Menua Bersama

Menua Bersama
Bab 39. Kelahiran.


__ADS_3

Yumna dan Adly, Reyhan dan Aira, Andrey dan Amel, mereka semua datang kerumah sakit menjenguk ponakan mereka yang baru lahir.


"Bagus kalian datang, itu ponakan kalian," seru Citra.


Reyhan langsung menggendong bayi Syaren.


"Wah ... ini mamanya banget neh, gini lho Syaren waktu bayi."seru Reyhan menimang bayi Syaren.


"Iya apalagi bagian bawahnya, punya mamanya seratus persen." seru Amel.


Mereka semua tertawa.


Tidak terasa, karena keseruan mereka waktu berlalu begitu saja, kini sudah larut malam, pasangan suami istri itu segera pulang, kerumah mereka masing-masing. kini hanya Citra dan Malik di rumah sakit menemani Syaren.


Keadaan Syaren dan bayinya sangat sehat, besok harinya,mereka di perbolehkan pulang oleh dokter yang menanganinya. Sekitar jam 12 siang, Syaren dan bayinya sampai rumah.


Malik sangat telaten memperhatikan Syaren, dia menggandeng Syaren masuk kedalam rumah, sedang Citra yang menggendong bayi Syaren dan Malik.


Syaren duduk di karpet tebal, yang ada di ruang tamu, dia meluruskan kakinya, sedang tubuhnya bersandar pada Malik. Sedang bayi Syaren di kerumuni Amel, Aira, dan Yumna.


"Kalian sudah tentukan nama buat bayi kalian?" Tanya Citra.


Syaren dan Malik kompak menggelengkan kepala mereka.


"Istirahatlah, dan pikirkan nama buat bayi kalian." seru Citra, Citra langsung berdiri, dia meninggalkan mereka semua.


"Eriena khumaira Malik." seru Malik


"Nama yang sangat bagus, kita panggil dengan nama apa?" Tanya Syaren.


"Reina, bagaimana?" Tanya Malik


"Boleh ... aku suka nama itu." seru Syaren.


Yumna tengah menggendong bayi Syaren, entah kenapa bayi itu menangis, membuat Yumna panik, dia segera memberikan bayi itu pada Syaren.


"Kalian apakan anaku? Hingga dia menangis seperti ini." rengek Syaren, dia berusaha menahan tawa, melihat kecemasan di wajah Yumna.


"Kami tidak tahu, tiba-tiba dia menangis kencang." sahut Yumna.


"Mas tolong ambilkan pelindung ...." Syaren mengisyarat kalau ia akan menyusui bayinya.


Segera Malik memasangkan kain pelindung menyusui pada Syaren. Bayi itupun langsung diam seketika, Ia menangis, karena ia haus.


"Ren melahirkan itu sakit ngga?" Tanya Yumna.


"Engga ... nikmat malah, buktinya mommy kita nggak pernah jera tuh, tiga kali malah." seru Syaren


"Ahh serius dong!" Rengek Amel.


"Kalau sakit banget, pasti jera! Coba ingat, mama kalian hamil dan melahirkan berapa kali? Nggak cuma sekalikan?" Seru Syaren sambil tertawa.


"Tapi mama Citra melahirkan cuma sekali, artinya jera ya?" Tanya Aira.


Bough!


Malik memukul Aira dengan bantal.


"Setelah umur ku tiga tahun, ayah meninggal, bagaimana mama hamil lagi?" sahut Malik


Aira memasang senyum yang dia paksakan.

__ADS_1


*****


Hari berlalu sangat indah, ada mainan baru di rumah itu. Sekitar jam 8 malam


Reyhan, Andrey, Adly, dan Dimas datang beriringan. Terdengar suara-suara yang seru dari dalam rumah, Ternyata mereka video call bersama Aleta.


Para laki-laki yang baru pulang kerja, mereka langsung pergi kekamar masing-masing. Setelah mandi, dan menunaikan kewajiban, mereka semua segera turun untuk makan malam dan berkumpul bersama yang lainnya.


"Mas, makanlah dulu sama mereka, nanti mas suapi aku." pinta Syaren pada Malik. Malik tersenyum, dia sangat senang Syaren bermanja padanya. Dia segera segera bergabung, untuk makan bersama penghuni rumah lainnya.


Reyhan tengah mengendong bayi Syaren, Reyhan sunguh luwes menggendong bayi, membuat mata yang melihatnya ikut tersenyum. Sedang Syaren, dia menikmati makan malamnya, disuapi oleh Malik.


Aira sungguh iri melihat kemesraan Malik dan Syaren. "Pengen cepat hamil ... biar dimanja suami," ringis Aira


"Kamu ngga hamil aja, selalu aku manjain." seru Reyhan.


Wajah Aira memerah menahan malu, karena Reyhan berkata seperti itu, di tengah-tengah keluarga besaranya.


Sedang Dimas, dia fokus memandangi bayi Syaren, yang ada dalam gendongan Reyhan.


"Mau gendong?" Tanya Reyhan.


"Aku ngga bisa! Dan aku belum pernah." seru Dimas.


Aira memposisikan tangan Dimas, sedang Reyhan memberikan bayi Syaren perlahan ketangan Dimas. Seketika air mata Dimas menetes.


"In---ini, pertama kalinya aku nggedong bayi." ringis Dimas sambil tersenyum.


"Makanya cepat cari cetakannya, biar di cetak di tempat yangg benar!" seru Amel


"Hei apa maksudmu!" Bentak Dimas.


"Kakak kan suka buang-buang intisari calon manusia sembarang tempat! Buktinya entah berapa wanita yang kakak bawa ke hotel!" teriak Amel, dia langsung lari kekamarnya, takut di marahi Dimas.


Karena sudah malam, Andrey pamit karena Amel sudah pergi lebih dulu kekamar mereka. Reyhan dan Aira juga permisi kekamar mereka, langkah Aira di susul Yumna dan Adly yang menginap di sana juga. Kamar Yumna dan Adly berdekatan dengan kamar Aira.


Citra berjalan kearah Syaren dan Malik. "Kalian sudah tentukan nama? Soalnya mama sudah tentukan hari untuk hajatan kecil-kecilan, sekalian aqiqah buat bayi kalian." seru dimas.


"Ereina Khumaira Malik" seru Malik.


"Reina ... hai apa kabar?" lirih Dimas.


Dimas tak tahan lagi, menahan perasaan nya, dia segera memberikan bayi itu, pada Malik.


"Aku juga permisi, aku ngantuk!." lirih Dimas.


Karena semua orang kembali ke kamar mereka masing-masing, Syaren dan Malik pun menuju kamar mereka.


*****


Umur Rein 10 hari, Citra memgadakan akikah di sebuah mesjid yang di bangun Dimas, Reyhan, dan Malik. Citra enggan mengadakan selamatan di rumah Dimas, karena ia tak mau membebani perasaan Dimas. Citra tau, kalau Dimas masih mencintai Syaren.


Acara terus berlangsung. Hanya Malik yang membawa bayinya kedalam mesjid untuk pemberian nama. Sedang Syaren hanya menunggu di mobil.


Acara aqiqah, berjalan dengan lancar. Syaren lansung pulang di antar Joan, sedang yang lain masih berkumpul di mesjid itu.


***


Syaren dan Joan dalam perjalanan, menuju rumah Dimas.


"Kenapa nona tak masuk kemesjid?" Tanya Joan memecah kesunyian.

__ADS_1


"Saya Nifas." jawab Syaren.


"Oh maaf, saya lupa."


"Bagaimana keadaan istrimu Joan?" Tanya Syaren.


"Oh, dia baik nona." sahut Joan.


Setelah lama berkendara, entah berapa kali baby Reina menyusu, selama perjalanan. Akhirnya, dia sampai rumah juga. Joan membukakan pintu mobil, kemudian mengambil kan tas perlengkapan bayi, milik Syaren.


Terlihat di depan pintu, Maria sudah berdiri untuk menyambut Syaren. Joan langsung menyerahkan tas bayi pada Maria, dia langsung pergi dari rumah Dimas, karena tugasnya sudh selesai. Syaren langsung masuk kekamarnya untuk istirahat.


Semua orang yang amsih ada di mesjid, mereka gotong royong, membersihkan mesjid. Selesai bersih-bersih, mereka semua langsung pulang.


Sedang Reyhan pergi kerumah sakit untuk menanyakan tentang Syaren, pada dokter yang sebelumnya menangani syaren.


Setelah sampai rumah sakit, Reyhan melihat wajah Aira begitu pucat. Dia membawa Aira ke UGD lebih dulu, sebelum menemui dokter yang dia tuju.


Aira keberatan, di bawa Reyhan ke UGD. "Aku ngga sakit kak Rey, aku cuma lelah aja." lirihnya.


"Nggak apa-apa, kamu periksa dulu, biar cepat segar kembali." seru Reyha. Aira pasrah, dia mengikuti, apa kemauan Reyhan.


Setelah masuk UGD, Aira langsung di tangani dokter.


"Apa yang anda rasakan saat ini nona?" Tanya dokter.


Aira mulai menceritakan keadaannya, dan apa yang dia rasa saat ini.


"Kapan terakhir anda datang bulan?" Tanya dokter.


"Saya lupa Dok, kapan ya datang bulannya?" gumam Aira.


"Akhir-akhir ini, saya datang bulannya ngga teratur, jadi saya lupa kapan." jawab Aira.


"Kalau begitu, kita lakukan USG saja untuk memastikan keadaan rahim anda." seru dokter.


Aira pun berpindah ruangan, kini dia berada di ruangan dokter kandungan. Reyhan selalu setia di samping Aira.


Dokter mulai melakukan USG.


"Selamat, Pak. Istri anda tengah hamil," seru dokter, dia masih menggerakkan alan USG di atas perut Aira.


"Istri saya hamil dok?" Tanya Reyhan.


"Iya, selamat Pak." seru Dokter.


Reyhan segera memeluk Aira. "Makasih sayang ...." lirih Reyhan.


Setelah selesai dengan dokter kandungan, Reyhan dan Aira berjalan menuju ruangan dokter yang menangani Syaren.


Akhirnya mereka bertemu dokter itu, Reyhan langsung menceritakan keadaan Syaren, yang sekarang.


"Sepertinya, ia akan kehilangan memorinya selamanya, namun ini hanya perkiraan." kata dokter.


"Apakah bahaya dok?" Tanya Reyhan.


"Tidak! Hanya saja ia lupa, kesehatan sudah jauh membaik sebelum ia menikah dulu." sahut Dokter.


Rumah Dimas heboh, dengan kabar kehamilan Aira. Keadaanpun semakin ramai.


"Kami izin pulang mah, biar Aira istirahat di rumah." seru Reyhan.

__ADS_1


Semua orang juga ikut pulang kerumah suami mereka. Rumah Dimas menjadi sepi lagi.


__ADS_2