
Semua orang sudah berkumpul di meja makan, namun Zay belum juga keluar dari kamarnya.
"Bunda cari kakak Zay dulu, ya sayang," Syaren permisi kepada semua orang.
Setelah Syaren membuka pintu kamar Zay, nampak Zay sedang melamun. Syaren tersenyum, dia berjalan ke arah Zay, lalu mengusap lembut kepala Zay, hingga Zay tersadar dari lamunan nya.
"Bunda ...." lirih Zay.
Syaren tersenyum padanya, "Melamunin apa sayang?" Tanya Syaren.
"Aku cuma merasa gimana gitu, bunda, ayah, juga Dina dan Dona sayang banget sama aku," lirih Zay.
"Kenapa harus aku bunda? Kan banyak anak-anak lain yang istimewa, kenapa bunda milih aku?" tanya Zay.
"Karena kamu berhak sayang, kita makan malam dulu sayang, nanti bunda cerita," seru Syaren.
Setelah makan malam Zay menagih janji Syaren. Kini Syaren berada di kamar Zay, berbaring bersama Zay dan memeluknya.
"Bunda punya cerita sayang, tapi Zay janji gak akan marah sama bunda ataupun ayah, mau janji?" Tanya Syaren.
"Iya bunda, Zay janji,"
"Dulu ... ada seorang wanita hamil, dia punya mimpi yang besar sayang, tapi untuk meraih mimpinya itu dengan Syarat tidak punya suami dan anak, wanita itu melahirkan anaknya secara ceasar, namun, waktu lahir, anak itu meninggal, wanita itu memalsukan kematian dirinya untuk pergi dari suaminya. Suaminya hanya tahu kalau anak dan istrinya meninggal, dia sedih, dan pergi begitu saja, karena dia sangat sakit dan kehilangan.
Ternyata ... bayi yang di vonis meninggal itu hidup kembali, sang dokter mencari orang tua bayi itu, bertahun tahun sang dokter mencari ayah bayi itu, akhirnya ketemu sayang," cerita Syaren.
"Terus ibunya di mana bunda?" Tanya Zay.
"Ibunya pergi ke luar negri sayang, mengejar mimpinya," jawab Syaren.
__ADS_1
"Mau tau siapa ayah yang kehilangan anak nya? Bukan kehilangan sih, tapi dia tidak tahu kalau anaknya masih hidup,"
"Mau bunda ..., siapa bunda? Pasti ayah itu sangat bahagia mengetahui anaknya masih hidup, dan sekarang sudah besar," seru Zay.
"Pastinya sayang, dia saangat bahagia,"
"Laki-laki itu ayah Joan sayang," lirih Syaren.
"Kasian sekali ayah terpisah sama anak kandung sendiri ya bunda, terus anak ayah Jo di mana bunda?"
"Di sini, dalam pelukan bunda," lirih Syaren.
"Kamu anak kandung ayah Zay, maafin kami karena kami baru tahu saat dokter Tari cerita," ringis Syaren.
Zay mengencangkan pelukannya.
"Makasih bunda, Zay semakin sayang sama Bunda dan ayah," ringis Zay.
"Walaupun bunda bukan ibu kandung aku, bagiku bunda tetap ibuku," ringis Zay.
"Terima kasih sayang ...." lirih Syaren.
Ceklek ...
Pintu terbuka, ternyata itu Joan.
"Oh bunda di sini, tadi ayah cari kemana mana," lirih Joan.
Zay bangun dari tempat tidur berlari ke arah Joan dan langsung memeluknya.
__ADS_1
"Lho ... ada apa ini? Jagoan ayah kok nangis?" kata Joan.
"Maaf mas, aku membuka rahasia besar kita, pada Zay, dia berhak tau siapa kamu mas," lirih Syaren.
"Maafin ayah Zay," kata Joan.
"Ayah tidak salah, aku makin sayang sama ayah dan bunda," seru Zay.
"Udah sayang ... ayo tidur dulu, besok sekolah," seru Syaren.
Zay kembali ke tempat tidurnya, dan berbaring sendirian.
"Selamat malam ayah bunda," seru Zay.
"Iya selama malam sayang." jawab Syaren dan Joan bersamaan. Mereka langsung keluar dari kamar Zay.
"Terima kasih sayang, tadinya aku bingung bagaimana bicara sama Zay, dan juga aku kira Zay hanya tahu aku ayah angkatnya selamanya," lirih Joan.
"Zay berhak tahu sayang, kalau dia punya ayah yang super hebat ini," seru Syaren.
Joan memojokan Syaren hingga ke dinding.
"Udah ah, kita tidur," seru Syaren.
"Ini kode apa?"
"Sayang aku ngantuk," jawab Syaren.
"Oh ... jadi gak bisa nih? Dosa lho nolak permintaan suami tanpa sebab." Goda Joan.
__ADS_1
"Bisa! Tapi dalam kamar!!!" Jawab Syaren.
Sangat semangat Joan menarik Syaren kekamar mereka.