Menua Bersama

Menua Bersama
Bab 88. Pusing


__ADS_3

Belum juga berangkat ke restoran yang akan dituju, Joan dibuat pusing oleh Nathan, karena Nathan tiba-tiba menolak ikut makan malam, setelah tahu Apa tujuan makan malam keluarga ini. Natan berjanji akan menyusul ke sana, namun dia akan datang bersama kekasihnya. Joan langsung menelpon sahabatnya itu menceritakan kalau hanya satu anak perempuannya saja yang bisa ikut makan malam nanti.


Ternyata Dilema Joan sama dengan sahabatnya itu, sahabatnya juga mengalami hal yang sama, yaitu penolakan dari anak gadisnya, yang kekeh tidak mau ikut makan malam bersama nya nanti. Anak gadisnya juga mengatakan kalau dia akan datang bersama kekasihnya mau tidak mau Gusti menyetujui keinginan anak gadisnya itu.


Joan akan datang bersama Syaren dan Dina. Sedang sahabatnya Gusti akan datang dengan istrinya Gita dan anak lelaki mereka. Joan dan keluarga datang lebih dulu dari pada Gusti. Kini Joan menempati meja yang sudah dipesan oleh Gusti.


Joan dan Syaren terlihat asyik mengobrol, sedang Dina menunduk memandangi layar ponselnya. Tanpa di sadari Joan. Gusti, Gita dan putra mereka sudah ada di depan mereka. Wajah Dina dan wajah pemuda anak Gusti tampak masam, mereka sebal dengan acara perkenalan ini.


"Selamat malam sahabat lamaku," sapa Gusti mengagetkan Joan dan Syaren.


Syaren dan Gita berpelukan, begitu juga Joan dan Gusti.


"Maaf Gusti, dari tiga anakku yang masih lajang, hanya satu yang bersedia ikut," seru Joan.


"Sama sobat, anak perempuanku juga menolak," seru Gusti.


"Jamal ... kau sudah besar sekarang, kenalkan ini Dina, anak om," seru Joan.


"Pak dokter?" Dina melongo.


"Dina?" Jamal tidak kalah terkejut.


"Kalian saling kenal?" Tanya Gusti.

__ADS_1


"Dia perawat TKS di rumah sakit aku bekerja pah," jawab Jamal.


"TKS? Kamu kok nggak bantu anak sih Jo!" Seru Gusti.


"Bukan tidak mau, tapi Dina yang nolak Gus," jawab Joan.


Jamal sangat bahagia, mengetahui kalau wanita yang akan dijodohkan dengannya adalah wanita yang selama ini dia cintai sejak zaman kuliah dulu.


"Gimana nih Mal? Mau lanjut apa sampai di sini saja?" Tanya Gusti.


Jamal tidak mampu menjawab dia hanya tertunduk malu.


"Nanti bahas itunya yang penting Sekarang kita makan malam dulu," seru Gita.


"Malam om, tante, ayah, bunda, ini kenalkan pacar Nathan, namanya Nara," seru Nathan.


"Nara?" Seru Gita dan Gusti bersamaan.


"Heheheee, malam mamah, papah, ini pacar Nara," lirihnya.


"Nathan ini anak bungsu saya, apa Nara?" Pertanyaan Joan terputus.


"Iya ..., Nara adik Jamal," jawab Gusti.

__ADS_1


"Wah ... bagus dong kalian sudah pacaran, tanpa susah susah lagi tante jodohin kalian," seru Gita.


"Wah ... yang dewasa kalah start neh sama ABG," seru Syaren.


Obrolan hangat terus berlanjut, sedang Dina dan Jamal sama-sama diam. Jamal bahagia dengan perkenalan malam ini. Sedang Dina merasa risih, dia sama sekali belum siap untuk ke jenjang lebih serius.


"Nathan dan Nara siap nikah?" Tanya Joan.


"Sepertinya tidak sopan kalau yang muda lebih dulu dari yang tua," seru Nathan.


"Aku nggak keberatan Kalau kalian nikah duluan," akhirnya Dina bicara.


"Gimana kalau lanjutin dulu perjodohan Kak Dina sama Kak Jamal," seru Nara.


"Pernikahan tidak baik dengan paksaan Nara, biar kakakmu dan Dina yang menentukan Keinginan mereka ke depannya," seru Gusti.


"Ih papa Katro, nggak tahu ya, anak sendiri itu sukanya sama siapa," Nara mengambil lapotopJamal yang ada padanya, lalu membuka file foto di laptop itu.


"Lihat! Kak Jamal jatuh cinta dengan wanita yang ada di foto itu sejak Kakak kuliah, lihat aja fotonya isinya semua wanita yang sama," seru Nara.


"Sejak kapan kamu suka sama Dina?" Joan kaget melihat banyak foto Dina di laptop Jamal.


Jamal tidak mampu menjawabnya, bernafas pun terasa sesak karena sangat malu ketahuan mencintai Dina sejak lama.

__ADS_1


__ADS_2