
Dua hari sudah Dimas pergi tanpa kabar padanya, Sayren mulai cemas, apalagi beberapa hari ini perasaan nya sungguh tak nyaman. Belum lagi sifat Citra yang jauh berubah padanya. Syaren selalu berusaha menelpon Dimas, namun tak bisa. Karena Dimas sudah memblokir nomer ponsel Syaren. Dimas hanya mengabari Citra, tentang perkembangan aira.
*****
Pagi ini Bella memgunjungi Aira, untung Dimas sedang berkunjung keruangan Mey.
"Hai tante ... makasih tante." seru Aira yang melihat Bella, berjalan kearahnya.
"Apa kamu senang dengan hasilnya? " Tanya Bella
"Sangaaat tante." jawab Aira.
"Semua itu harus kau bayar." seru Bella.
"Bayar? Bayar dengan apa tante?" Tanya Aira.
"Aku ingin Forsa, tinggalkan Forsa bersama ku, atau? " lirih Bella.
"Atau apa tante?" Tanya Aira.
"Atau aku katakan pada kakakmu, bahwa selama ini kamu bersenang-senang dengan laki-laki di sini." seru Bella.
"Tapi aku terlanjur sayang sama Forsa tante," lirih Aira
"Kau muda cantik ... mudah bagi mu mendapat laki-laki lain ..., lepaskan Forsa." lirih Bella.
Dengan sangat terpaksa Aira setuju melepaskan Forsa. Dari pada, rahasianya ketahuan Dimas.
Tante Bella si*lan! Dia menjebakku, dia menginkan Forsa juga ternyata. Gerutu hati Aira.
Dimas baru masuk ruangan Aira, dia heran ada wanita di samping Aira. "Pagi ...." sapa Dimas.
"Pagi ...." sahut Bella.
"Maaf anda siapa?" Tanya Dimas.
"Oh ... saya teman Arisan Aira di daerah," Bella menyebutkan kota, tempat Reyhan tinggal.
"Aku kemari hanya mengantar tas Aira saja." seru Bella.
"Bagaimana anda tahu Aira di sini?" Tanya Dimas.
"Oh, kebetulan Forsa keponakanku, dan aku di sini karena kunjungan kerja suamiku." sahut Bella, Bella pun menyerahkan tas Aira pada Dimas.
"Oh ya, aku permisi ... dah Aira sampai ketemu lagi." ujar Bella sambil berjalan meninggalkan ruangan itu.
"Kak ... besok aku sudah boleh pulang " seru Aira.
"Bagus ... tapi kita harus tetap di sini." seru Dimas.
"Lho, kenapa kak?" Tanya Aira.
"Aku menemukan Meydarica, di sini." ucap Dimas
"Apa kak Mey?"
__ADS_1
"Aku masih mencintainya." seru Dimas.
"Gimana Syaren?"
"Kita akan balas Reyhan melalui Syaren." seru Dimas.
Aira hanya diam, ia merasa bersalah, namun ia tak berani menentang rencana Dimas.
Dimas kembali kekamar Mey, ternyata Mey sedang siap-siap untuk pulang.
"Mau kemana kamu?" Tanya Dimas, pertanyaannya mengagetkan Mey.
"Aku boleh pulang, lihat aku sudah sehat." Jawab Mey.
"Kamu?" Tanya Mey.
"Aira juga boleh pulang, hanya saja kami belum menemukan tempat tinggal di sini." sahut Dimas.
"Kalau kau mau ... ada apartemen yang tak jauh dari blok aku tinggal, tempat itu masih disewakan berserta isinya, aku akan membantumu." lirih Mey.
Tak basa-basi, Dimas pun setuju.
Setelah kembali kekamar Aira, Dimas menelpon Citra, agar membakar semua foto-foto nikahnya dengan Syaren.
Ia memberitahu kalau di gudang masih ada beberapa foto ukuran besar agar segera di musnahkan. Juga baju baju Syaren di kamarnya, agar dipindahkan kekamar Malik.
"Mah ... buat Syaren tanda tangan pada surat cerai mah, aku benar-benar tak bisa hidup dengan Syaren, jika aku melihatnya, aku teringat penderitaan Aira." lirih Dimas
Citra pun melakukan intruksi dari Dimas. Karena ia pun merasa menderita jika teringat kondisi Aira. Syaren yangg baru kembali dari ziarah makam orang tuanya serta makam Malik dan anaknya, merasa heran karena kamar Dimas dikunci.
"Mba kenapa kamarnya di kunci?" Tanya Syaren kepembantu yang lewat.
Syaren pun kembali kekamarnya dan Malik yang dulu.
""""""
Tiga hari sudah Aira dan Mey sama-sama keluar dari rumah sakit. Malam ini Dimas dan Mey makan malam di rumah Mey. Setelah makan malam, Dimas dan Mey asyik ngobrol di balkon apartemen Mey. Tanpa keduanya sadari, ada dua orang yang meng endap-endap dalam ruangan sana. Dua orang itu memasukkan sesuatu kedalam gelas minuman yang ada di meja tamu, selesai tugasnya, dua orang itu langsung pergi.
"Ayoo kedalam, nanti teh kamu dingin." seru May.
Mereka berdua kembali kedalam dan duduk di sofa tamu.
Dimas meraih gelas minuman yang ada di meja tamu. "Ceritakan apa yang terjadi padamu 7 tahun terakhir ini." pinta Dimas. Perlahan dia meminum teh nya.
Mey menarik begitu dalam nafasnya, mengumpulkan tenaga untuk bercerita pada Dimas. "Sejak kita lulus kuliah, aku sangat terpukul mendengar Dokter memvonisku, kalau aku menderita kanker otak, sejak itu aku pergi jauh darimu." lirih Mey
"Bukankah kau tahu aku sangat mencintaimu?" lirih Dimas.
"Karena aku tahu kau sangat mencintaiku, sebab itu aku pergi, aku takut jika kau tau aku mati, kau tak akan melanjutkan hidupmu, itu sebabnya aku menghilang tanpa jejak." jelas Mey.
"Tapi itu sama saja. Aku tersiksa karena kepergianmu." lirih Dimas.
"Tidak ... setidaknya kau bisa melanjutkan hidupmu bukan?"
"Kalau kamu? Apa kamu sudah menikah?" Tanya Mey.
__ADS_1
"Aku terpaksa menikahi janda Malik." seru Dimas berbohong.
"Janda malik? Apa maksudmu?"
"Malik sempat menikah, tapi dia meninggal, dan memintaku menikahi istrinya, sebenarnya, aku tak mau, karena di hatiku cuma ada kamu," Dimas menatap sayu wajah Mey.
"Namun, melihat penderitaan Malik, aku tak tega menolak permintaan terakhirnya." lirih Dimas.
"Kenapa Malik meminta itu?"
"Karena Malik melihat kekosongan di hatiku, dan kekosongan di hati istrinya, jika ia meninggal." sahut Dimas.
"Apa kau mencintai istrimu?"
"Tidak!" Sahut Dimas tegas. Kebenciannya pada Reyhan membuat rasa cintanya pada Syaren tertutup oleh kabut benci, dan sekarang ia menemukan Mey. Dia menumpahkan perasaan hancurnya, pada Mey.
"Apa kalian pernah melakukan hubungan suami istri?"
"Pernah, satu kali," ucap Dimas, terus berbohong lagi.
"Satu Kali?" Mey malah tertawa.
"Kenapa kau tertawa?" Tanya Dimas.
"Kenapa cuma satu kali saja? Bukankah dia istrimu?"
"Karena aku tak mencintainya." lirih Dimas, dia menatap tajam pada Mey. Perasaannya tiba-tiba aneh, ada yang meledak-ledak di dalam dirinya.
"Itu pun karena dia memberiku obat perangsang, aku melihat dia dirimu." ucap dimas yang masih memandangi Mey.
"Maafkan aku." lirih Mey, dia merasa tak enak Dimas memandanginya.
"Jangan minta maaf, tapi kembalikan hatiku yang telah kau bawa pergi." lirih Dimas, dia mendekati Mey.
"Dengan cara apa aku mengembalikannya?" ucap Mey bingung.
Dimas semakin mendekati Mey, posisi mereka berdiri berhadapan. Dimas berusaha mengontrol ledakan dalam dirinya yang semakin tidak terbendung.
"Pejamkan matamu Mey, katakan, kau tak mencintaiku." bisik Dimas. Tangannya memegangi tengkuk Mey.
"Aku tak mencintaimu." ucap Mey.
"Bukan begitu mey ... pejamkan matamu, katakan, kau tak mencintaiku." lirih Dimas lagi.
"Aku tak mencintaimu Dimas, aku tak mencintaimu," lirih Mey, mangulangi ucapannya.
"Katakan terus Mey." lirih Dimas.
Mey terus berkata ber ulang-ulang "Aku tak mencintaimu."
Dimas menarik wajah Mey, dia mulai menciumi leher Mey. Hingga Mey tak sadar berkata. "Aku sangat mencintaimu Dimas ... aku selalu mencintaimu Dimas." lirih Mey.
Kata-kata Mey membuat Dimas tersenyum lebar, Dimas kehilangan kontrol dirinya, setelah minum tiba-tiba kehausan akan yang satu itu tidak mampu ia tahan, ia melepaskan ledakan itu bersama Mey.
"Aku benar-benar mencintaimu Mey ... aku akan pulang ... ikutlah bersamaku Mey." Lirih Dimas. Dimas ingin menyakiti Syaren, sebagai pembalasannya pada Reyhan.
__ADS_1
Mey pun setuju, karena Dimas telah menggaulinya, ia takut hamil, pengobatannya juga sudah selesai di sini.
Tiga hari kemudian Mey, Dimas dan Aira kembali ke tanah air.