Menua Bersama

Menua Bersama
Bab 14 Ketegangan


__ADS_3

Yumna sangat kesal, dia dipaksa Reyhan untuk menjenguk Syaren sepulang kerja. Setelah pulang kerumah, mandi dan ganti baju, Yumna segera berangkat menuju rumah sakit, mobilnya melaju santai, membelah jalanan malam hari.


Yumna menyeret langkah kakinya yang begitu berat, menuju ruangan Syaren. Sesampai di ruangan Syaren, Yumna tidak menyapa siapapun, dia langsung duduk di sofa dan memainkan ponselnya


Syaren tersenyum melihat kedatangan Yumna. "Terima kasih kak Yumna, kakak bersedia datang kemari."


Yumna tidak menggubris sapaan Syaren, dia tetap fokus pada ponselnya. Reyhan sangat geram melihat kelakuan Yumna, dia bangkit dari kursinya, ingin menghampiri Yumna, namun pergerakannya tertahan, Syaren memegang lengannya sambil menggelengkan kepalanya.


Reyhan mengalah, dia duduk kembali di kursinya.


Cekklakkk!


Pintu terbuka, terlihat Andrey dan kedua orang tuanya datang berkunjung. Senyum Yumna begitu lebar, saat melihat siapa yang datang.


"Tante Iis, om Fuad, silakan masuk," Reyhan menyambut kedatangan tamu nya.


Iis, Fuad dan Andrey berjalan mendekat pada Syaren.


"Bagaimana keadaan kamu sayang?" Sapa Iis bertanya pada Syaren.


"Sudah mulai membaik tante," sahut Syaren.


"Tante khawatir banget, saat mendengar kamu masuk rumah sakit, makanya kami langsung kesini jenguk kamu." Iis mememgangi tangan Syaren.


"Makasih tante," Syaren mengukir senyuman di wajahnya.


Yumna berjalan mendekati mereka, dia melipat kedua tangannya, di dadanya. "Sepertinya pernikahan mereka, harus segera di atur!"


"Tante sih ngga masalah Yumna, tapi kata Andrey, Syaren baru bekerja di kantor kalian. sedangkan persyaratan pekerjakan, boleh menikah setelah satu tahun bekerja." seru Iie.


"Huhhhhh! Sepertinya kita akan menanggung malu karena hal ini," gerutu Yumna.


Reyhan faham kemana arah pembicaraan Yumna. "Yumna!! Jangan kelewatan kamu!" Bentak Reyhan.


"Ahhh, sudah lah kak, jangan di tutup-tutupi! Namanya bangkai! pasti akan tercium bau nya!!" Yumna menatap tajam ke arah Syaren.


Syaren menunduk, air matanya terus menetes melihat kebencian kakak perempua itu pada dirinya.


"Apa maksud kamu Yumna, om tidak mengerti,"


"Om, selamat ya, om sama tante akan segera punya cucu!" Seru Yumna.


Iis menutup mulutnya dengan kedua tangannya, Fuad sangat geram, dia memandangi Andrey penuh kemarahan. Ketegangan terasa di ruangan itu.

__ADS_1


"Jadi ... jadi kamu minta dinikahkan sama Syaren secepatnya, karena kamu menghamili Syaren!" Air mata Iis mengalir deras.


Fuad berusaha menahan amarahnya, dia sangat ingin melayangkan tinjuannya ke wajah putranya itu. "Tega sekali kamu mencoreng nama keluarga Andrey!!" Fuad berusaha menahan suaranya dan amarahnya


Yumna tersenyum menonton kejadian itu seperti nonton sinetron.


Anik dan Ainah sangat geram dengan Yumna.


Iis terus menagis, dia menumpahkan tangisnya dalam pelukan suaminya.


"Om tante, adik saya tidak hamil," Ucap Reyhan.


"Yumna! Berhenti menuduh Syaren hamil!" Bentak Reyhan.


Yumna tidak perduli dengan Reyhan, dia pergi dari ruangan itu, sambil melempar senyuman mengejek


Iis menarik dirinya dari pelukan suaminya, dia mengusap air matanya. "Jadi ... Syaren bukan hamil?"


"Iya tante, Syaren tidak hamil, dia sakit, tadi malam dia tidak makan, karena berantem sama Yumna, Yumna tidak bisa terima, kalau Andrey mencintai Syaren, karena Yumna juga mencintai Andrey, dari situlah ketegangan ini terjadi."lirih Reyhan


"Maafin tante sama om." Ringis Iis.


Reyhan dan Syaren mengangguk.


"Terus, bagaimana kelanjutan hubungan ini?" Tanya Fuad.


"Tapi Ren ---"


"Maaf Kak Andrey, Syaren ngga bisa!" Syaren memotong kata-kata Andrey. Ia membalikkan tubuhya, membelakangi semua ya, air matanya terus mengalir.


"Maaf om, tante, itu keputusan Syaren, saya tak akan menganggu keputusannya, karena ini hidup Syaren. Sudah cukup rasa sakit saya melihat kedua adik perempuan saya bertengkar, karena mencintai orang yang sama." ucap Reyhan


"Tante mengerti Reyhan, maafin tante, om, dan Andrey." ucap Citra lirih


"Iya tante, kami juga minta maaf." sahut Reyhan


Dengan perasaan yang berat, Iis sekeluarga terpaksa pamit, dan pergi dari ruangan itu. Sedang Reyhan dan kedua pembantunya, bersiap untuk berlabuh ke alam mimpi.


Yumna sampai di rumah.


"Gila, mereka beneran mau nikah! Awas kau Syaren! aku akan memberimu upah yang setimpal! Karena kau menghancurkan hatiku. Yumna menggerutu sendirian. Setelah selesai membersihkan diri, Yumna segera merehatkan tubuhnya.


****

__ADS_1


Pagi-pagi yumna Sudah berangkat ke kantor, ia sarapan di kantin kantor. Teman kerjanya heran melihat Yumna sarapan di luar, tidak seperti biasanya.


"Tumben kamu makan di luar."


"Adik aku di rumah sakit, para pembantu kami jaga di sana, ya terpaksa aku sarapan di luar," sahut Yumna, ketus.


**


Hari semakin siang, kesibukan mulai membebani otot dan otak para pekerja. Yumna dan Andrey mendapat tugas yang sama. Yumna tersenyum sinis, melihat wajah Andrey yang lemas.


"Calon pengantin kok wajah nya loyo!"


Andrey menoleh ke arah Yumna. "Syaren memutuskan hubungan kami." sahut Andrey.


Yumna diam, dia meneruskan pekerjaannya.


"Baguslah," Lirih hati Yumna


Mereka berdua profesional dalam bekerja. Seakan tidak ada masalah diantara mereka.


****


Di rumah sakit


Kesehatan Syaren membaik, siang ini ia boleh pulang. Reyhan mengemas barang-barang mereka,hatinya sangat lega melihat adiknya sembuh.


Reyhan menatap sayu ke arah Syaren.


Semoga saja, keadaan di rumah bisa pulih seperti sedia kala juga, gerutu hati Reyhan.


Sekitar jam 2 siang, akhirnya Syaren bisa pulang kerumah.


Selama di rumah, Yumna tidak pernah menyapa Syaren, Syaren menyadari kemarahan yumna padanya tak kunjung padam.


Seminggu sudah insiden menegangkan itu berlalu. Namun kemarahan Yumna tidak kunjung padam. Pagi ini Syaren bersiap untuk bekerja. Anik memberikan kotak bekal yang di minta Syaren, setelah semua selesai, Sayren langsung turun ke bawah,


"Kak, aku pergi bekerja," Syaren berjalan berlalu begitu saja melewati Reyhan dan Yumna yang tengah menikmati sarapan pagi mereka.


Reyhan hanya melempar senyum dan menganggukkan kepalanya.


Sampai di gedung Wisma Corporation Group, Syaren melangkahkan kakinya memasuki area gedung itu, ia langsung menuju lift, karena ia harus menuju lantai 15, di sanalah ia bekerja.


Sepasang mata yang tak bisa mengalihkan pandangannya, terus melihat Syaren berjalan menyusuri lorong lantai 15 itu. Syaren melambaikan tangan pada teman kerjanya yang ia kenal waktu interview lalu.

__ADS_1



Sepasang mata selalu mengawasi Syaren, kemanapun Syaren melangkah, siapa lagi kalau bukan lelaki Gila wanita "Dimas" direktur utama Wisma Corporation Group.


__ADS_2