
Pagi-pagi Joan sudah datang kerumah sakit.
"Selamat pagi semua." Sapa Joan.
"Selamat pagi juga," sahut Sahut Yumna.
Joan menyerahkan paper bag pada Syaren. "Malam ini, utusan pak Dimas akan menjemputmu."
Syaren tersenyum manis
"Terima kasih, sampaikan salamku pada calon suamiku." Syaren sengaja berkata seperti demikian karena ada Reyhan di ruangan itu.
"Pak Joan, kami hari ini diperbolehkan dokter untuk pulang, karena dua bidadariku sudah membaik." Seru Reyhan.
"Aku turut senang mendengarnya. Kalian langsung pulang saja, urusan rumah sakit, semua di tanggung Pak Dimas." seru Joan.
Joan sekilas melirik wajah Syaren. Syaren membalas lirikan joan dengan expresi wajah yang sebal. Membuat Joan tersenyum sendiri.
"Saya izin pamit, masih banyak yang harus saya kerjakan." Joan pergi dari ruangan Syaren. Setelah dari rumah sakit, Joan langsung kembali ke rumah Dimas. Menyelesaikan pekerjaan yang ada di rumah itu, lalu kembali lagi ke gedung Wisma Corporation.
****
Syaren dan Yumna sudah kembali kerumah mereka. Keduanya nampak asyik bercanda. Seakan tidak pernah ada masalah diantara keduanya.
Anik, Neneng dan Ainah. Tersenyum melihat keseruan dua majikan mereka itu.
****
Jam sudah menujukkan jam 8 malam, Syaren mematung di depan cermin.
Malangnya nasibku, kenapa aku harus jadi santapan manusia aneh seperti Dimas?
Syaren memandangi pantulan dirinya di cermin.
Yumna masuk ke kamar Syaren, dia tersenyum, melihat Syaren. "Sini aku bantu kau dandan." seru Yumna.
Lamunan Syaren buyar, ia menoleh kearah Yumna. "Kenapa tidak? Ayo .... buat pria yang memandangku bertekuk lutut padaku!"
Syaren dan Yumna sama-sama tertawa.
Syaren mencoba Dres yang diberikan Joan tadi pagi. Syaren keluar dari kamar ganti.
"Kak Yumna, bagaimana menurut kakak?"
"Kau cantik sekali Syaren, ayo sini kita sempurnakan dandananmu!"
Tokkk tok tok!
Suara ketukan pintu membuat Syaren dan Yumna menoleh kearah pintu.
__ADS_1
Pintu perlahan terbuka, terlihat Neneng di antara pintu itu. "Non Syaren, itu tuan Joan sudah datang, menjemput anda."
"Iya bi, sebentar lagi kami turun." Sahut Yumna.
Neneng segera pergi dari kamar itu, dia langsung menemui Joan.
***
Setelah selesai Yumna dan Sayren turun bersama. Reyhan tersenyum melihat Syaren."Ya ampun, adik kakak ternyata cantik banget!"
"Aku pergi kak," Syaren memeluk Reyhan.
"Iya, hati-hati sayang." Reyhan mencium pucuk kepala adiknya.
Syaren menuruni tangga seorang diri, sedang Yumna dan Reyhan sengaja tidak mengantar sampai kebawah.
Joan terpana, melihat seorang gadis yang nampak anggun menuruni tangga. Joan masih mematung memandangi Syaren.
Dia bagaikan bidadari, apakah pantas tangan iblis seperti Dimas menyentuh bidadari ini?
"Hei! Aku sudah siap!"
Joan menyadarkan dirinya dari kekagumannya. "Mari nona," seru Joan.
Syaren dan Joan langsung masuk kedalam mobil, perjalanan pun di mulai. Sepanjang perjalanan, sesekali Joan melirik kaca spionnya.
Ya Tuhan, jika wanita itu hanya akan jadi santapan Dimas, ku mohon lindungi dia, kirimkan malaikat penolong untuk menyelamatkannya dari iblis seperti Dimas.
"Di mana kita?" Syaren bertanya pada Joan.
"Yang jelas masih di bumi nona!"
Bukkk!
Syaren memukul bahu Joan, kesal dengan jawaban Joan.
Di depan pintu rumah yang besar itu, terlihat seorang laki-laki tampan mengenakan jas. Dia tersenyum ke arah mobil yang melaju pelan ke arahnya.
Mari kita lihat, Syaren! Bagaimana pertahanan hatimu jika aku bersikap manis padamu!
Joan turun lebih dulu, dia langsung membukakan pintu mobil di samping Syaren. Perlahan Syaren turun dari mobil Joan. Senyuman Dimas kian lebar, dia sangat terpesona dengan mangsanya. Syaren berjalan mendekat padanya.
"Masuk!!" bentak Dimas.
Astaga! Aku kira pria penggila wanita itu manis, ternyata?
Syaren menepis pikirannya, dia masuk kedalam rumah itu, mengikuti Joan dan Dimas.
Di dalam rumah, Syaren di sambut empat orang wanita cantik. Mereka semua tersenyum pada Syaren.
"Selamat malam kaka ipar." sapa salah satu wanita cantik.
__ADS_1
"Hai kaka ipar, aku Aleta, aku adik pertama kak Dimas."
"Hai sayang, aku Cintra, tante mereka, tapi mereka memanggilku mama."
"Hai kak, aku Amelia, panggil Amel."
"Hai kak, aku kembaran Amel, namaku Dzunaira panggil Aira, ingat Aira yang rambut bergelombang." seru Aira.
"Hai semua, saya Syaren, senang bertemu kalian semua." Syaren bersalaman dengan mereka bergantian.
"Bisa kita makan malam sekarang?" seru Joan.
Mereka semua berjalan menuju meja makan. Sedang Dimas, sengaja membisu. Dia ingin menguji mental calon istrinya itu.
"Ya Tuhan, diamnya saja sangat menakutkan, bagaimana kalau dia bicara." Gerutu hati Syaren.
Citra memandang ke arah Dimas. "Aku kira Dimas akan berubah menjadi lebih peduli dan lebih hangat ketika ia bilang akan menikah, tapi Dimas tetap Dimas yang dingin, apakah perempuan ini mampu bertahan disisi Dimas? Semoga perempuan ini bisa membuat Dimasku yang penuh cinta, hidup kembali!" Batin Citra.
"Ya ampun, kakakku ini seperti Singa,wanita mana yang sanggup bertahan disisinya sebagai seorang istri? Salah apa Syaren, hingga dia harus menikah dengan kakakku, apa karena kebakaran gudang waktu itu?" Gerutu batin Aleta.
"Oh Tuhan, Selama ini hanya kami yang mampu bertahan dalam sangkar emas ini, apakah perempuan ini juga mampu bertahan? Oh tidak! Jangan-jangan perempuan ini, akan mati di malam pertama! Lindungi dia." ringis hati Aira.
"Ya tuhan, semoga saja perempuan ini mentalnya kuat, aku sungguh takut, kalau perempuan ini, nekad terjun bebas dari lantai 3 rumah ini karena sikap buruk kak Dimas." dalam hati Amel.
"Joan! ikut aku keruang kerja!" Seru Dimas.
Dimas langsung berjalan ke ruang kerjanya, diikuti Joan yang berjalan belakangnya.
Setelah dua orang yang sangat primitif itu pergi. Amel, Aira, Aleta, dan Citra langsung berdiri dan mendekati Syaren.
Syaren refleks berdiri karena empat wanita menghampirinya. Keempat wanita itu memeluk Syaren bersamaan. Syaren sungguh tak menyangka, kalau keluarga dimas sungguh sangat baik. Mereka menarik Syaren menuju ruang keluarga. Mereka duduk lesehan, dan Syaren di tengah tengah.
"Syaren, Dimas itu sangat susah di tebak, perlu kesabaran tingkat tinggi berada di sampingnya." lirih Citra.
"Astaga, dia bayi atau apa? " Batin Syaren
"Iya mama benar, bukan cuma itu, kak dimas terkenal liar di ranjang, kamu bukan hanya memasang dan melepas bajumu jika kak Dimas meminta, bahkan kamu harus melepas dan memasangkan kembali celana dalamnya jika setelah berhubungan denganmu," seru Amel.
"Dasar otak mesum!!!" Citra menjitak kepala Amel.
"Awh, sakit mamah!" Rengek Amel.
"Kakak ipar juga jangan berkata apapun!! jika kak Dimas tak menyuruh kakak menjawab" kalau kakak bawel, tanduk kak Dimas akan keluar hingga 10 meter." seru aleta.
Wajah Syaren nampak takut.
"Lelaki seperti apa Dimas ini?" Batin Syaren.
"Kakak ipar harus irit kata-kata, karena kak Dimas tak suka jawaban yang memutar, jadi katakan to the point nya aja!!" seru Aira.
"Akhhggttt! Belum menikah saja rasanya aku sudah di jajah!" Syaren meringis dalam hati.
__ADS_1
Tapi dia berusaha mengukir senyuman di wajahnya.