Menua Bersama

Menua Bersama
Bab 69. Rahasia


__ADS_3

Kini Syaren, Joan, Marta dan si kembar sudah sampai di kota tinggal mereka. Marta sangat bahagia bisa menghabiskan masa tuanya bersama anak, menantu dan cucu nya.


Syaren sangat memperhatikan Marta, sehingga Marta semakin tak menyesal meninggalkan rumah nya. Waktu 2 bulan pun tak terasa di lalui. Karena 2 bulan sudah Marta tinggal serumah dengan si kembar.


Syaren sedang asyik ngobrol santai dengan mertuanya di teras, sedang si kembar asyik bermain di halaman rumah.


Nampak sebuah mobil berhenti di depan pagar.


"kak Mutia ...." Teriak si kembar bersamaan.


"Sepertinya teman Syaren datang bu ..., Syaren sambut mereka dulu ya bu " lirih Syaren.


"Iya sayang, ibu izin mau ke kamar, rasa capek terlalu lama duduk" sahut Marta.


"Bi Jejey ... tolong antar nyonya kekamar ya " pinta Syaren.


Mang Arip, Satpam rumah Joan langsung membuka kan pagar rumah. Nami dan Mutia masuk.


"Hai selamat datang penganten baru ..., sory ..., kita ngga hadir." sapa Syaren sambil memeluk Nami.


"Kamu jahat banget si..., bulan madu pas hari pernikahan kami." rengek Nami.


"Maaf ..., kami tidak bulan madu, kami menyelesaikan urusan lama dengan papa si kembar." terang Syaren.


"Gimana bulan madu kalian sukses?" Tanya Syaren.


"Ih ..., kamu ah." rengek Nami.


"Ya ampun manja amat ..., istri kamu bunting Run?" sapa Syaren yg melihat Harun mendekat.


"Emang dari pabrik aslinya begitu, Nami yang kita lihat mandiri dan tegar itu casing doang." seru Harun tertawa.


"Udah ah, aku ngga mau disini terjadi perang dunia. Ayo masuk Run ..., Nami sayang ..., anak-anak ... main nya kedalam yuk ..., " panggil Syaren.

__ADS_1


Dina dan Dona pun mengajak Mutia bermain di kamar mereka. Sedang Syaren, Nami dan Harun, duduk sofa tamu.


"Tadi siapa ren? Yang duduk sama kamu?" Tanya Nami.


"Oh ..., itu mama mertua aku " sahut Syaren.


"Kemana beliau?" Tanya Nami.


"Di kamar, udah lansia, kan gampang capek." jawab Syaren.


"Emm bener-bener, neneknya Mutia juga suka di kamar " sahut Nami.


Setelah bicara banyak hal Nami, Harun, dan Mutia pun pamit. Mereka bicara sebentar dengan Marta sebelum pamit.


*****


Si kembar sedang tidur siang, sedang Syaren sedang iseng bolak-balik majalah di sofa tamu. Lelah lihat majalah, akhirnya syaren iseng bolak balik kalender, Ia baru sadar kalau bulan ini belum dapat.


Benar saja, setelah cek up, ternyata ia hamil, baru 2 minggu terang dokter, Syaren bingung, ia hanya minta obat dan vitamin agar mengurangi mual yang sering terjadi pada awal kehamilan. karena ia berniat merahasiakan kehamilannya dari Joan.


Sesampai rumah ternyata joan sudah pulang. Dia berdiri di teras rumah menunggu Syaren.


"Dari mana kamu?" Tanya Joan, saat melihat Syaren yang baru turun dari mobil,


"Dari apotek beli obat, buat cadangan." jawab Syaren.


"Lain kali izin dulu sama aku, aku panik." lirih Joan sambil memeluk Syaren.


"Maaf ..., aku sangat takut kamu pergi gitu aja ninggalin aku, aku tak mau senasib dengan Dimas, yang diselimuti penyesalan sepanjang hidup nya." lirih Joan.


"Aku yang minta maaf, aku lupa izin sama kamu sayang, ups ...." lirih Syaren menutup mulutnya.


"Sayang? Tapi aku suka." sahut Joan tersenyum.

__ADS_1


"Ayo masuk sayang." seru Joan.


Syaren tersenyum mendengar panggilan sayang dari mulut Joan


***


Kini kehamilan Syaren masuk bulan ketiga. Hari ini Joan harus pergi dinas keluar kota.


Mumpung Joan tak ada di rumah, Syaren memutuskan bicara dengan Marta, tentang kehamilannya, Marta tengah mengaji pagi di kamarnya, ia berhenti ketika melihat Syaren masuk ke kamarnya.


"Ada apa sayang?" Tanya Marta melihat Syaren yang duduk bersimpuh didekatnya.


Syaren merebahkan kepalanya di pangkuan Marta, karena Marta duduk di kursi. Marta membelai halus rambut Syaren.


"Bu ... Syaren mau buka rahasia Syaren sama ibu, tapi ibu janji ya ngga cerita sama mas Jo." pinta Syaren.


"Insya allah sayang." sahut Marta.


"Bu ..., Syaren hamil, sudah tiga bulan, tapi mas Jo belum tau bu." lirih Syaren.


"Masya allah ...." ringis Marta, ia menangis karena sangat bahagia. Ia menarik Syaren duduk disisinya. Lalu ia ciumi wajah Syaren.


"Tunggu, kenapa kamu rahasiakan kebahagiaan sebesar ini dari suamimu nak?" lirih Marta.


"Ibu tau kan, mas Jo takut kalo aku hamil, ia masih trauma bu dengan kematian mendiang istrinya " sahut Syaren.


"Hem ..., kau benar, tapi kehamilan ini buat ibu semakin bahagia Syaren "


"Aku juga bahagia bu, tapi bantu rahasia ya ..., setidaknya sampai Syaren tidak bisa merahasiakannya lagi."


"Ibu akan berusaha semampu ibu untuk diam, namun jika suatu saat rahasia ini tak mungkin disembunyikan, maka ibu akan membukanya."


Syaren pun memeluk Marta.

__ADS_1


__ADS_2