Menua Bersama

Menua Bersama
Bab 7 Villa part 2


__ADS_3

Perjalanan panjang nan santai di lalui dengan canda Reyhan Andrey dan Syaren, sedang Yumna banyak diam. Ia sangat cemburu melihat syaren dan Andrey yang selalu bercanda di belakangnya.


Reyhan bukan menegur malah, Reyhan ikut bercanda dengan mereka. Reyhan juga membiarkan, Syaren bermanja pada sahabatnya itu.


Sesekali Syaren membahas apa yang ia lihat di ponselnya, lalu mereka bertiga mengomentari video yang mereka lihat. Syaren berulang kali mengajak Yumna agar ikut ngobrol dengan mereka, tapi Yumna bersikap dingin, dia hanya menjawab sekedarnya.


Melihat adikku yang bermanja dengan Andrey, hangat sakit, gumam hati Yumna.


"Semuanya ... kita sampai!!" Teriak Reyhan, setelah mobil terparkir sempurna, Reyhan mematikan mesin mobil mereka.


Reyhan dan Yumna langsung turun, mereka berjalan menuju bagasi mobil, mulai mengeluarkan barang bawaan mereka. Syaren dan Andrey sengaja mencati alasan, agar bisa berdiam dalam mobil lebih lama.


Syaren memasukkan barang-barangnya yang ia keluarkan sejak perjalanan tadi, sedang Andrey membersihkan sampah-sampah makanan, yang ia makan sepanjang perjalanan bersama Syaren.


"Hei, kenapa kalian belum keluar!!" Teriak Yumna, ia berusaha menahan api cemburu yang menyala sejak di perjalanan tadi.


"Andrey ... bantuin kita kali!" Seru Reyhan.


"Owh, petugas kebersihan melakukan tugasnya," Reyhan tersenyum melihat Andrey memunguti sampah yang ada dalam mobilnya. Sedang Syaren, sibuk memungut barang-barangnya.


Reyhan dan Yumna kembali berjalan menuju bagasi, mereka lanjut menurunkan barang-barang.


Merasa aman, Andrey memegang tenggkuk Syaren "beb ... miss you ...." Jemarinya memijat lembut leher bagian belajang Syaren, perlahan dia mendekatkan wajah Syaren ke wajahnya.


Syaren menaruh jemari tangannya didepan bibir Andrey. "Ada kakak!"


"Aku nggak perduli," Andrey langsung menyatukan bibir mereka.


Pertarungan lidah semakin dalam, karena Syaren mengimbangi pergerakan Andrey. Kedua tangan Syaren memegang sisi telinga Andrey. Suasana memanas di dalam mobil, tangan Andrey mulai menelusup ke bagian dalam kaos yang Syaren gunakan. Memijat sesuatu yang selalu menggoda matanya. Nafas keduanya terdengar semakinmemburu.


Beggg!!!


Suara bagasi mobil di tutup.


Andrey dan Syaren langsung berhenti dengan cumbuan mereka.


Syaren mengatur nafasnya, sambil membetulkan dandanannya, dan memperbaiki posisi bra nya, yang tidak pada tempatnya, karena perbuatan Andrey


Syaren langsung turun dari mobil, dia langsung membantu kedua kakaknya, membawa barang-barang yang sudah di turunkan, masuk kedalam villa


Andrey masih di dalam mobil, melanjutkan membersihkan mobil Reyhan, senyuman terukir di wajahnya, dia tidak menyangka, bisa mengukir kemesraan bersama Syaren. Dia segera turun, membantu Reyhan dan Yumna.


"Jam segini, yang jaga Villa ini sudah pulang, jadi salah satu dari kalian, masak buat kita." pinta Reyhan.


"Syraen aja! Dia kan sering bantuin bibi di rumah!" Nada suara Yumna terdengar ketus.


"Aku aja yang masak," seru Syaren.


"Cusss sana! Kita sudah lapar!" Seru Yumna.


"Oke kakakku tercinta, adikmu yang paling imut ini, akan masak buat kalian semua,"


Cup!


Kecupan lembut dari bibir Syaren, mendarat di pipi Yumna.

__ADS_1


Andrey tersenyum, dia memikirkan sesuatu, agar bisa menyusul Syaren ke dapur, dan bermesraan lagi di sana. Andrey melihat-lihat barang, dia memilih bok yang iya yakin itu harus di bawa ke dapur.


"Kakak!! Bahan makanan yang akan di masak mana?!" Syaren berteriak dari dalam villa.


"Andrey, box yang kamu pegang, tolong antar kedapur," pinta Reyhan.


"Oh siap!" Andrey tersenyum penuh kemenangan, memang itu tujuannya, menyusul Syaren ke dapur.


Yumna melamun, memandangi punggung Andrey, Andrey terus berjalan masuk kedalam Villa itu.


"Yumna, Syaren kan masak buat kita, kamu tolong bantu kakak, bawain semua barang-barang Syaren." Permintaan Reyhan membuat Yumna tersadar dari lamunannya.


"Iya kak," Yumna langsung membawa barang, yang mampu ia bawa.


Yumna dan Reyhan masih sibuk di luar, Andrey menggunakan kesempatan ini mendekati Syaren. Andrey tersenyum, melihat Syaren, mengenakan celemek, rambut Syaren yang panjang, ia gulung ke atas, hingga leher Syaren yang jenjang, membuat Andrey tergoda untuk bermanja di sana. Perlahan Andrey meletakkan box yang dia bawa.


Mendengar ada langkah kaki yang mendekat, Syaren mengira itu Reyha. "Terima kasih kakak, sayang ... taruh aja kak Rey, nanti aku bongkar sendiri," ucapnya, tanpa merubah arah pandangannya.


Andrey langsung memeluk Syaren dari belakang, Syaren diam, ia mengira itu kakanya.


Merasakan wajah yang membenam di ceruk lehernya, Syaren langsung menoleh. "Kak Andrey?!" Syaren sangat kaget.


Andrey terus menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Syaren. "Aku ngga tahan jauh-jauh dari kamu beb," Andrey menikmati aroma farfum Syaren.


"Aku mau masak ka ...." Syaren, menahan nafasnya.


Andrey membalikkan tubuh Syaren,hingga mereka berhadapan, kedua mata itu beradu pandang. Tangan Andrey melingkar di pinggul Syaren. Dia terus mendekatkan wajahnya pada wajah Syaren. Hingga nafas keduanya terpantul di permukaan kulit.


Andrey mengangkat badan Syaren, dia mendudukkan Syaren di sisi lain dari westafel itu.


Andrey diam, dia terus memandangi wajah Syaren. Perlahan ia mulai mendekatkan mulutnya pada mulut Syaren lagi.


Tidak dapat di hindari, pertarungan lidah mereka terjadi, semakin lama, semakin dalam, dan semakin liar.


Andrey menarik dirinya, dia tidak mampu lagi menahan ledakan dalam dirinya, dia takut bablas. Dia menarik Syaren kedalam pelukannya. Syaren bersandar di dada bidang Andrey.


Syaren tersenyum. Detakkan jantung Andrey sangat jelas terdengar di telinga Syaren.


"Kakak nggak mampu lagi menahan semua ini, secepatnya, kakak akan melamar kamu pada Reyhan." Andrey meng eratkan pelukannya pada Syaren.


Syaren tersenyum, dia melepaskan dirinya dari pelukan Andrey. "Benarkah? Kakak ingin melamarku?" Syaren menggoda Andrey, dia mendongakkan wajahnya, dan membuka sedikit bibirnya.


Darah Andrey serasa mendidih, melihat expresi wajah Syaren. Tentu sayang, aku akan segera melamar kamu, aku sangat cinta sama kamu."


Andrey kembali mengulangi persilatan mereka.


"Di dalam tas warna merah kak Rey!" Teriakan Yumna, membuat Syaren dan Andrey, segera meng akhiri kegiatan mereka.


Syaren langsung melanjutkan pekerjaannya, memotong sayuran, sedang Andrey dia mengenakan Celemek, dan lansung berjalan menuju westafel, mencuci beberapa sayuran.


Yumna sangat terkejut, melihat pemandangan yang tersuguh di depan matanya. "Kak Andrey bantuin Syaren?"


"Oh, hai Yumna, iya aku bantu sedikit, kasian Syaren sendirian." seru Andrey.


"Profesional banget, pakai celemek segala!" Seru Yumna.

__ADS_1


"Biar kegantengan aku nggak berkurang, karena air ini." sahut Andrey.


"Ini sudah selesai Ren, ada lagi yang mau di cuci?" Tanya Andrey, tatapannya memandang nakal pada Syaren.


"Mata kakak sudah di cuci?" Sahut Syaren.


Andrey menggeleng, sambil melepas celemeknya. "Hati sekalian di cuci! biar bersih!" Andrey melempar celemeknya ke wajah Syaren.


"Kak Andrey!!" Teriak Syaren.


Andrey melempar senyuman nakalnya buat Syaren, dia segera pergi dari dapur itu. Melihat Andrey pergi, Yumna juga pergi dari dapur itu.


Syaren kembali melanjutkan tugas memasaknya, selesai masak, Syaren kembali ke kamar yang biasa ia tempati, membersihkan dirinya terlebih dahulu, lalu istirahat siang.


*****


Jam makan Siang.


Mereka berempat sudah berkumpul di meja makan, mengadapi piring mereka yang berisi makanan.


"Hem ... enak nih ...." Reyhan menikmati aroma makanan yang tercium hidungnya.


Tanpa komentar, Andrey menyedok makanan yang ada di piringnya, dia memasukkan sendok yang berisi makanan itu kedalam mulutnya.


"Hemmm enak banget masakannya, calon istri idaman ini!" Seru Andrey, ia memandang nakal ke arah Syaren dan mengkode sesuatu.


Yumna diam, dia berusha untuk santai, ucapan Andrey barusan, entah kenapa sangat menyayat hatinya.


Mereka semua menikmati makan siang mereka, tanpa komentar apa-apa lagi. Andrey duduk berseberangan dengan Syaren, dia menjatuhkan sendok, lalu menunduk untuk mengambilnya, hanya untuk memastikan posisi kaki Syaren, agar tidak salah.


Mata Syaren melotot, saat sesuatu nakal pada kakinya, Andrey tersenyum, sedang Syaren menggeleng, dia baru faham kalau itu kaki Andrey.


Akhirnya, makan siang selesai. Syaren mulai membersihkan meja makan. Syaren melangkah membawa tumpukan piring, bekas mereka makan.


Andrey langsung mencegat Syaren. "Sini aku aja yang cuci!" Andrey mengambil tumpukan piring dari tangan Syaren.


Syaren tersenyum, dia memberikan tumpukan piring yang dia pegang pada Andrey.


"Masalah cuci-cuci bisa, aku bisa lah ...." seru Andrey.


"Calon suami idaman!" Syaren menepuk lembut bahu Andrey.


Andrey tersenyum simpul mendengar ucapan Syaren.


Melihat Andrey menuju dapur, Yumna seera melangkah menuju dapur. "Sini aku bantu kak Andrey."


"Yumna?" Andrey tersenyum melihat Yumna langsung membantunya.


"Yumna, aku merasa, kalau sekarang kamu sedikit berubah, bukan Yumna yang dulu."


"Masa sih? Aku biasa aja, nggak ada yang berubah dari aku."


"Biasanya, kamu itu sangat periang, lucu, bawel, sekarang ... rasanya aku ngga ngenalin Yumna yang ada di sampingku ini."


"Itu perasaan kakak aja kali!" Seru Yumna.

__ADS_1


__ADS_2