
Setelah pertemuan yang tidak sengaja dengan Dimas, membuat Syaren takut, kalau-kalau Dimas datang dan meminta hak nya atas anak yang ia kandung.
Syaren langsung menelpon Reyhan, untuk meminta bantuan kakaknya itu.
"Ada apa Ren?" Tanya Reyhan.
"Kak bantu aku pergi dari sini, aku tak mau Dimas mengambil anakku kak, dia tahu aku hamil anaknya," rengek Syaren.
"Kamu tenang ..., kakak akan bantu kamu syaren," lirih Reyhan.
"Secepatnya kak, carikan aku tempat baru yang tidak diketahui Dimas kak," ringis Syaren lagi.
"Okey ..., aku ada banyak teman di daerah," Reyhan menyebut nama kota yang dia maksud.
"Di sana kota berkembang, jadi kalau kamu di sana kamu bisa memberikan pendidikan terbaik untuk anakmu. Aku akan menyediakan semuanya untukmu di sana."
"Baik kak, aku percaya pada kakak, di manapuj, asalkan Dimas tidak menemukan kami."
Setelah mengucapkan salam perpisahan, panggilan telepon berakhir.
Syaren mulai bebenah secukupnya, ia masukan beberapa vitamin dalam tasnya, dan beberapa keperluan lainnya kedalam koper. Segera Syaren memesan taksi online untuk menuju terminal bus. Setelah berpamitan dengan para pembantu, Syaren pergi naik taksi online.
Perjalanan yang panjang mulai ia tempuh dari naik taksi online, lalu naik bus antar propinsi, setelah itu naik travel, lalu naik kereta api.
Sehari semalam Syaren habiskan hanya untuk berkendara.
"Maafkan aku kak Dimas, aku bukan ingin memisahkan kamu dan anakmu, tapi pilihan hatimu tertuju buat Mey, aku ngga mau Mey yang baru sembuh dari sakit terluka lagi," lirih syaren.
Mungkin lebih cepat naik pesawat,namun Syaren tak mau Dimas mudah melacaknya. Kini Syaren tiba di sebuah kota, ia disambut seorang wanita adik dari sahabat Reyhan.
"Hai kamu pasti Syaren bukan? Aku Namima adik Galang teman pak Reyhan," Nami menyambut Syaren.
"Iya aku Syaren, terima kasih sebelumnya," seru Syaren.
"Mari ikut aku, Reyhan sudah membelikan rumah untuk mu dan menyiapkan dua pembantu buatmu," seru Nami.
Nami mengantarkan syaren kerumah yang sederhana yang disiapkan Reyhan buatnya. Ia di sambut dua orang, yang pertama mengenalkan diri bi Atun, dan yang kedua bi Marfu'ah. Akhirnya Syaren masuk kedalam. Setelah membantu Syaren, Nami pamit izin pulang.
Selama tinggal di kota ini, Syaren menyibukkan dirinya dengan aktivitas di Panti Asuhan. Syaren mulai bisa melupakan Dimas, karena ia punya kesibukan baru.
Benar dugaan Syaren, Dimas di kota asalnya, mulai mencari-cari Syaren, Syaren mendapatkan informasi dari Reyhan, kalau beberapa kali Dimas datang kerumah Syaren, bahkan nekat nyelonong masuk, namun tak menemukan Syaren. Dimas mulai mengarahkan kekuatannya, mulai mencari di tempat Yumna juga di tempat Reyhan, serta mencari informasi di setiap bandara. Namun hasilnya nihil.
*****
__ADS_1
Di ruang kerja yang ada di rumah Dimas, penyesalan Dimas kian memuncak, dia tidak bisa menemukan di mana Syaren. Dimas tak sengaja berteriak menumpahkan semua kekesalannya. Hingga Mey mendengarnya.
"Apa mas mencintai Syaren? Hingga mas terus mencarinya?" Tanya Mey.
"Aku tak mencintainya," ucap Dimas, berusaha berbohong.
"Kalau kamu tak cinta, kenapa kamu buang-buang waktu mencarinya?!" Teriak Mey.
"Karena di membawa pergi membawa anaku!!!" Teriak Dimas.
"Dari mana mas tahu kalau Syaren hamil?"
"Saat aku menemanimu cek up, aku bertemu dengannya di luar, dia waktu itu juga sedang cek up, sebab itu aku mencarinya, aku hanya ingin anakku, saat ku datangi kerumahnya ternyata dia sudah pergi juga dari rumah itu," lirih Dimas.
"Tentu Syaren pergi dari mu, perasaan ibu peka, kalau ayah anak itu ingin merebut anaknya." sahut Mey.
"Tapi dia juga anakku." lirih Dimas.
"Tapi Syaren yang berjuang sama seperti ku," lirih Mey.
"Ibu mana yang rela anaknya di ambil begitu saja," sahut Mey lagi.
Dimas menatap Mey,
"Apa kau akan meninggalkanku juga?" lirih Dimas.
Dimas tak tahu harus apa, namun ia akan berusaha membuat Mey nyaman.
"Jangan tinggal kan aku lagi," lirih Dimas memeluk Mey yang duduk di kursi roda.
"Cintamu akan selalu bersamaku mas," sahut Mey.
"Baiklah ..., aku tak akan mencari Syaren dari sekarang, karena sekarang kamulah tujuan utama hidupku," ucap Dimas. Namun kata-kata itu bertolakan dengan hatinya.
Hatinya sangat ingin Syaren.
"Tapi aku akan mencari Syaren sembunyi-sembunyi," lirih hati Dimas.
Hari hari Mey pun di penuhi kebahagiaan bagi Mey. Dimas sangat pandai menutupi perasaannya, ia memproiritaskan Mey dalam segala hal, namun tak luput sedetik pun Dimas merindukan Syaren. Cintanya pada Syaren begitu besar, tapi rasa kasihannya pada Mey, membuat dia tidak berdaya.
***
Panti asuhan yang berdiri itu berkat kerja sama beberapa donator, diantara donatur tetapnya adalah :
__ADS_1
Reyhan
Galang
Abimayu
Harunnur Rasyid
Syaiful Umar
Yang aktif mengelola Galang, Abi, Iful. Harun seorang duda, ia tak bisa full mengelola panti itu, hanya sesekali datang itu pun jika perlu.
Nami sejak lama menaruh hati pada Harun, namun Harun tak pernah bisa menerima cinta dari perempuan manapun, sampai saat ini. Hingga Nami menyembunyikan cintanya buat Harun.
Kehidupan baru Syaren berjalan indah di kota ini. kehamilan syaren masuk bulan ke sembilan. Syaren tak lagi pergi ke panti saat kandungan nya naik bulan kesembilan.
Entah kenapa pagi ini tak ada orang satupun di rumah Syaren. Syaren mengambil tas yang sudah lama ia sediakan, lalu berjalan perlahan menuju jalanan. Walau rasa sakit nya mulai berasa.
"Sabar sayang ... bantu bunda bertahan sayang," pekik Syaren sambil menahan sakitnya. Syaren menarik nafas perlahan, setelah itu melanjutkan langkah kakinya.
Kini syaren berdiri di tepi jalan berharap ada yang lewat dan menolongnya. Namun entah mengapa tak ada juga orang yg lewat, rasa sakit Syaren semakin kuat.
"Tolong bunda sayang ... kuatkan bunda .... " lirih Syaren.
Di kejauhan nampak mobil yang melaju. Segera Syaren melambaikan tangannya, mobil itu pun berhenti.
"Pak ... bbisa tolong saya pak ... saya akan melahirkan," pekik Syaren menahan rasa sakitnya.
"Tentu!" sahut laki-laki itu, segera Syaren naik mobil.
"Suaminya mana mba?" Tanya laki-laki itu.
"Sejak hamil 1 bulan kami cerai," sahut Syaren sambil berusaha tersenyum karena ada anak manis duduk di depan memandanginya.
"Maaf ya mba," sahut laki-laki itu.
"Saya Syaren," lirih Syaren, Memperkenalkan diri.
"Oh, saya Harun, ini anak saya Mutia," sahut Harun.
"Kamu Syaren adik Reyhan?" Tanya Harun.
"Iya," sahut Syaren. "Anda kenal dengan kaka saya?" Tanya Syaren.
__ADS_1
"Iya ..., Reyhan sahabat almarhum istri saya Junaya, tapi dia meninggal 3 tahun lalu," sahut Harun.
Mobil pun sampai rumah sakit, setelah Syaren di bawa keruang bersalin, Harun segera mengabari Reyhan dan Nami, kalau Syaren akan melahirkan.