Menua Bersama

Menua Bersama
Bab 61. Tanggung Jawab


__ADS_3

Nami semakin kaget melihat Syaren mengunci pintu dari luar.


"Syaren ..., jangan di kunci ...." ringis Nami,


"Hei ... apa yang aku dengar tadi semuanya benar?" Tanya Harun.


Nami hanya memejamkan matanya, sungguh ia tak punya keberanian, untuk menatap Harun.


"Kamu harus bertanggung jawab atas semua pengakuanmu tadi," seru Harun.


"Ren ..., buka pintu! Kasian Nami pingsan," seru Harun.


Syaren pun panik segera ia membuka kunci pintunya.


"Ya ampun ... sampai pingsan segala, emang kakak apain?" Gerutu Syaren sambil membuka pintu.


Harun tersenyum, ia pun keluar lebih dulu meninggalkan Syaren dan Nami.


"Ya ampun ..., aku kira beneran pingsan!" gerutu Syaren, ketika melihat Nami baik-baik saja.


"Jahat!!!" Teriak Nami, ia sangat kesal pada Syaren, ia tak tahu harus apa lagi, malu iya, seneng iya, marah juga iya.


Harun langsung menelpon ibunya, ia langsung cerita, kalau ia menemukan ibu baru buat Mutia.


Setelah kejadian tadi, Nami benar benar tidak berani lagi bertatap muka dengan Harun.


"Aku izin pamit ya semuanya, sepertinya ini sudah sangat siang," seru Joan. Joan pun berpamitan pada semua orang.


"Gubrakkk!!!" Joan dan Syaren bertabrakan.


"Maaf Joan."

__ADS_1


"Iya aku juga minta maaf."


"Oh ya Ren, aku pamit pulang ya,"


"Kok pulang? Ngga mau makan siang bareng di sini? Seru lho, makan siang sama anak-anak panti sini,"


"Gimana ya ... tapi aku ngga enak ...," sahut Joan.


"Nggak enak makanannya apa ngga enak ...."


"Ngga enak kalau numpang makan di sini," sahut Joan


"Udah ... nggak perlu acara ngga enak, yuk gabung sama kita semua," Syaren menarik tangan Joan.


Joan hanya memandangi tangan Syaren yang mengenggam pergelangan tangannya, entah kenapa ada perasaan khusus di hati Joan.


"Nah kamu gabung saja sama Galang sama Harun, aku mau bantu di dapur bye bye ...." seru Syaren, dia pergi meninggalkan Joan.


"Kamu temenan sama Syaren sejak kapan?" Tanya Harun.


"Aku bawahan suaminya Syaren yang dulu," sahut Joan.


"Oh pegawai mantan suaminya, suami Syaren itu seperti apa sih? Wanita baik-baik seperti Syaren aja dilepas." tanya Galang.


"Emm gosiip ...." seru Harun.


Joan hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Galang.


"Aku boleh jadi donatur tetap di sini ngga?" Tana Joan.


"Boleh ... kamu bicara aja lebih lanjutnya sama bu Dijah." sahut Galang.

__ADS_1


Mereka pun membicarakan seputar program panti untuk kedepannya. Setelah semua siap mereka makan siang bersama dengan anak-anak panti.


"Benar kata Syaren ..., ini sangat indah, aku nggak pernah merasakan keindahan seperti ini," irih hati Joan.


Mereka larut dalam kebersamaan dengan anak-anak panti.


"Rumah kamu di mana ren.?" Tanya Joan.


"Oh deket kok, mau anterin ya?" Tanya Syaren


"Mau sih, kalo kamu nggak keberatan." sahut Joan.


"Iya deh ..., tapi habis sholat zduhur berjamaah ya." sahut Syaren.


"Siap nona," sahut Joan.


Setelah semua urusan di panti selesai, Syaren pun mengajak si kembar pulang.


"Ayo sayang, kita pulang ... om Joan udah nungguin," seru Syaren. Si kembar pun segera berlari keluar panti. Mereka segera masuk ke mobil Joan.


Setelah semua masuk mobil, Joan pun melajukan mobilnya dengan perlahan. Dia mengikuti Arahan Syaren.


"Oh ... ternyata rumah kamu deket banget sama panti," seru Joan.


"Iya ... kan sudah aku bilang dekat sebelumnya," sahut Syaren.


"Mampir dulu Jo?" Tanya Syaren.


"Mau sih ... kalau ngga ngerepotin." sahut Joan.


Joan pun masuk kerumah Syaren, dan menghabiskan waktu bersama Dina dan Dona.

__ADS_1


__ADS_2