorang dokter wanita wanita, yang bernama Anana memeriksa kewanitaannya. Dokter Anana selesai, dokter segera kembali ke meja kerjanya, menghampiri Joan dan Dimas.


"Dimas, aku yang bodoh, apa kau yang gila? Kenapa wanita itu masih perawan? apakah kejatananmu bermasalah? Atau tadi malam kau sudah tidak bertenaga lagi? Sehingga sampai sekarang dia masih perawan?" Kata Anana.


"Anana, aku hanya memastikan dia belum di sentuh orang," sahut Dimas, membela diri.


"Hah kau benar-benar gila, seperti nya aku akan memberinya obat penguat mental, karena serumah dengan orang gila seperti kamu," seru Anana.


"Okey, karena aku takut ketularan kegilaanmu, Dimas. Lebih baik kalian semua pergi, aku sudah bicara dengan dokter yang memeriksa Syaren, ini semua hasilnya, dia juga boleh pulang, dia sudah membaik." seru Anana.


Syaren, Joan, dan Dimas langsung meninggalkan ruangan dokter Anana, mereka segera menuju mobil mereka, untuk melanjutkan perjalanan pulang kerumah.


Dimas merasa puas dengan perkataan Anana Syaren masih perawan, ada kegembiraan di hatinya. Dimas sengaja duduk belakang, berdampingan dengan Syaren. Sedang Joan mulai melajukan mobil meninggalkan Area rumah sakit.


"Hem ... aku akan segera menyentuhmu sayang, karena kau benar masih perawan." Goda Dimas.


Dimas mulai mendekati Syaren, dia memojokkan Syaren. Syaren berusaha berontak. Syaren sangat keberatan melakukan hal intim di sekitar Joan.


"Tolong ... jangan di sini, aku malu, karena ada orang lain," lirih Syaren.


"Cuih! Malu?! Kau sudah menjadi milikku, menelanjangimu di tengah jalan pun ,kau harus mau, jika aku memnitamu!" Seru Dimas.


Dimas langsung menciumi sisi Telinga Syaren. "Malam ini, aku akan mencabik-cabik dirimu. Siapkan dirimu dan tenagamu." Bisik Dimas.


Syaren berusaha menjauh, tubuhnya sudah terpojok pada pintu mobil.


"Kau sudah menjadi milikku ingat, aku berhak berbuat apapun pada dirimu, menyakitimu, atau apapun yang aku mau," seru Dimas.


"Kenapa kau memilihku? Kenapa kau lakukan ini padaku? Apa salahku padamu?" Syaren merasa tidak punya harga diri, Dimas berbuat hal ini di mobil, sedang di mobil ini ada orang lain.


"Kenapa aku memilih kamu? Karena Aku menginginkannya, jika aku tak ingin, maka aku membuangnya, aku selalu melakukan apa yang aku inginkan." sahut Dimas santai.


"Kapan kau akan membuangku? Dan kapan kau melepaskan kakak-kakakku?" Tanya Syaren.


"Saat kau sudah tak berharga lagi bagiku. Tapi jangan mimpi! Kau bisa lepas dariku, sebelum aku yang melepaskan dirimu, tapi ... sepertinya, aku tak akan melepaskanmu," seru Dimas, sorot matanya, menatap tajam wajah Syaren.


"Apakah jika aku jadi mayat, mayatku masih berharga buatmu?" Tanya Syaren.


"Kau gila? Mana mau aku sama mayat!" Sahut Dimas.


"Oh ... aku kira kau akan menyiksa mayatku, karena kau belum puas menyiksaku, saat aku masih bernafas," lirih Syaren


Joan merasakan firasat aneh dengan perkataan Syaren. Saat ini ia melajukan mobilnya kecepatan diatas 80 KM/JAM, Joan perlahan meletakan jarinya ke tombol kontrol yang ada di sampingnya.


Bragggg!!!


Syaren membuka pintu mobil yang masih melaju, dan membiarkan tubuhnya terpental jatuh ke Aspal. Joan terlambat mengunci otomatis pintu mobil yang ia kendarai.

__ADS_1


Joan langsung menginjak pedal rem mobil yang ia kemudi.


__ADS_2