Menua Bersama

Menua Bersama
Bab 11. Sakit Hati Yumna


__ADS_3

Yumna melajukan mobilnya menyusuri jalan raya, matanya terus mengeluarkan air mata, ia tidak bisa berhenti menangis, saat mengetahui orang yang ia cintai selama ini mencintai Syaren, adiknya. Tanpa dia sadari, mereka saling mencintai. Ia sungguh tak bisa menerima hubungan Syaren dan Andrey. Apalagi cintanya di tolak, hanya karena alasan Andrey tak bisa mencintainya.


Air matanya tak mau berhenti keluar, sejak ia menghidupkan mesin di area kantor tadi. Hatinya sangat sesak, sakit, perih, dan hancur.


kebenciannya pada Syaren semakin menjadi.


Yumna menepikan mobilnya, ia meraih ponselnya, dia langsung menelpon temannya, Edo, Edo bekerja di bar, di salah satu club malam, yang ada di kotanya.


"Do ... bisakan aku jadi pelangganmu siang ini? " Tanya Yumna.


"Kau gila Yumna? Mana pernah kau minum!" Sahut Edo


"Do ... aku butuh keberanian Do, aku butuh semangat Do, pleas, bantu aku."


"ini baru jam tiga Yumna! Bar tempatku bekerja baru buka jam 9 malam."


"Do, pleas ... tolong Do ...." Yumna memohon.


"Hem, baiklah ... aku akan memberimu pelayanan special, datanglah ...." sahut Edo.


"Thanks Do, bye ...." Yumna langsung memutuskan panggilannya, dan mulai melajukan mobilnya menuju club, tempat Edo bekerja.


*****


Edo menunggu kedatangan Yunna di depan pintu masuk, Edo sangat kaget, melihat penampilan Yumna. "Ya ampun Yumna! Kau kacau sekali!"


Yumna hanya terus menangis.


"Baiklah, aku mengerti, ayoo masuk," ajak Edo


Edo mengajak Yumna masuk kedalam, Yumna duduk di bar, sedang Edo tengah meracik minuman untuk Yumna.


Yumna meraih sesuatu dalam tasnya. "Do, nanti kalau aku mabuk, tolong serahkan sisanya ke orang yang mau mengantarku atau menjagaku," Yumna menyerahkan uang pada Edo.


"Okey, itu bisa di atur." Edo terus melanjutkan tugasnya, sedang Yumna menonton apa yang Edo lakukan.


Edo menyuguhi Yumna minuman hasil racikannya. "Tiga gelas kau teler, dua gelas kau melayang, kalau hanya satu gelas, kau meracau tidak karuan."


Yumna langsung meraih satu gelas minuman itu, dia perlahan meminumnya, namun baru satu tegukan, tenggorokannya panas, serasa terbakar.


"Akh ...." pekik Yumna, dia tidak tahan dengan reaksi dari minuman itu pada tenggorokannya.


Edo menggeleng melihat reaksi Yumna. "Meneguknya sambil membayangkan rasa sakitmu." seru Edo.


Yumna membayangkan kembali kebahagiaan Andrey dan Syaren, hatinya kembali berkecamuk. Ia meraih gelas tadi, ia langsung menenggak minuman itu, hingga habis 1 gelas, ia meraih kembali, gelas baru, namun baru setengah gelas ia minum, Yumna sudah menyerah. Ia meletakan gelas itu kembali. Tidak lama kemudian, Yumna tak sadarkan diri.


Edo langsung membawa Yumna kekamar yang memang disewakan oleh di club itu, Edo membayar sewa kamar itu, dengan uang yang Yumna tadi, dan juga membayar dua orang untuk menjaga Yumna, agar dia tidak dimanfaatkan orang lain.


Yumna orang yang berjasa bagi Edo, Yumna membantu biaya operasi Ibunya melahirkan dulu, sejak itu ia akrab dengan Yumna.


****


Andrey menemui Reyhan di perkebunan, menceritakan kejadian dirinya dengan Yumna, saat di kantor tadi.


"Maafkan aku Rey, aku tidak pernah mendekati Yumna sebelumnya, Aku hanya mencintai Syaren, aku sama sekali tidak berniat menyakiti Yumna. Rey ... perasaan Yumna padaku, aku benar-benar tidak tahu, dari dulu aku hanya mencintai Syaren."


"Sudahlah, kamu yang tenang, masalah Yumna, biar aku yang urus, aku yakin, dia akan baik-baik saja, ia sudah dewasa Ndrey."


"Makasih banget Rey, aku pamit." Andrey segera pergi dari perkebunan Reyhan.


****


Di rumah Reyhan.

__ADS_1


Syaren gelisah, ia tak bisa makan, hatinya sungguh tidak tenang. Sudah pukul 9 malam, tapi Yumna belum juga kembali. Ia sangat cemas, tak seperti biasanya Yumna seperti ini. Biasanya Yumna sudah pulang sebelum jam 9 malam.


Berulang kali Syaren menelpon Yumna, namun tidak di angkat oleh Yumna. Syaren langsung mengabari Reyhan, mengabarkan kalau Yumna belum kembali.


Mengetahui Yumna belum pulang, Reyhan segera menyelesaikan pekerjaan, dan langsung pulang kerumah.


***


Di Club malam.


Yumna perlahan sadar dari mabuknya, ia berusaha bangkit dari tempat tidurnya, ia berjalan kembali menuju bar Edo.


"Do, aku minta satu gelas lagi." Pinta Yumna.


Edo memandangi Yumna. "Yakin?"


"Yakin banget!!" Sahut Yumna.


Selesai mengegak minumannya, Yumna memberikan uang yang lumayan banyak pada Edo.


"Nggak usah Yumna." Edo menolak.


"Ini ungkapan terima kasihku, tolong terima" pinta Yumna. Yumna langsung pergi dari club malam itu.


Yumna agak kesulitan melihat jalanan, karena ia sedikit mabuk, perjuangannya, akhirnya ia sampai kerumahnya. Yumna mendengus kesal, saat melihat Syaren berada di teras rumah, berdiri menantinya. Yumna segera turun dari mobilnya.


Melihat Yumna datang, Syaren sungguh lega, dia langsung menyambut Yumna. "Kakak ... kakak dari mana? Aku sangat khawatir ...." Syaren mendekati, ingin memeluk Yumna.


Yumna langsung menepis tangan Syaren. "Huhh!!!" Sungutnya, Yumna berlalu begitu saja, dia segera masuk kedalam rumah.


Syaren langsung mengejar Yumna. "Kakak ... kenapa kakak begini?" Syaren sedih melihat penampilan Yumna.


"Memangnya aku harus tampil seperti kamu jal*ng!!" Teriak Yumna.


Syaren terperanjat, dia kaget dengan teriakan Yumna.


"Apa salah aku kak??" Syaren menangis.


"Hey Jal*ng! Air matamu enggak mempan padaku!!" Teriak Yumna kembali.


"Kakak ... kakak, apa salahku?" Suara Syaren tertahan, karena isakan tangisnya.


Yumna menjambak rambut Syaren.


"Ahkwhhhh!!! Sakit Kakak," Syaren meringis kesakitan.


Melihat hal itu, Ainah dan Anik mendekat.


"Hei babu!! Kalian jangan ikut campur!!" Teriak Yumna.


Langkah Anik dan Ainah terhenti seketika, hati mereka terasa sangat sakit, mendengar kata-kata Yumna. Mereka mundur perlahan. Menyadari status mereka hanya pembantu di rumah ini.


Yumna terus memaki-maki Syaren. Mulutnya tak berhenti melontarkan hinaan pada Syaren. Sedang tangan terus masih menjambak rambut Syaren.


"Kenapa!! Kenapa kamu selalu lebih dari aku! Kamu itu seperti pencuri! Pel*cur! Kehadiran kamu di dunia ini, suatu kesalah terbesar!" Teriak Yumna.


Syaren terus menangis, hatinya sangat sakit melihat Yumna sekacau ini, juga terus memaki-maki diriya.


"Apa kamu menyerahkan keperawanan kamu buat Andrey? Hingga dia tergila-gila sama kamu?"


"Dasar p*lacur cilik!! Cup cup cup! manisnya ... kamu itu lebih dari segalanya dari aku! Kenapa kau masih merenggut cintaku! Kamu j*lang! Kamu munafik! kamu---" Yumna terus melontarkan kata-kata kasar pada Syaren.


***

__ADS_1


Di luar rumah, mobil Reyhan sudah masuk halaman. Ia tersenyum, saat melihat mobil Yumna sudah di halaman. Reyhan langsung masuk kedalam rumah


Langkahnya terhenti, ia memamtung berdiri di tengah pintu, perasaannya sangat sakit, melihat Yumna menjambak rambut Syaren. Makian Yumna juga sangat kasar.


Syaren terus menangis, dia baru sadar, kalau Yumna mencintai Andrey. "Aku akan mundur, jika kakak mencintai kak Andrey."


"Kau kira aku sampah?! Sehingga aku harus memungut, sesuatu yang sudah kau buang!"


Yumna melepaskan jambakannya, dia mulai mengangkat tangannya untuk menampar adiknya itu.


"Yumna cukup!!!" Teriak Reyhan.


Yumna terkejut melihat kedatangan Reyhan. dia langsung mendorong Syaren.


Reyhan segera membantu Syaren berdiri. Ia memeluk Syaren yang terus menangis.


"Ratu drama memulai aksinya," Yumna tersenyum sinis memandangi Syaren.


"Yumna cukup," ucap Reyhan lirih.


Yumna tersenyum kecut, dia langsung pergi kekamarnya, terdengar suara bantingan pintu yang cukup keras.


Syaren berusaha mengontrol dirinya. Dia berjalan menghampiri Anik dan Ainah yang masih menangis, mereka berdua berpelukan.


Syaren langsung memeluk mereka berdua.


"Bi Anik, bi Ainah, maafin ka Yumna, kak Yumna cuma sakit hati bi, Syaren mohon ...."


Syaren berlutut pada Anik dan Ainah. "Syaren mohon maafin ka Yumna ...." pekiknya.


"Non, jangan gini non, bibi mohon ...." Anik dan Ainah berusaha membantu Syaren untuk berdiri.


"Kita maafin non Yumna, kok non. Kita nangis, karena ngga tega lihat saudara berantem," Anik memeluk Syaren.


"Iya non, kita maafin, kita faham," Ainah mengusap punggung Syaren.


Syaren mulai berhenti menangis, Anik dan Ainah segera mengantar Syaren ke kamarnya, mereka sangat kasian dengan Syaren, perlakuan Yumna padanya sungguh kelewatan.


Reyhan sangat terpukul, melihat pertengkaran kedua adiknya. Apalagi Yumna yang berani main kasar pada Syaren.


Anik dan Ainah kembali mendekati Reyhan. Mereka sedih, melihat wajah Reyhan yang nampak sangat terpukul.


"Tuan ... lebih baik tuan segera tidur, pertengkaran kakak adik mah biasanya cuma sebentar, mungkin besok mereka sudah baikan," Anik menyemangati Reyhan.


"Iya bi ... makasih ...." Reyhan langsung memeluk Anik dan Ainah.


"Bi ... kalian adalah orangtua kami, terima kasih bi, sudah menjaga kami selama ini," Reyhan menangis dalam pelukan bi Anik. Ainah juga menagis melihat hal ini.


"Sudah tuan, sudah ..., oh ya, tuan mau makan?" Tanya Ainah.


"Nggak bi, saya sudah makan di luar, selamat malam bi," sahut Reyhan.


Yumna di kamarnya, dia merasa lepas, dengan mudahnya dia tertidur.


Syaren terus menangis, hatinya sangat sedih dan sakit, melihat keadaan Yumna, juga sangat sakit saat menyadari, sebab kesedihan Yumna, Yumna sakit hati karena dirinya. Syaren meraih ponsel, ia langsung menelpon Andrey.


"Kak ... selamat malam ....." lirih Syaren


"Malam sayang ....." sahut Andrey.


"Tumben kamu nelpon kakak, kamu kangen ya? Tenang, sebentar lagi kita akan satu rumah, aku sudah---"


"Kita udahan kak, aku ngga sanggup membangun kebahagiaan di atas rasa sakit kak Yumna, selamat malam." Syaren langsung memotong perkataan Andrey.

__ADS_1


Syaren memutus telepon sepihak, ia langsung mematikan ponselnya.


"Kenapa sesakit ini? Aku mencintai kak Andrey, aku memutuskan semua hubungan yang aku jalin, hanya demi kak Andrey. Tapi kak Yumna juga mencintai kak Andrey." Syaren menangis sepanjang malam.


__ADS_2