
Malik segera masuk kamar Dimas. Betapa terkejutnya ia melihat foto pernikahan Dimas dan Syaren dengan ukuran besar masih terpasang di kamar Dimas.
Dalam foto itu, senyum Syaren dan senyum Dimas sungguh mempesona bagi Malik.
Dada Malik sedikit nyeri, namun ia tahan
Ia menyusuri terus memyusuri kamar Dimas.
Sangat terasa cinta Dimas pada Syaren,
Di mana-mana foto Syaren terpampang disetiap sisi kamar Dimas.
Malik menuju kamar mandi, lalu ia masuk keruang ganti, lagi-lagi ia terkejut melihat baju-baju yang di sediakan Dimas untuk Syaren dulu. Dimas sangat mempersiapkan semua buat Syaren. Eedang dirinya, tak pernah memberikan hal seperti ini pada Syaren.
Ada pikiran terlintas di otaknya, segera Malik keluar dari kamar Dimas dan menguncinya kembali. Malik kembali ke bawah, namun saat tepat di depan kamarnya ia langsung ambruk tak sadarkan diri.
"Mas Malik!!!!" Teriak Syaren.
Reina yang tadi asyik bermain, terkejut karena teriakan Syaren, dia pun menangis.
Segera Hani pengasuh Reina mengendong Reina sedang Citra dan beberapa pembantu mengangkat Malik, Citra langsung memanggil ambulan, karena tak mungkin membawa Malik dengan mobil pribadi.
Setelah ambulan datang segera Malik di bawa kerumah sakit. Syaren menemani Malik dalam ambulan bersama Citra. Sesampai di rumah sakit, Malik langsung di tangani tim medis.
******
Seminggu sudah Malik tak sadarkan diri. Dokter pun angkat tangan.
Sesekali Reyhan berkunjung, begitu juga Amel Yumna dan suami suami mereka.
"Berdo'a lah terus, semoga keajaiban terjadi.
Atau penuhi keinginan terakhirnya." seru Dokter, yang baru selesai memeriksa keadaan Malik.
Hati Syaren hancur, mendengar ucapan dokter.
***
Syaren, Citra dan Dimas, malam ini mereka jaga di rumah sakit, menemani Malik. Citra duduk di samping ranjang tempat Malik berbaring. Sambil memegang tangan anak lelakinya itu, yang tidak kunjung membuka matanya.
"Sayang ... mama ngga sanggup lihat kamu begini, sadarlah sayang, kasian istri dan anakmu, kalau kamu memang ngga kuat kami ihklas sayang." pekik Citra.
Hati Syaren semakin Remuk mendengar kata-kata Citra, namun Citra benar, mereka tak boleh egois. Semakin lama Malik hidup seperti ini, hanya semakin menambah penderitaannya.
"Sayang ... jika ada permintaan terakhirmu, katakanlah ... biar kami mewujudkannya." ringis Citra.
Langsung saja nafas Malik menguat, bunyi pada alat pun kian nyaring. Malik mulai membuka matanya. Segera Syaren dan Dimas berlari menuju Malik yang mulai sadar.
__ADS_1
Dimas mengganti selang oksigen Malik dengan oksigen yang menempel di hidung.
Malik pun berusaha bicara, namun masih tak mampu.
"Syar--en ...." lirih Malik.
"Iya mas ...." sahut Syaren, dia menggenggam tangan kanan Malik
"Did--Dimas ...." ringis Malik. Malik berusaha meraih tangan Dimas. Dimas mengerti maksud malik, dia menggenggam tangan kiri Malik. Malik menyatukan tangan Dimas dan Syaren di tangannya.
"Apa kamu ingin Dimas dan Syaren menikah?" Tanya Citra.
Malik tersenyum lebar, dan berusaha mengangguk.
"Tidak!" Teriak Syaren.
Syaren langsung melepaskan tangannya. Dia pergi dari ruangan itu, dan pulang kerumah. Sedang Malik kembali tak sadarkan diri.
******
Sebulan sudah semua ini berlalu, Malik masih tak sadar diri. Syaren menatap lekat Suaminya yang tidak sadarkan diri itu.
"Jika ada keinginan terakhirnya, lebih baik wujudkan agar dia pergi dengan tenang." seru dokter.
"Syaren, kamu ngga kasian sama Malik?" Teriak Citra.
"Dia yang ngga kasian sama aku!" Teriak Syaren.
"Tolong Syaren, penuhi keinginan terakhir Malik ... agar ia tenang. Demi Malik, demi Mama, demi Reina yang butuh ayah." ringis Citra.
"Mama ... aku mohon bangun Mah ...." pinta Syaren.
"Mama ngga sanggup Syaren, melihat anak mama menderita lebih lama." ringis Citra.
"Baik mah! Aku bersedia menikah dengan Dimas, sehabis Iddahku selesai." sahut Syaren.
Bunyi mesin kembali mengeras.
Tut! tutt! tutt!
Angka pada layar monitor pun mulai bergerak.
Citra langsung memanggil Dimas. sekitar lima menit Dimas sudah datang. Citra, Dimas, dan Syaren berdiri di sisi kanan Malik. Citra menyatukan tangan Syaren dan Dimas di tangan Malik.
"Mamah janji! mama akan menikahkan mereka sayang." ucap Citra.
Bagaikan makan cabe yang langsung pedas bunyi mesin monitor pun terdengar nyaring. Teettttttttttttttttttt!!!
__ADS_1
Terlihat garis lurus di layar monitor itu.
Perawat langsung berlarian, untuk memeriksa pasien.
Tepat jam 8 pagi Malik meninggal.
Citra merasa sedikit lega, dapat memenuhi ke inginan putranya, Namun tangis Syaren pecah. Dia menangis begitu histeris. Sangat terpaksa Dimas memeluk Syaren untuk menguatkan Syaren. Namun tetap saja Syaren menangis.
"Tumpahkan saja sayang ...." seru Citra, sambil membelai rambut Syaren.
Para perawat mengurus jenadzah Malik.
Satu jam kemudian jenazdah Malik sudah di bawa pulang, dan di semayamkan di rumah duka, Syaren tak ikut pulang karena ia harus dirawat di rumah sakit, karena keadaanya yang begitu lemah. Dimas meminta Syaren di ikat, khawatir Syaren akan bunuh diri lagi.
Jam 4 sore pemakaman Malik selesai.
Dimas mengendong Reina.
"Hai manis, om janji, om akan jadi ayah yang baik untuk kamu." lirih Dimas.
Setelah selesai pengajian, Dimas menceritakan keinginan terakhir Malik, pada Reyhan. Reyhan pun tak masalah, karena tak mudah mengurus bayi sendirian.
Setelah satu minggu di rawat Syaren nampak pulih kembali. Citra selalu berusaha menghiburnya, namun nihil, Syaren hidup, namun jiwanya ikut mati bersama Malik.
Dimas meminta para pelayan membersihkan kamarnya dari foto-foto Syaren yang menghasi kamarnya. Sekejap semua foto-foto itu berpindah ke gudang.
Dia tidak mau Syaren tahu, kalau dia merasa bahagia atas pernikahan mereka nanti.
****
Akhirnya Aira melahirkan bayi laki-laki.
Syaren hanya diam, ia tak bicara sedikitpun.
Walau saudara-saudranya berusaha mengajaknya bicara. Syaren bagai mayat hidup yang berjalan. Ia pun tak pisah dari obat-obatan, karena Depresinya begitu berat. Itulah yang dikatakan dokter.
Kehamilan Yumna dan Amel pun membuat kebahagiaan kembali terasa, namun duka Syaren masih saja bersama dirinya.
Citra membawa Syaren perawatan ke salon, memang Syaren menurut namun tetap saja dia hanya diam. Citra juga membawa Syaren untuk perawatan kewanitaannya. Citra kosultasi dengan dokter, bertanya tentang, berapa lama waktu pemulihan untuk penanaman selaput Dara. Dokter menjelaskan minimal 6 sampai dengan 8 minggu.
Citra meminta dokter agar menanam selaput dara buatan di kewanitaan Syaren. Ia kasian dengan Dimas, jika malam pertama mereka nanti dengan Syaren. Syaren tetap diam. Dia tak perduli dengan tindakan yang terjadi pada dirinya.
****
Selama 5 bulan ini Syaren selalu di bawa Citra merawat kewanitaan dan tubuhnya. Tapi membahas Syaren, dia tak bergeming, bagai robot yang mematuhi ucapan Citra.
Sedang Dimas semakin dekat dengan Reina, Reina yang sudah berumur lebih satu tahun pun sudah mulai bisa belajar bicara.
__ADS_1
Reina selalu memanggil Dimas "papa" Dimas sangat bahagia, mendengar kata itu terlepas dari mulut mungil Reina.
Tidak terasa, waktu pernikahan Syaren dan Dimas pun semakin dekat. Pernikahan akan di laksanakan di KUA.