
Persiapan 3 bulan ini akhirnya Zay dan Tria menikah hari ini. Akad pagi ini di adakan di hotel tempat Resepsi nanti malam akan berlangsung, namun akad nikah pagi ini hanya akan di hadiri kedua belah pihak keluarga besar saja.
Dengan lantang dan lancar Zay mengucapkan ijab kabul, membuat semua orang terharu. Kini Zay dan Tria sungkeman pada keluarga Tria terlebih dahulu. Selesai pada keluarga Tria kini Zay dan istri sungkeman pada Syaren dan Joan.
"Kamu sekarang punya tanggung jawab sayang, jaga dan sayangi selalu istrimu," seru Syaren memeluk Zay.
"Terima kasih bunda, andai omah masih hidup, pasti dia orang yang paling bahagia," lirih Zay.
"Tria, nanti bunda kasih kamu kado, kamu mau sapu apa kemoceng?" Tanya Syaren.
"Bunda, aku sudah siapkan rumah dan ART nya, tidak ku biarkan tangan halus Tria melakukan tugas itu," seru Zay.
"Siapa bilang bunda mau nyuruh Tria bersih-bersih, bunda mau kasih kado itu buat mukul kamu, kalau kamu bandel!" Seru Syaren.
"Alamak ...!" Seru Zay.
"Bunda ... boleh keduanya?" Tanya Tria.
"Boleh banget sayang, nanti bunda belikan dua lusin sekalian, kalau patah kamu masih punya cadangan, kalau stok menipis kabari bunda sayang," seru Syaren.
"Jadi ayah selama ini jadi suami siaga, karena takut sapu sama kemoceng bunda?" Tanya Zay.
"Hem itu rahasia," seru Syaren.
"Sayang ... gak usah terima kado dari bunda ya," Zay membujuk Tria.
"Bunda ... kemocengnya lima lusin ya," seru Tria.
"Ya ampun sayang ... kita belum apa-apa kamu mau main zdalim sama aku," rengek Zay.
"Bunda ... boleh request tambahan raket nyamuk?" Tanya Tria.
"Boleh sayang, kamu pinter bunda akan belikan, hukum dia sesuai kadar kesalahannya, ya sayang," seru Syaren.
__ADS_1
"Ayah ... emang bunda waktu muda ekstrim begini ya?" Tanya Zay.
"Bunda nikah sama ayah udah tua, mana ayah tau bunda mudanya gimana," seru Joan.
Acara akad nikah kini selesai, semua orang istirahat di kamar masing-masing, kecuali pengantin baru yang tidak mau membuang kesempatan mereka untuk melakukan ke inginan mereka karena sudah halal.
Zay di buat kesal, karena adik-adiknya selalu iseng menelponnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu dia jawab.
Zay mendalami tugasnya, lagi-lagi gangguan datang, kali ini Dona yang menelpon.
Zay mengangkat panggilan dari Dona, dengan wajah kesalnya, karena aktivitas malam pertamanya diganggu adik-adiknya lewat panggilan telepon. "Dona, kalian juga sudah besar, aku akan balas perbuatan kalian ini jika kalian menikah nanti," bentak Zay kesal.
Dona yang berkumpul dengan kedua saudaranya tertawa mengakak karena ucapan kakanya, Zay barusan.
"Okey sekarang giliran aku" seru Nathan.
Nathan menelpon Zay.
"Yah ... ponselnya di matikan," rengek Nathan.
"Siapa yang punya?" Tanya Dona.
"Ayah punya, bentar aku nelpon ayah," seru Dina.
****
"Ayah ... boleh minta nomer ponselnya kak Tria?" Tanya Dina.
"Buat apa? Heem, kalian pasti mau gangguin kakak ya, jangan sayang dosa!!!" Seru Joan.
Telepon dimatikan Joan.
****
__ADS_1
"Gimana? Dapat?" Tanya Dona.
"Iih ... jangankan dapat, di ceramahin iya," rengek Dina.
"Kita istirahat aja, aku capek," seru Nathan.
"Iya, yuk masuk habitat masing-masing," seru Donna.
***
Acara resepsi pernikahan Zay dan Tria berlangsung mewah, semua pegawai kantor takjub melihat bos besar mereka duduk di tempat orang tua mempelai, karena mereka masih belum tahu siapa Zay.
Dimas datang sendirian ke acara resepsi pernikahan anak pertama Joan, dia di buat iri, karena Syaren memiliki empat anak, sedang dia dan Mey hanya mampu punya satu anak.
"Terima kasih papa sudah bersedia hadir," sapa Dina.
"Papa sama siapa?" Tanya Dona.
"Papa sendirian sayang," jawab Dimas.
"Papa tidak sendirian, kami akan jadi pendamping papa," seru Dina.
Dimas sangat bahagia, ternyata anak-anaknya menyambutnya sehangat ini. Dimas tidak merasa sendirian karena di apit kedua putri kembarnya.
Sebelum pulang Dimas berpamitan pada Joan dan Syaren, tidak bisa di pungkiri Dimas masih mencintai Syaren.
"Terima kasih Dimas sudah datang," seru Joan.
"Papa mau pulang sekarang apa menginap?" Tanya Dina.
"Papa pulang malam ini sayang," jawab Dimas.
"Anak-anak, antar papa kalian ke bandara," pinta Joan.
__ADS_1
Dina dan Dona meninggalkan acara yang masih berlangsung untuk mengantar Dimas ke bandara.