
Setelah melalui proses lamaran yang menegangkan akhirnya malam ini Nami dan Harun bertunangan.
Si kembar nampak cantik dengan gaun yang dibelikan Joan. Syaren pun terlihat sangat manis dengan dandanannya.
Mutia yang membawakan cincin pertunangan membuat gemas orang yang melihatnya, gadis umur 7 tahun yang cantik.
setelah acara penyematan cincin akhirnya semua acara lainnya pun selesai, kini acara makan makan.
"Bunda .. apa benar kak Nami jadi mama kak Mutia?" Tanya Dona.
"Iya sayang ... karena papanya kak mutia akan nikah sama kak Nami," sahut Syaren dengan nada yang lembut.
"Bunda kapan nikah sama om Joan? Aku juga pengen seperti kak Mutia punya papa mama," seru Dina.
"Uhukkk!" Syaren dan Joan tersedak bersamaan, mendengar pertanyaan Dina.
"Lah ... kok bunda sama om Joan pada batuk-batuk?" Seru Galang, dia kebetulan melewati meja Syaren, Joan, dan si kembar.
"Ngggak tau om, kita cuma nanya, kapan om Joan jadi ayah," kita seru Dona.
Galang tersenyum, dia memandangi Syaren dan Joan yang salah tingkah. "Oh ... Dona sama Dina juga pengen seperti kak Mutia, punya papa mama?" seru Galang,
"Iya om ... ditanya malah batuk, kompak pula batuknya," ketus Dina.
Syaren meraih tisu, dan memebersihkan bibirnya. "Sayang ... membuat seseorang jadi ayah itu tidak mudah," lirih Syaren.
"Siapa bilang susah, bunda tunggu ... aku mau bicara sama om Harun," kata Dina, dia langsung berlari menuju harun.
"Astaga ... anak itu akan bikin aku malu!" ringis Syaren,menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya..
Galang menggeleng melihat Syaren dan Joan. "Tinggal turutin aja apa susah nya sih!" Seru Galang sambil meninggalkan meja Syaren.
Terlihat Dina kembali dengan wajah cemberut. "Apa aku bilang, bunda aja yang ngga sayang kita, kata om Harun sama kak Nami mudah kok, tinggal nikah aja!" Rengek Dina.
Syaren sungguh tidak nyaman pada Joan, dia tersenyum, tapi senyuman yang sangat dipaksakan. "Ha ha haaaa, Joan, maafin anak-anak aku ya ...." ringis syaren, dia sungguh tidak enak mendengar kata-kata Dina.
__ADS_1
"Emang Dina sama Dona, mau punya ayah seperti om?" Tanya Joan.
"Mau mau om!" Sahut si kembar bersamaan.
"Tanya bunda dong, bunda ... mau ngga nikah sama om Joan?" Tanya Joan, matanya memandang ke arah Syaren.
"Bunda ... bunda mau nggak menikah sama om Joan?" Tanya Dina dan Dona pada Syaren.
"Joan! Kamu apa-apaan. Jangan becanda sama anak-anak dengan masalah ini!" Bisik Syaren.
"Siapa yang bercanda serius lho!" seru Joan.
"Anak istri kamu, mau kamu kemana in?!" seru Syaren,
Joan berdiri dari bangkunya. "Istri dan anakku meninggal, tepat saat Amel menuduhmu selingkuh dengan Andrey," ucap Joan. Joan pun meninggalkan Syaren dan anak-anaknya.
"Joan ... maaf!" Teriak Syaren teriakan Syaren mengagetkan semua orang yang tengah menikmati pesta itu. Namun Joan tetap berjalan menuju mobilnya, tidak menghiraukan teriakan Syaren.
"Yah ... sepertinya ditolak!" bisik Harun pda Nami.
"Kasian Joan, ditolak Syaren," sahut Nami.
""""""
Sejak kejadian malam itu, Joan tidak pernah datang menemui Syaren. Sebulan sudah kejadiam malam itu berlalu, Joan tidak pernah lagi muncul kepanti atau mengunjungi anak-anak Syaren. Hingga Syaren semakin merasa bersalah. Syaren memutuskan untuk menemui Joan, mendatangi Joan di kantornya.
Syaren langsung pergi kekantor Joan, Setelah menunggu sekian lama, baru Syaren bisa masuk ke ruangan Joan.
Tokkk tokkkk
Suara ketukan pintu membuat konsentrasi Joan ter alih. "Masuk!" seru Joan.
Matanya langsung terbelalak, melihat sosok yang membuka pintu, dan mulai berjalan kearahnya. Betapa terkejutnya dia, melihat Syaren yang datang.
"Mau apa kamu?" seru Joan.
__ADS_1
"Aku cuma mau minta maaf, aku benar-benar tidak tahu Joan," seru Syaren.
"Aku ngga apa-apa, lupakan masalah itu," seru Joan.
"Aku ngga bisa lupa, kalau kamu belum maafin aku."
"Aku sudah maafin kamu, Ren."
"Kenapa kamu ngga pernah lagi ke panti, atau main sama anak-anak?" tanya Syaren.
"Aku cuma ngga mau tersiksa,karena harapan baru yang aku inginkan, tak mungkin aku raih," sahut Joan.
"Apa maksud kamu?" Tanya Syaren.
"Semenjak bertemu kalian, aku menemukan semangat baru untuk melanjutkan hidupku. Namun semakin akrab bersama kalian membuatku ingin hidup bersama kalian, hingga aku lupa siapa aku. Aku hanya pembantu, Ren. Andai sekarang aku menjadi penguasa pun, tetap saja aku adalah pembantumu," seru Joan.
"Ren pulang lah, jangan biarkan aku semakin lupa becermin, Ren."
"Syaren, kamu wanita istimewa, maafkan aku, karena berani mengajakmu nikah," ucap Joan.
Joan berjalan menuju pintu, dan membukanya. "Silahkan pulang Ren, maafkan aku."
Syaren merasa serba salah. Joan memang lelaki yang baik, dia mengenal Joan dari dulu.
"Jika kau bersedia menjadi ayah anak-anakku, datanglah kerumah," seru Syaren, sambil meninggalkan ruangan Joan.
Joan yang sedari tadi menunduk langsung mendongakkan wajahnya, karena mendengar perkataan Syaren barusan.
"Apa kau bercanda?!" Teriak Joan pada Syaren.
Syaren berhenti melangkah, dan merubah arah badannya, menghadap kearah Joan. "Apa aku selalu bercanda?" sahut Syaren. Dia kembali meneruskan langkahnya.
"Kalau kau memang tak bercanda, segera lah bersiap kita akan kerumah Reyhan, siang ini." Seru Joan.
Syaren hanya membalas ucapan Joan dengan isyarat dari tangannya, jempol yang mengacung ke udara.
__ADS_1
Syaren dan Joan datang ketempat Reyhan hanya berdua, mereka pun mendapat restu dari Reyhan, namun mereka belum menentukan, kapan akan menikah, urusan dengan Reyhan selesai, Syaren dan Joan pun kembali ke kota di mana mereka tinggal.
Restu Reyhan sudah di dapat, kini saatnya meluruskan masalah dengan Dimas, Joan tidak mau kebahagiaan Syaren terusik, karena dia tahu selama ini Dimas mencari Syaren.