
Sejak usia Reina 4 bulan. Kesehatan Malik terus menurun. Hingga Syaren fokus merawat Malik dan melupakan Reina. Citra menyewa babysitter untuk merawat Reina.
Cinta Syaren pada Malik begitu besar, hingga Syaren sangat takut Malik kenapa-napa. Dia pusatkan seluruh perhatiannya pada Suaminya. Ia selalu siaga di samping Malik. Rasa ketakutannya yang terlalu besar itu, membuat Syaren sangat mudah depresi.
Syaren sedang menyuapi Malik sarapan, Malik tengah duduk di kursi roda, Syaren menyuapi Malik dengan hati-hati. Syaren duduk di sofa tamu dan Malik menghadap ke arahnya. Di pandangi Malik wanita yang penuh cinta, yang melayaninya dan menyuapinya makan.
Malik tersenyum, tapi air matanya juga menetes.
"Ayah ... ayah ngga boleh sedih," Syaren mengusap air mata Malik, dengan tissue yang ada di sampingnya.
"Ayah tidak sedih, ayah bahagiaaa banget! Punya istri yang sangat cantik, dan penuh kasih sayang, seperti mama." seru Malik.
Joan berlalu di hadapan mereka, dia hanya menyapa Syaren dan Malik, dia terus melangkahkan kakinya, naik ke atas menuju ruang kerja Dimas, karena di atas ruang kerja Dimas.
Kesehatan Malik memang sangat menurun satu bulan terakhir ini. Membuat Malik merasa, kalau waktunya tidak lama lagi.
"Mah ... mama harus janji, mama harus menjadi mama dan wanita yang kuat, jika ayah sudah tidak ada." lirih Malik
Glekkkk!!!
Syaren tertegun. "Apa maksud ayah?" Tanya Syaren.
"Ayah merasa, semakin tidak berdaya, sepertinya, waktu ayah semakin sedikit." lirih Malik.
Prang!!!
Mangkok bubur yang di pegang Syaren jatuh, dan pecah. Isinya pun tumpah di lantai.
Syaren menangis.
"Ma, mama harus siap! Suatu saat, pasti hal itu terjadi, karena ini sudah nasib ayah." ucap Malik memegangi dada kirinya.
Di saat yang sama, Dimas dan Joan menuruni tangga, sekilas mereka berdua mendengar bunyi pecahan dari bawah.
Syaren berdiri lalu berlari menaiki tangga. Membuat Malik kaget, dan langsung berteriak. "Dimas ... tolong kejar Syaren!" Teriak Malik, namun terdengar lemah.
Dimas dan Joan langsung berlari mengejar Syaren.
Malik meminta tolong pembantu untuk membawanya ke taman. Pembantu pun langsung mendorong kursi roda Malik menuju taman.
Citra juga keluar, sambil mengendong Reina di ikuti pengasuhnya Hani. Karena samar mendengar suara teriakan Malik.
"Ada apa bi?" Tanya Citra pada pembantu yang membersihkan bubur dan pecahan kaca yang berserakan di lantai.
"Ngga tau nyah, tuan Malik keluar di bantu asisten lain, sedang non Syaren lari ke atas di kejar tuan Dimas dan tuan Joan." sahut pembantu.
Mendengar keributan dari arah luar Citra langsung berlari keluar, sedang Reina ia berikan pada pengasuhnya.
*****
Di atas rumah Dimas.
"Kak Dimas jangan mendekat!" Teriak Syaren. Dia berdiri tepat di sisi pagar pembatas lantai tiga, rumah Dimas.
Terpaksa Dimas dan Joan bertahan, jaraknya hanya beberapa meter dari Syaren.
"Syaren! Kamu jangan nekat! Pikirkan anakmu dan suami mu. Syaren! Tuhan benci dengan orang bunuh diri, Syaren!" seru Dimas.
"Tuhan mau ambil suamiku! Tuhan ingin membawa cintaku mati! Kenapa aku tak boleh mati!" Teriak Syaren.
"Syaren, Pikirkan Reina ...." lirih Dimas.
"Aku yatim piatu, aku hidup dengan cinta, anakku juga pasti mendapat cinta dari siapapun, sekalipun aku tidak ada!" Teriak Syaren.
__ADS_1
Syaren memandangi Malik yang ada di bawah sana. "Kalau mas mau ninggalin aku lebih dulu! Aku yang bakal ninggalin mas lebih dulu!" Teriak Syaren dari atas.
Betapa hancurnya hati Citra melihat Syaren, yang sangat mencintai anaknya, Malik.
"Mah, bagaimana Syaren jika aku benar-benar tiada?" ucap Malik, dia memandang ke arah Syaren yang mulai bersiap terjun bebas.
Syaren menjatuhkan dirinya dari sisi balkon, yang ada di lantai tiga itu.
Braagggkkkk!
Namun tubuhnya menggelantung, karena tangannya di pegang oleh Dimas.
Citra dan Malik frustrasi melihat Syaren yang nekat terjun itu.
"Lepasin aku kak Dimas!" Teriak Syaren.
"Joan ...." Teriak Dimas.
Joan langsung membantu Dimas menarik Syaren.
Setelah susah payah, akhirnya mereka berdua berhasil menarik Syaren. Syaren mengamuk karena ia diselamatkan.
Plakkkkkk!!! Dimas menampar Syaren.
Syaren hanya menangis dan langsung pingsan.
Citra menutup mulutnya melihat Dimas menampar Syaren yang histeris.
"Joan, hubungi dokter Rahman." pinta Dimas
Dimas menggendong Syaren yang tak sadarkan diri, di bantu oleh Joan.
Semua orang segera masuk lagi kedalam rumah, karena tidak melihat Dimas lagi, di balkon lantai atas itu. Setelah sampai di lantai dasar, Dimas membaringkan Syaren yang masih pingsan di sofa tamu.
"Dia tak bisa terima kenyataan, kalau umurku tidak lama lagi." lirih Malik.
"Beri dia semangat! Yakinkan dia kalau kau bisa bisa bertahan." ucap dimas
"Hal itu hanya akan membuatnya semakin tidak siap menghadapi kenyataan, saat aku tiada." sahut Malik.
"Berjanjilah, kalau kau selalu ada buat mereka." lirih Dimas.
"Bagaimana aku berjanji hal yang tak pernah bisa aku tepati Dimas? Aku sudah sangat lemah, ajalku semakin dekat." balas Malik.
"Jangan membicarakan tentang kematian lagi di depannya, jalanilah hidup seperti air mengalir," seru Dimas.
Tidak lama dokter Rahman datang, dia segera memeriksa Syaren.
"Sepertinya dia sangat tertekan," lirih dokter Rahman. Dokter Rahman hanya bisa memberi resep. Setelah selesai memeriksa dan menyuntik Syaren. Dia pun bersiap untuk pergi.
"Jika dia seperti ini terus, sepertinya dia tidak bisa Asi lagi. Karena obat yang akan ia minum berbahaya bagi Asinya." seru Rahman.
setelah selesai Rahman pun pamit.
Tiga hari sudah Syaren seperti orang depresi berat. Ia makan jika disuapi Malik, dia terus berbaring di kamar. Reina pun hanya mendapat susu formula, karena ibunya tidak dapat memberi Asi padanya.
Malam keempat, Malik mulai membaik. Dia mulai mampu melangkah, karena tubuhnya lebih merasa sehat. Beberapa hari ini Reina tidur bersama neneknya.
Malik perlahan mendekati Syaren yang selalu diam. Ia usap kepala Syaren dan merapikan rambut Syaren kesamping telinganya.
"Sayang ... maaf kan aku, aku hanya sangat takut tidak bisa menemani kalian." lirih Malik.
Syaren mulai bangkit dari posisi berbaringnya, ia memeluk Malik yang berada di sampingnya. Malik pun membalas pelukan Syaren.
__ADS_1
"Aku sangat cinta sama mas, aku ngga mampu bertahan tanpa mas," pekik Syaren.
"Maafin mas sayang ... lihat mas sudah sehat kembali!" seru Malik.
"Maafin aku juga mas ...." ucap Syaren, lirih.
Malik mulai menyerang bibir Syaren, ciumannya pun entah menjalar kemana-mana. Apalagi tangannya, sudah tidak ter arah. Malik memasang aba-aba untuk Memadu kasih dengan istrinya.
"Mas ... jangan mas, aku ngga mau mas nanti drop lagi, karena ini, aku rela selamanya tak bercinta, asalkan, kau tetap di sampingku."
"Mas sudah sangat sehat sayang, mas mau ini ... apa kamu menolak permintaan suami kamu?" Goda Malik.
Syaren membuka dirinya. Akhirnya mereka berdamai dan menghabiskan malam bersama.
,,,
Pagi-pagi Syaren nampak segar kembali.
begitu juga Malik. Seakan mereka berdua tidak mengalami masalah. Syaren menghampiri bayinya yang baru selesai minum susu dari botol bayi.
"Ya ampun, anak mamah, maafin mamah sayang, gara-gara mamah sakit, kamu harus minum susu Formula." ringis Syaren.
"Ngga apa-apa sayang, semua itu diluar kemampuan kamu." lirih Citra.
Keadaan kembali tenang dan harmonis.
Sekarang usia baby Reina 8 bulan, 8 bulan juga usia kehamilan Aira istri Reyhan.
Malik nampak sehat dan bugar, dia pun kini bisa kembali bekerja jika ia mau, sebenarnya Dimas melarangnya, namun ia bosan di rumah. Akhirnya ia di izinkan Dimas bekerja, namun hanya pekerjaan yang ringan-ringan saja.
Malik sedang asyik mengerjakan pekerjaannya, sedang Dimas dan Joan sedang ngobrol di ruangan Latif.
"Pak ... apa anda benar-benar melupakan Syaren?" Tanya Joan.
Mendengar nama Syaren disebut, Malik menghentikan langkahnya, dia menguping pembicaraan tiga orang di dalam ruangan itu.
"Aku benar-benar ihklas melepasnya buat Malik, karena dia sangat bahagia bersama Malik. Sedang dia tersiksa oleh cintaku, jika bersamaku. Kau tahu, traumanya saja masih tersisa sampai sekarang." lirih Dimas.
"Andai pak Dimas tak kejam padanya, pasti dia juga bahagia bersama pak Dimas." sahut Joan.
"Maaf pak, dulu anda sungguh keterlaluan menyakitinya. Dia mengorbankan nyawa buat pak Dimas, tapi pak Dimas malah menghinanya." lirih Joan
"Itulah kegilaan dan kebodohanku, sekarang aku harus melepaskan cintaku." lirih Dimas.
"Apa anda masih mencintai Syaren?" Tanya Joan.
"Aku selalu mencintainya." jawab Dimas.
Malik mundur beberapa langkah. Kemudian dia sengaja pura-pura batuk, dan mulai melangkahkan kakinya, menuju ruangan Latif.
"Itu suara Malik!" Seru Latif, mereka pun segera berbicara masalah lain.
Malik masuk kedalam ruangan Latif, dia mengantar berkas, sekalian dia izin pulang pada Dimas.
****
Sesampainya di rumah, Malik menghabiskan waktunya guling-gulingan di lantai bersama Reina dan Syaren. Malik terbayang kata-kata Dimas, kalau dia masih mencintai Syaren.
Malik pergi meninggalkan Syaren yang asyik dengan Reina.
"Ayah keluar sebentar ya mah ...." ucap Malik.
"Iya ayah." sahut Syaren.
__ADS_1
Malik pun keluar dari kamar, dia naik ke atas menuju kamar Dimas, Malik hafal betul di mana Dimas menaruh kunci kamarnya. Dengan mudah Malik menemukan kunci kamar Dimas.