
Bbeberapa urusan selesai, hanya satu yang masih Joan pikirkan, yaitu Dimas. Joan sangat ingat, kalau Dimas menginginkan si kembar, jika Dimas mengetahui si kembar anaknya, Dimas pasti berusaha merebut si kembar dari Syaren. Kembali pada Syaren itu tidak ia khawatirkan, karena Dimas tidak mungkin menyakiti Mey, tapi untuk si kembar, Dimas pasti melakukan berbagai cara, terlebih, Mey juga menyukai si kembar
Joan mendapatkan ide. Dia langsung menelpon Dimas. Joan menawarkan sesuatu pada Dimas, namun hal itu ia kabulkan, jika Dimas setuju syarat ajukan. Obrolan panjang lebar, Dimas pun setuju dengan persyaratan dari Joan.
"Baiklah Dimas, nanti aku akan datang kekota kamu untuk menyelesaikan masalah ini." seru Joan.
"Iya Jo, aku tunggu kedatanganmu." seru Dimas.
Obrolan panjang lebar mereka pun ber akhir. Joan sangat lega dengan rencananya, dia tidak mau kebahagiaan Syaren terusik karena gugatan Dimas di masa depan karena menginginkan si kembar. Joan pun dengan nyaman memejamkan matanya, menunggu waktu besok, untuk menyampaikan hasil obrolannya dengan Dimas barusan.
*****
Keesokan harinya.
Joan pagi-pagi buta datang kerumah Syaren.
"Syaren! Kamu harus segera menikah, tadi malam aku bicara sama Dimas, dia akan ambil anak kamu, jika kamu masih sendiri." Kata Joan dengan nafas ngos-ngosan.
"Kamu cerita tentang kami?" Syaren nampak kecewa.
"Tidak ..., aku hanya bertanya padanya. Seandainya Dimas bertemu kalian, apa yang akan dia lakukan, dia jawab, selama kamu masih sendiri, dia akan ambil anakmu."
"Terima kasih, karena kamu tak memberitahu Dimas tentang kami," Syaren sedikit lega, walau hatinya masih takut.
"Kamu mau kemana?" Joan heran dengan penampilan rapi Syraren.
__ADS_1
"Aku bekerja di perusahaan Abadi Karya Sejahtera,"
"Apa? Sejak kapan kamu bekerja di sana?"
"Sudah dua tahun," jawab Syaren.
"Baiklah...., selamat bekerja, aku pamit pulang,"
"Iya, terima kasih Joan."
Joan pun pergi dari rumah Syaren.
Di kantor ....
Syaren tengah Asyik bekerja bersama rekan rekannya.
"Apa saya membuat kesalahan pak?" Tanya Syaren.
"Aku tidak tahu, kalau kau terlambat datang keruangannya, maka ini kesalahan kamu."
Syaren pun langsung permisi dari semuanya, dia segera berlari menuju ruangan Direktur utama tempatnya bekerja.
"Maaf, kata pak Robi, pak Direktur memanggil saya," kata Syaren pada sekretaris Direkturnya.
"Iya, silahkan masuk, bapak sudah memunggu anda."
__ADS_1
Syaren pun masuk keruang kerja Direktur utama.
Tok tok!
"Selamat pagi pak, kata pak Robi anda memanggil saya."
"Selamat datang Syaren, maaf, selama dua tahun kau di sini, aku tak pernah tahu." lirih Joan.
"Astaga ... Joan? Kau?" Syaren kaget, ternyata Joan adalah Manajer tempat dia bekerja, dia hanya tau Joan seorang karyawan di kantor yang dia datangi sebelumnya.
"Sepertinya ini hari ter akhir kamu bekerja, karena aku ingin istriku fokus dengan urusan keluarga." seru Joan.
"Baiklah, hari ini hari terakhirku di sini ya?" Tanya Syaren.
"Tentu saja," jawab Joan.
"Pak Joan, boleh aku lanjutkan pekerjaanku? sekalian aku ingin pamit pada rekan-rekanku."
Joan tertawa mendengar perkataan Syaren barusan.
"Hidup ini lucu, kemaren aku memanggilmu dengan panggilan nona, sekarang ... kau memanggil ku Pak, sebentar lagi kau akan ...." Jaon tidak meneruskan ucapannya. Dia dan Syaren sama-sama tersenyum.
"Silahkan lanjutkan pekerjaan anda Syaren."
Syaren tersenyum lalu pergi dari ruangan Joan.
__ADS_1
*****