Menua Bersama

Menua Bersama
Bab 83. Kenyamanan Hati


__ADS_3

Semakin gila saja tingkah para karyawati di kantor itu, mereka terus mengejar cinta Aiman, untung saja Zay menyewa 3 orang body Bodyguard, kalau tidak, akan sangat sulit mareka, untuk melangkah, karena tingkah laku para wanita yang terus terusan memepet Aiman. Apalagi Shafa, dia terus berusaha mendekati Aiman.


"Tria, kenapa ya di kantor ini cuma kamu yang enggak berusaha mendekati pak Aiman?" Tanya Zay.


"Gak tau Zay, hatiku tidak apa ya?, ibarat listrik gak ada setrum energinya Zay, masalah hati aku lebih memilih kenyamanan hati Zay, bukan siapa orang dan seperti apa status dia baru harus aku cinta," jawab Tria.


"Kamu nyindir aku Tria!!" Bentak Shafa.


"Gak nyindir siapa siapa Fa, kamu ya kamu, aku ya aku, kita tidak harus sama bukan?" Seru Tria.


"Hidup ini realistis saja Tria, siapa yang gak butuh uang," seru Shafa.


"Iya, itu jalan kamu seperti itu, kalau aku mementingkan kenyamanan hati untuk pasangan," jawab Tria.


"Wah kamu sama Zay cocok, kenapa gak jadian aja?" Tanya Shafa.


"Berhenti Shafa jodoh-jodohin orang, kalau aku jomblo pun aku gak akan ikut-ikutan berebut pak Aiman," seru Tria kesal.


***


Semakin lama Zay semakin suka pada Tria.


"Sepertinya Tria wanita yang tepat untuk ku ajak join mendatangkan Mentari kami," lirih hati Zay.


***

__ADS_1


Empat bulan sudah sandiwara Zay dan Aiman berjalan. Semua sangat lancar tidak ada pihak lain yang mengetahui sandiwara mereka. Kecuali kedua orang tua Zay.


"Pak bos, mau sampai kapan kita bertukar tempat, aku takut tenggelam jika terlalu lama," rengek Aiman.


"Tidak lama lagi, aku sudah menemukan wanita yang selama ini aku cari," jawab Zay.


"Syukurlah bos, aku rindu posisiku yang dulu,"


***


Zay mendekati Tria. "Tria, kamu mau makan siang sama aku?" Tanya Zay.


"Boleh Zay," jawab Tria.


"Jangankan pacaran, nikah juga aku mau, kalau Tria nya mau," seru Zay menatap lembut wajah Tria.


"Waw ... Tria terima aja, sulit lho nunggu laki-laki serius," seru Shafa.


"Triiaaa," Zay berjongkok di depan meja Tria.


"Visi aku juga sama seperti visi kamu, Tria, mencari pasangan bukan tampang dan derajatnya, tapi kenyamanan hati, hati aku nyaman jika sama kamu Tria. Tria ... maukah kamu menjadi istriku?" Tanya Zay.


"Zay!!! Ini kantor!!! Kerja yang benar!!!" Bentak Joan.


"Bapak ..., maaf Pak," Zay langsung berdiri menyambut Joan.

__ADS_1


"Tria, selamat siang Tria," sapa Joan.


"Siang pak," jawab Tria.


"Zay anak yang baik, pikirkan lamarannya Tria, dan aku harap kamu bisa menerima Zay apa adanya, dia tidak terlihat seperti apa yang kita lihat, dia baik, aku jamin itu," seru Joan. Joan langsung meninggalkan meja kerja Tria dan Shafa, dia masuk langsung keruangan Direktur utama. Diikuti oleh Zay.


Melihat siapa yang masuk ke ruangan direktur, Aiman langsung menyambut dua atasannya itu.


Joan duduk di kursi manajer, sedang Aiman dan Zay duduk di kursi yang terletak di depan meja kerja itu.


"Jadi ... Tria pilihanmu untung mengantarkan Mentari pada kami?" Tanya Joan.


"Iya, itu jika Tria menerima, yah," jawab Zay.


"Ayah dukung, jika Tria menerima kamu, ajak dia makan malam di rumah, biar semua saling kenal, kalau ayah sangat mengenal Tria," seru Joan.


"Iya, ayah, semoga Tria menerimaku," seru Zay.


"Kamu Aiman, cepatlah cari pasangan, agar kamu semakin semangat bekerja," seru Joan.


"Iya pak, nanti kalau ketemu wanita yang suka sama saya apa adanya, saya juga bakal lamar pak," jawab Aiman.


"Zay ... ayah kemari mau menyelesaikan pekerjaan lama, ayo Aiman, Zay, bantu aku," seru Joan.


Mereka sibuk bekerja di ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2