
Syaren turun dari taksi, setelah membayarnya. Ia memandangi gedung Wisma Corporation yang menjulang tinggi. Entah kenapa suara berisik mengiang di telinganya.
Syaren menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya.
"Nona Syaren?" Sapa seorang laki-laki yang mengejutkan Syaren
"Oh, hai Latif ... apakah aku bisa bertemu kak Dimas?" Tanya Syaren.
"Oh tentu mari ikuti aku." sahut Latif.
Syaren berjalan mengikuti Latif. Semua mata terpana pada Syaren, batin mereka mengira Syaren sudah mengingat siapa Dimas. Sedang Syaren hanya menunduk. Syaren dan Latif memasuki lift.
Setelah keluar dari lift Syaren mengikuti Latif lagi. Hingga Latif berhenti di sebuah ruangan,
Wanita yang tak jauh dari pintu memandangi Syaren, namun Syaren pura-pura tak melihat.
Latif langsung mengetuk pintu.
Tokk tok tok!
"Masuk!" Suara itu terdengar samar.
"Masuklah nona ...." seru Latif.
"Kamu, tidak ikut masuk?" Tanya Syaren.
"Aku ada kerjaan nona, anda masuk saja, bukankah kalian sudah menikah?" ucap Latif, sambil tersenyum.
Syaren melangkahkan kakinya, memasuki ruangan Dimas.
Dimas kaget melihat siapa yang datang, ia langsung berdiri menyambut Syaren. Dimas berusaha untuk santai. "Silakan duduk." Sapa Dimas, sambil menujuk kearah Sofa.
"Terima kasih," jawab Syaren, dia pun segera duduk di sofa, yang ada di dalam ruangan Dimas.
Dimas terus berusaha agar nampak santai. Padahal, jantungnya ber irama tidak menentu. Syaren sudah dari tadi duduk, sedang Dimas hanya berdiri memandangi Syaren yang terus menunduk.
"Maafkan aku ...." ucap Syaren yang masih menundukan wajahnya.
"Maaf apa?" Sahut Dimas.
"Maafkan aku, karena aku memaksamu melakukan tadi malam."
"Aku yang harus meminta maaf, karena aku tak mampu menolakmu." sahut Dimas.
"Aku mengira kau Malik." lirih Syaren.
"Aku tahu, kau terus meracau menyebut namanya," ucap Dimas
"Aku sungguh minta maaf ...." lirih Syaren.
"Aku memaafkanmu, aku juga minta maaf, sepertinya aku menyakitimu, aku sungguh kasar hingga kau berdarah." ucap Dimas.
"Maaf, itu bukan karena kau kasar, tapi itu mamah Citra yang memaksaku melakukan oprasi penanaman selaput dara." lirih Syaren.
"Maafkan aku ... aku tak berharap apapun." lirih Dimas.
"Apa aku ... em ... sangat?" Syaren tak dapat melanjutkan ucapannya.
Dimas tersenyum, melihat Syaren yang serba salah. "Maafkan aku Syaren, aku berusaha pergi, namun kau menyerangku, dan ...." Dimas ragu meneruskan kata-katanya.
"Aku laki-laki normal, Syaren, jika wanita em ... seperti itu, aku juga tidak mampu menahan diriku."
"Aku sungguh minta maaf kak Dimas, aku sungguh tertekan karena kepergian mas Malik, maafkan aku." ringis Syaren.
"Aku memaafkanmu, tapi maafkan aku juga, karena aku menikmati semuanya. Sebab itu aku tak berani menghadapimu pagi ini." sahut Dimas.
"Apa!? Aku kira, kakak marah padaku." lirih Syaren.
"Tidak, aku---aku menikmatinya, maaf, kesalahan bukan padamu saja, tapi pada kita berdua bukan?""
Syaren bingung harus jawab apa. Karena ia pun merasakan hal yang sama seperti pengakuan Dimas.
__ADS_1
"Aku akan berusaha jadi istri yang baik buatmu. Tapi aku harus mengubur hati ini dulu, hatiku yang sekarang telah penuh dengan Malik, hatiku ini telah memilih Malik,
apa kakak mau menungguku untuk berubah?" Tanya Syaren.
"Lakukanlah apa yang membuatmu nyaman. Tapi, terimalah aku sebagai ayah bagi Reina." pinta Dimas.
Syaren menjawab perkataan Dimas, dengan senyuman dan anggukan kepalanya.
"Kak aku izin pulang dulu ya," pinta Syaren
"Sama siapa kamu kemari?"
"Naik taksi."
"Tunggu aku sebentar, jika kau mau menunggu aku sebentar, aku akan mengantarmu, aku akan pulang, untuk mengambil berkasku yang tertinggal di rumah. Tapi apa kau mau menunggu?" Tanya Dimas.
"Tak masalah, aku akan menunggu kakak, tapi, izinkan aku jalan-jalan, nanti kakak telepon saja aku, jika kaka sudah selesai," ucap Syaren.
Dimas mengangguk dan langsung melanjutkan pekerjaannya, sedang Syaren keluar dari ruangan Dimas.
Syaren berjalan menyusuri lantai teratas gedung itu. Tiba-tiba langkahnya terhenti, saat terbayang kilasan bayangan masa lalu.
Bayangan Syaren.
"Kak yumna? Siapa yg menolongku?"
"Mana aku tahu? Ingat saja tanggal dan jam nya."
"Wah kakak benar!"
....
CCTV
.....
tanggal xx xx xxxx
"Kak Yumna!" Teriakan itu begitu mengkhawatirkan.
Bayangan off.
Syaren masih mematung mengingat kilasan masa lalunya itu. "Ada apa di tanggal itu?"
Mata Syaren tertuju pada ruang control cctv.
Syaren pun melangkahkan kakinya menuju ruangan itu, dia langsung masuk, terlihat ada beberapa petugas yang jaga di sana.
"Nona?" sapa petugas, karena mereka tahu siapa Syaren.
"Bisa aku minta tolong?" Tanya Syaren.
"Apa nona? Kalau kami bisa, kami akan batu." sahut petugas
"Aku mau rekaman tanggal---" Syaren menyebutkan hari dan tanggal yang dia ingat dari kilasan bayangannya.
"Lantai berapa nona?" Tanya petugas.
"Apa ada kejadian yang tidak biasa mungkin di tanggal itu?" Tanya Syaren.
Petugas berpikir.
"Mungkin anda bisa putar rekaman dari lantai Dasar, dari jam 12 atau jam 1 ditanggal itu." usul Syaren.
Petugas pun mengambil kaset lantai dasar yang bertulis tanggal yang di minta Syaren. Petugas mulai memutar rekaman cctv itu, dia langsung percepat rekamannya, jam 1 siang, nampak tiga buah bankar masuk ke mobil ambulan.
"Stop! Kejadian apa itu?" Tanya Syaren.
"Kebakaran gudang di lantai 7." sahut petugas.
"Bisa kau putarkan itu?" pinta Syaren.
__ADS_1
Petugas mulai mencari rekamannya, lalu langsung memutarkannya.
"Maaf nona, rekamannya sebelum jam 11 sudah terhapus." ucap petugas.
"Yah, apa aku bisa lihat sisa rekamannya yang masih ada?" Tanya Syaren.
Petugas langsung memutarkan rekaman yang di minta Syaren. Syaren menyimak semua itu.
Rekaman :
Yumna terjebak dalam api, tak lama Syaren masuk menolong Yumna, Syaren mendorong Yumna keluar dari gudang, namun nampak ia terjatuh, tidak lama, datang seorang laki-laki, namun rekaman itu tidak jelas, hanya terlihat ia mengendong Syaren dengan susah payah keluar dari gudang itu.
Rekaman off.
"Adakah rekaman dari luar gudang?" Tanya Syaren mulai panik.
Petugan pun memutarkan rekaman pada luar gudang.
***
Laki-laki itu berlari menuju gudang, ia menarik Yumna yang dalam keadaan menelungkup, perlahan dia menarik Yumna ketempat yang dirasa aman, lalu ia masuk kedalam gudang yang terbakar. Tidak lama, nampak ia keluar mengendong Syaren,
saat ia membuka jasnya wajahnya sedikit mendongak, lalu menyelimuti tubuh Syaren dengan jasnya.
***
"Bisa di ulang, dan di off, tepat saat ia melepas jas?" pinta Syaren.
Syaren mengambil ponselnya dan merekamnya. Sedang petugas mengulang rekamannya.
"Berhenti!" Teriak Syaren.
Matanya terbelalak, melihat laki-laki yang menolongnya itu, ternyata Dimas.
"Kak Dimas?" Pekik Syaren.
Tiba-tiba ponsel Syaren berbunyi. Terlihat nama Dimas tertera di layar ponselnya. Syaren membiarkan ponselnya berdering.
"Terima kasih pak, sudah bersedia menolong saya, saya cuma penasaran, siapa yang menolong saya waktu itu," ucap Syaren.
Petugas hanya tersenyum.
Syaren segera meninggalkan ruang control cctv keamanan itu, langkahnya terlihat lemas, menyadari Dimas pernah menolong nyawanya. Lamunannya buyar, saat ponselnya berdering kembali. Syaren langsung menggeser icon yang bewarna hijau.
"Kau di mana? Aku sudah selesai." ucap Dimas, di ujung telepon sana.
"Aku menuju ruanganmu." ucap Syaren.
Dimas segera menutup panggilannya. Sedang Syaren segera melangkah menuju ruangan Dimas.
Sesampainya di ruangan Dimas, Dimas tersenyum padanya. "Ayo, kit pulang." seru Dimas.
Syaren hanya tersenyum dan mengangguk. Mereka pun turun bersama menuju lantai dasar.
Syaren dan Dimas sudah berada dalam mobil. Mobil yang mereka naiki tengah melaju di jalan tol. Syaren aneh melihat jalanan yang di lalui. Ia memandangi jalanan itu. Tapi tak ada apapun yang ia dapatkan dari melihat jalanan itu.
"Kak Dimas, yang lebih kenal aku, siapa yang lebih dulu? Kak Dimas atau mas malik?" Tanya Syaren
"Aku." sahut Dimas dengan santai.
Syaren hanya membalasnya dengan senyuman.
"Kenapa kau menanyakan itu?" Tanya Dimas.
"Enggak, hanya saja, rasanya aku seakan sering melihat kak Dimas, dalam bayanganku, aku merasa mengenal kak Dimas, sebelum kenal mas Malik," sahut Syaren.
"Kuharap kamu jangan mengingat masa lalumu, karena aku pria yang jahat di masa lalumu." sahut Dimas.
Syaren melirik sedikit kearah Dimas, sedang Dimas fokus memandangi jalanan fi depan matanya. Setelah lama berkendara mereka sampai rumah.
Sesampai di rumah, Syaren langsung bermain dengan Reina, sedang Dimas langsung keruang kerjanya. Untuk mengambil berkas yang tertinggal.
__ADS_1