
Syaren membongkar kopernya mencari baju santainya.
"Di mana kamar mandi?" Tanya Syaren.
"Ca elah ganti baju aja mau ke kamar mandi, lihat aku, aku aja ganti baju disini." sahut Joan sambil melepas baju yang melekat pada bandannya.
"Okey ..., jangan bilang aku ****** atau penggoda, aku bosan dengar kata-kata itu."
Syaren pun melepas bajunya di depan mata Joan dengan santainya, lalu memakai baju santainya.
"Waw ..., seksi banget ternyata bundanya si kembar." Joan tergoda.
"Hah ha haaa!" Syaren tertawa palsu dan langsung keluar kamar.
"Hei mau kemana kamu?"
"Mau bantu ibu masak." sahut Syaren.
"Ngga perlu ..., ibu punya pembantu." teriak Joan namun Syaren tetap pergi ke dapur.
Ternyata si kembar juga di dapur membantu bibi Caca dan Marta di dapur.
"Wah si kembar pintar banget racik sayuran." seru Marta.
"Oh mereka sering bantuin saya bu." sahut Syaren, ia pun ikut membantu.
"Non ngga punya pembantu di rumah?" tanya Caca.
"Punya bi ..., tapi saya suka bantuin bibi masak di rumah." sahut Syaren.
Mereka pun memasak bersama, setelah selesai Syaren membantu Caca menata di meja makan.
"Panggil ayah sayang ..., ajak ayah makan siang." pinta Marta menyuruh si kembar.
Si kembar pun berlari menuju kamar Joan, setelah Joan datang mereka makan siang bersama.
Sore hari si kembar di ajak Marta jalan jalan ke taman dekat rumah nya di temani caca, hingga hanya Syaren dan Joan yg ada dirumah.
"Apa aku boleh menyentuh mu?" lirih Joan ragu ragu.
"Kapan pun kau mau, kau berhak sepenuhnya atas diriku " sahut Syaren santai.
"Apa kau siap jika malam ini aku meminta hak ku?" Tanya Joan.
"Aku tak akan menolak kapan pun kau mau, tapi aku belum beli pil KB." Sahut Syaren.
__ADS_1
"Huft ... untung kau bilang, aku pun belum siap untuk memiliki anak lagi, aku merasa cukup dengan si kembar." sahut Joan, ia pun beranjak mengambil kunci sepeda motornya dan jaketnya.
"Hei kau mau kemana?"
"Apotek ..., aku mau beli perisai buatmu." sahut Joan tersenyum nakal.
Syaren pun jadi serba salah mendengar jawaban Joan.
Makan malam ini pun sungguh hangat, Marta sangat bahagia melihat anaknya bahagia kembali.
Setelah makan malam Dona dan Dina langsung ke kamar Marta, Marta dan si kembar sangat akrab. Walaupun si kembar bukan cucu kandung nya.
Suasana tegang menyelimuti kamar Joan, Joan bingung harus mulai dari mana. Ia hanya berbaring membelakangi Syaren. Syaren pun sungguh tegang, ia juga membelakangi Joan. Malam pun berlalu tanpa saling bicara.
Jam 6 pagi Syaren sudah berkutat di dapur bersama Caca, makanan pun cepat selesai karena Caca di bantu Syaren.
"Wah.., kalau nona lama disini saya jadi senang banget!" Seru Caca.
"Kenapa Ca?" Tanya Syaren.
"Selain rumah rame, tugas saya juga enteng banget." seru Caca.
"Kamu itu, tugas kamu tetap banyak walau aku bantu." sahut Syaren.
Caca hanya tersenyum menanggapi perkataan Syaren.
"Bunda ..., oma ngajak kita jalan pagi, boleh ngga bunda?" Tanya Dina.
"Iya tentu boleh donk sayang ..., tapi jangan ngerepotin omah ya," seru Syaren.
"Iya bunda," sahut si kembar bersamaan.
"Bu saya boleh ikut ngga? Soalnya masaknya juga sudah selesai." sahut Caca.
"Boleh banget Ca ..., sekalian kamu bantu aku ngawasin si kembar." sahut Marta.
Caca pun membersihkan tangannya, lalu mereka berjalan bersama si kembar dan Marta.
"Eh ..., ibu lupa ..., kamu bisa buat kopi Ren?" Tanya Marta.
"Bisa bu." sahut Syaren.
"Nah ..., buatkan kopi buat Joan, sekaligus antar kekamar, biasanya dia ngopi pagi-pagi begini." seru Marta.
"Itu non kue kering nya dalam toples." seru Caca.
__ADS_1
"Iya bu ..., iya Caa ...," sahut Syaren.
Caca, Marta dan si kembar pun jalan-jalan menikmati udara pagi yang sejuk.
Syaren menyeduh kopi dan menatanya di nampan, diletakkannya satu toples kecil kue kering yang di tunjuk Caca sebelumnya, untuk menemani kopi. Ia pun membawa kopi itu kekamar Joan.
"Pagi .... " sapa Syaren dan tersenyum pada Joan. Ia pun menyuguhkan kopi buat Joan.
Joan duduk di sofa menerima kopi yang Syaren berikan. Setelah memberikan kopi pada Joan, Syaren pergi merapikan tempat tidur. Joan hanya fokus memandangi Syaren yang merapikan tempat tidur mereka.
"Awh uh uh ... panas!!!" Ringis Joan, karena kopi yang dia pegang habis tertupah pada dada Joan, bajunya pun terkena kopi panas yang ia pegang tadi. Joan meletakan gelas kopi kosong di meja di dekatnya, lalu mengibas-ngibas bajunya yang panas karena kopi yang tumpah.
"Maaf ..., aku lupa bilang kalau kopinya masih panas." Syaren panik melihat Joan yang kepanasan. Ia pun mendekat pada Joan.
"Bukan salahmu."
"Buka!" Pinta Syaren.
"Apa yang di buka?"
Tanpa komentar, Syaren langsung melepas kaos yang dikenakan Joan, lalu menarik Joan kekamar mandi.
"Kulitmu akan melepuh jika kau biarkan." seru Syaren sambil menyiram dada Joan dengan air yang mengalir dari shawer.
Joan menatap sayu wajah wanita yang ada di depan matanya. Darahnya terasa mendidih karena jemari Syaren.
"Apakah masih panas?" Tanya Syaren.
"Tidak ..., tapi aku dingin karena celanaku ikut basah." sahut Joan.
"Astaga! Maaf aku lupa ..., tunggu." Syaren keluar dari kamar mandi meninggalkan Joan.
Tak lama ia pun kembali membawa handuk di tangannya. Ia memberikan handuk pada Joan, lalu ia pun kembali ke kamar nya.
Joan keluar dari kamar mandi, mengenakan handuk yang melingkar di pinggulnya. "Hei apa yang kau cari?" Joan heran melihat Syaren membongkar isi tasnya.
"Oh ..., aku cari ini " Syaren memperlihatkan salap obat luka bakar.
Syaren pun mendekat pada Joan, ia langsung mengoleskan salap itu pada dada Joan yang nampak memerah karena air panas. Joan menikmati sentuhan Syaren pada dadanya, ia pun mengurung Syaren dalam pelukannya.
"Aku ingin lakukan sekarang, sudah kah kau meminum perisai mu?" Joan berbisik di telinga Syaren.
Syaren mengangguk.
Tak buang waktu, Joan pun langsung menyambar bibir wanita di hadapannya, hingga semakin larut.
__ADS_1
Orang orang di luar asyik mengisi pagi mereka dengan joging dan olah raga lainnya. Sedang Joan menikmati olah raga paginya bersama wanita yang baru ia nikahi. Ini pun pertama kali nya mereka melakukan hubungan suami istri.