
Tiga hari sudah Jamal menjalani perawatan di rumah sakit, Dina senantiasa setia menungguinya, siang dan malam. Tidak pernah beranjak dari sisi Jamal. Malam ini semua orang berkumpul di ruang perawatan Jamal.
"Bagaimana resepsi nanti, apa perlu kita batalkan?" Tanya Gita.
"Gak bisa di batalin mah, ganti aja pengantinnya, gak mungkin Jamal dan Dina mengadakan resepsi, lihat kondisi Jamal, kalau mau sih akad nikahnya saja dulu" seru Gusti.
Semua mata memandang ke arah Nathan dan Nara.
"Dengan senang hati aku menggantikannya," seru Nathan. Dia mengerti dengan sorotan mata yang memandang kearahnya.
"Dengan Syarat, sebar undangan baru," rengek Nara.
"Seminggu lagi lho, apa sempat?" Tanya Gusti.
"Kenapa tidak buat spanduk besar saja, pajang di depan gedung, inti tulisan nya pernikahan Jamal dan Dina digantikan oleh pernikahan adik Jamal Nara dan Nathan," seru Dona.
"Itu lebih efesien sih," seru Nathan.
"Iya sih, ya sudah aku kabari teman-teman dekatku dulu ya," seru Nara.
"Aku juga," kata Nathan.
__ADS_1
Nathan dan Nara pergi dari ruangan itu.
"Bagaimana Jamal dan Dina?" Tanya Joan.
"Batalkan saja pernikahanku dengan Dina, aku tidak mau jadi beban buat Dina, kasihan Dina nantinya dia pasti malu mempunyai suami cacat sepertiku," seru Jamal.
"Terima kasih sudah menalakku lebih dulu sebelum kamu nikahi," seru Dina. Dina sangat marah dengan perkataan Jamal barusan, dia pergi meninggalkan ruangan itu tanpa pamit.
"Kamu kenapa bicara gitu? Dina pasti sakit hati," rengek Gita.
"Kamu meragukan Dina, sepertinya ini teguran dari Tuhan agar kami pikir-pikir lagi untuk menikahkan Dina dengan kamu, kamu tahu? Cinta Dina tulus, dia tidak perduli apapun keadaanmu, 3 hari ini dia selalu setia menjagamu, dengan ucapanmu barusan, kamu menoreh luka di hati anak kami, bunda ... mari kita pulang, hati ayah juga perih bunda," seru Joan.
"Nathan dan Nara silahkan lanjutkan, Dina dan Jamal aku ragu, lihat saja nanti," seru Joan.
Joan dan Syaren langsung pergi, di ikuti Dona dan Tama.
"Rasain kamu Jamal, kamu sudah lihat bukan bagaimana Dina setia menjaga kamu di sini, kamu bicara gak di saring dan gak di pikir-pikir dulu," bentak Gita.
Jamal merasa sesak setelah dia mencerna kata-kata yang dia ucapkan sebelumnya.
"Bagaimana dong ma?" Rengek Jamal.
__ADS_1
"Tidak tahu, sepertinya Dina sangat terluka karena kata-katamu itu, kamu seenaknya menuduh orang, Dina juga tahu kalau kamu tidak cacat permanen, sia-sia Dina berjuang menjaga kamu di sini" kata Gita.
"Kata-katamu terlalu Jamal, kamu bilang Dina malu punya suami cacat, cacatmu sementara, Dina perawat! Dia tahu hal itu," seru Gusti kesal.
*********
Nara dan Nathan sibuk mempersiapkan pernikahan dadakan mereka, tadi pagi Nathan dan Nara melakukan ijab kabul di KUA, untuk mempermudah urusan lainnya. Persiapan pernikahan terus berlanjut.
Sejak kejadian malam itu tidak pernah Dina menampakan batang hidungnya. Membuat Jamal semakin sedih.
Malam ini acara resepsi pernikahan Nara dan Nathan. Semua tamu undangan yang tidak tahu kabar pembatalan pernikahan dibuat kaget melihat spanduk ukuran besar di depan gedung tempat acara berlangsung. Terpampang foto Nathan dan Nara. Namun pernikahan tetap berjalan lancar.
Di acara resepsi pernikahan adiknya Dina juga tidak terlihat, membuat Jamal semakin sedih, tadinya dia berharap bertemu Dina di acara ini.
"Dina mana Don?" Tanya Jamal.
Dona menggeleng, "Aku tidak pernah bertemu dengan Dina sejak malam itu," jawab Dona.
"Maaf ya Tama, harusnya kamu menggandeng tangan istrimu, sekarang kamu malah mendorong kursi rodaku," lirih Jamal.
Mereka menikmati acara resepsi yang berlangsung malam ini. Teman-teman Jamal baru mengerti kenapa pernikahan Jamal batal saat melihat Jamal duduk kursi roda.
__ADS_1