Menua Bersama

Menua Bersama
Bab 80. Batal Rilis


__ADS_3

"Bunda kenapa menangis?" Tanya Zay.


Syaren dan Joan terkejut mendengar suara Zay, melihat Zay di bantu keluar dari lift tarik pembersih kaca itu Joan langsung menghampiri dan membantu Zay.


"Walah bapak ... anaknya kok di biarin main di sisi gedong, kalo gak ada lift saya ini modar lho anak bapak!!!" Seru petugas kebersihan yang tidak sengaja menolong Zay yang jatuh saat di dorong Geral.


Joan memeluk erat Zay, hatinya sangat bahagia putranya baik-baik saja.


"Ada yang sakit sayang?" Syaren panik mengingat Zay jatuh.


"Enggak bunda, tapi tangan aku sakit, karena nyangkut tadi," seru Zay.


"Ya sudah ..., nanti kita periksa ke dokter sayang, pak terimakasih, anak saya bukan main pak, tapi tadi dia korban penodongan," seru Syaren.


"Pak, ini kartu nama saya, sebagai ucapan terimakasih saya pada bapak, karena nolong anak saya, silahkan bapak suruh anak bapak, menantu atau keluarga bapak yang perlu pekerjaan, suruh mereka datang ke kantor saya, saya akan beri pekerjaan sesuai kemampuan mereka," terang Joan.


"Wah ... terimakasih kembali pak," seru petugas kebersihan.


"Kami pamit dulu pak, selamat bekerja dan sampai ketemu lagi," seru Joan


Joan dan syaren pergi, mereka lupa bertanya siapa nama penolong Zay tadi. Zay di periksa dokter, bahu Zay sedikit terkilir, Zay kini di tangani tim medis.


"Mulai sekarang kalian hati-hati, aku takut Geral akan nekat lagi menyakiti kalian, tapi aku pastikan kali ini aku akan menuntutnya," seru Joan.

__ADS_1


"Ayah ..., ayah lebih dulu kenal sama bunda apa wanita yang dorong aku tadi?" Tanya Zay.


"Lebih dulu kenal sama bunda sayang," jawab Joan.


"Kok ayah nikahnya sama wanita itu? Bukan sama bunda? Kalau ayah nikahnya sama bunda duluan pasti aku lahir dari rahim bunda, bukan wanita jahat itu," seru Zay kesal.


"Kamu? Kamu dengar semuanya sayang?" Lirih Joan.


"Iya aku dengar, kok aku malu ya punya mama seperti itu," rengek Zay.


"Zay ... sayang ... walaupun kamu tidak lahir dari rahim bunda, bagi bunda Zay anak kandung bunda, sama seperti Dina dan Dona sayang," seru Syaren.


"Terima kasih bunda, aku akan jaga bunda dengan nyawaku," seru Zay dengan bangganya.


Setelah pengobatan Zay selesai mereka semua kembali pulang ke rumah, ada pemandangan yang beda di area rumah. Syaren nampak keheranan melihat keadaan rumah mereka.


Sejak hari itu tidak sembarangan orang lagi bisa masuk ke rumah Joan, pengamanan sungguh ketat.


***


Hari bahagia kembali menyelimuti keluarga Joan dan Syaren. Karena Syaren melahirkan bayi laki-laki yang sangat tampan, mereka beri nama Nathan Ismail, yang di ambil dari nama Joan, Jonathan.


Suasana rumah sangat heboh karena kehadiran bayi laki-laki ini. Dina dan Dona selalu bertengkar berebut posisis yang paling dekat dengan adik kecil mereka itu.

__ADS_1


Marta semakin bahagia, karena bisa berkumpul dengan anak cucunya di usia senjanya kini.


"Terima kasih Syaren, kamu adalah pelangi di keluarga ibu," seru Marta.


"Pelangi tidak akan ada bu jika mentari tidak bersinar setelah hujan reda," seru Syaren.


"Mentari siapa bunda?" Tanya Dona mengacaukan suasana.


"Mentari itu nama buat adik kalian yang baru nanti," seru Marta.


"Yeaaay ... dapat adik lagi ... hore!!!" Teriak Dona, Dina, dan Zay bersamaan, hingga mengundang tangis si bayi yang tadi enak-enaknya tidur.


"Bunda ... kapan adik baru kami datang?" Tanya Zay.


"Oh No! Kalian berempat saja sudah membuat kepala kami pecah!!" Ucap Syaren dan Joan bersamaan.


"Ayah dan Bunda memang kompak!" Seru Dina.


"Kapan Mentari datang?" Tanya Dona.


"Tidak ada adik baru lagi, ini terakhir!" Seru Joan


"Yah ... Mentari batal rilis ya bund?" seru Zay.

__ADS_1


"Tidak ada adik lagi titik!" jawab Joan dan Syaren bersamaan lagi.


Semua orang tertawa karena kekompakan bicara ayah bunda mereka.


__ADS_2