
Sidang perceraian Reyhan pun tiba, bermacam proses dilalui dari sangkalan Aira, namun bukti bukti Reyhab kuat. Juga dihujani dengan interupsi. Akhirnya sidang di menangkan oleh Reyhan. Karena bukti Reyhan yang lengkap, dan saksi saksi yang menguatkannya. Hak asuh Andra pun jatuh pada Reyhan, karena Aira bukan wanita yang baik, meninggalkan anak dan suaminya dan lari dengan laki-laki lain.
Dimas menatap tajam Aira dengan penuh kebencian, ia heran kenapa adiknya tega membohonginya separah ini. Dimas pun meninggalkan ruang sidang, karena ia malu dengan ulah adiknya.
Sepanjang jalan ia selalu memikirkan Syaren. Namun sekarang ia sudah menceraikan wanita itu dan menikahi Mey, bagaimana Mey jika ia jujur, kalau ia mencintai Syaren. Sedang keadaan Mey sungguh memprihatinkan.
Rasa iba Dimas pada Mey, serta rasa bersalahnya yang membuat Mey hamil di luar nikah, semakin membuatnya tak berdaya melepaskan Mey, apalagi melihat Mey yang tak di perhatikan orang tuanya. Rasa ibanya pada Mey semakin menjadi. Namun tak dapat di pungkiri, Dimas sangat mencintai Syaren. Ia berlaku hal yang bejat pada Mey hanya luapan kekesalannya pada Syaren.
***
Syaren baru menyadari kalau ia tengah hamil, namun ia lebih memilih diam, tak ingin mengusik kebahagiaan Dimas dan Mey.
Syaren pergi ke kantor pengadilan agama untuk menjelaskan keadaannya, kalau ia tengah hamil anak suaminya. Pengadilan hanya memberi surat keterangan yang suatu saat akan dibutuhkan untuk membuat akta kelahiran sang anak nanti, kalau anak itu hasil perkawinan sah Syaren dan Dimas.
"Ingat ya bu ... masa iddah anda setelah melahirkan," ucap salah satu pegawai.
"Saya mengerti," sahut Syaren.
Syaren pun permisi membawa akta cerainya dan surat keterangan dari pengadilan, pengganti buku nikah untuk perlengkapan berkas membuat akta kelahiran bayinya nanti.
Di area parkir halaman kantor agama, Dimas baru turun dari mobilnya, hari ini ia akan mendaftarkan pernikahan dengan Mey secara resmi. Memang Mey cinta pertamanya, namun saat ini Syaren lah ratu di hatinya. Langkah Dimas terhenti melihat wanita yang berjalan sambil tersenyum, kadang sesekali tangannya mengelus perutnya yang masih datar. Namun senyum wanita itu hilang, saat ia melihat Dimas, wanita itu Syaren.
Syaren terdiam mematung melihat Dimas di depannya. Namun melihat Dimas berjalan ke arahnya, Syaren segera mempercepat langkahnya untuk menuju mobilnya. Dimas yang melihat Syaren bergegas masuk ke mobil, segera berlari mengejar Syaren, sebelum Syaren melakukan mobilnya.
Syaren belum sempat menutup kaca mobilnya, Dimas sudah memasukkan kepalanya kebagian kaca mobil yang masih terbuka.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Dimas yang berhasil mencegat mobil Syaren.
Syaren menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan.
"Mengambil akta cerai." jawab Syaren santai, sambil menghidupkan mesin mobilnya.
"Apa kamu hamil?" Tanya Dimas, sambil memandangi perut Syaren.
"Aku hamil atau tidak bukan urusanmu!" Jawab Syaren.
__ADS_1
"Tapi kalau kau hamil, maka dia anakku," lirih Dimas.
"Di perut Mey juga anakmu, jika aku hamil, anaku akan mendapatkan namamu walau aku berpisah, tapi anak Mey tanpa status, jika kau tak menikahinya secara resmi," ucap Syaren sambil melajukan mobil perlahan.
Dimas berusaha menahan, namun Syaren tak perduli.
Setelah tak sengaja bertemu Dimas, Syaren tak berani lagi keluar rumah. Sedang Dimas semakin bimbang, ia menikahi Mey, namun hatinya terus merindukan Syaren. Karena Mey yang lebih lemah dari Syaren, akhirnya Dimas menikahi Mey secara resmi.
Setelah Fakta terungkap, Citra sangat menyesal menyakiti Syaren, kesehatannya pun terus menurun, hingga Citra meninggal, Citra pun berpesan agar permohonan maafnya disampaikan pada Syaren.
Sedang Dimas sengaja selalu bekerja, dan paling cepat ia pulang jam 9 malam, sehingga ia bisa tak banyak bicara dengan Mey, karena ia sangat lelah menutupi perasaannya.
"Mas ... kenapa aku merasa kamu tak ikhlas menikahi ku," lirih Mey yang sengaja berjaga menunggu kepulangan Dimas.
"Itu hanya sangkaan mu saja sayang ..., juga itu pasti bawaan bayi mu," lirih Dimas, sambil memejamkan mata, sambil memeluk Mey.
Mey pun berusaha membuang prasangkanya itu.
Tiga bulan sudah usia kehamilan Mey, hari ini Dimas terpaksa libur kerja, karena Mey minta antar cek up kehamilannya ke Dokter. Kondisi Mey sangat lemah, hingga ia harus setia duduk di kursi rodanya.
Di saat yang sama, Syaren sangat takut kalau kalau ia bertemu Dimas di Rumah Sakit ini, karena ini Rumah Sakit milik Dimas.
Antrian pemeriksaan kehamilam dihentikan, karena Dokter harus menangani istri pemilik rumah sakit ini yang datang memeriksakan kandungannya.
"*Y*a ampun ..., pake acara istirahat lagi ..., mudahan ngga ketemu kak Dimas disini," lirih Syaren
Karena antrian selanjutnya tak perlu penanganan dokter, sekedar cek up rutin saja, akhirnya giliran Syaren. Syaren sangat lega, akhirnya sekarang gilirannya. Setelah perawat melakukan USG dan lainnya, perawat pun pergi keruangan Dokter, melaporkan hasil pemeriksaan Syaren, Dokter itu tengah melayani Mey. Perawat pun kembali keruangan Syaren.
"Kata dokter lanjutkan saja obat ini, sejauh ini si kembar sehat," seru perawat.
Syaren pun tersenyum lega, ia bangun di bantu perawat. Segera ia bergegas meninggalkan ruangan itu, ia ingin cepat-cepat pergi dari Rumah Sakit ini.
Dimas sedang di luar ruangan mey, karena Dokter memintanya menunggu di luar, matanya terperanjat melihat wanita hamil yang baru keluar dari ruangan sebelahnya.
"Syaren ...." lirih Dimas.
__ADS_1
Syaren tersenyum sendiri memegang perut nya, ada rasa yang menyentuh hatinya, ketika melihat ayah bayinya. Dimas mendekati Syaren yang masih tersenyum itu, ia menyentuh perut Syaren yang sedikit menyembul. Syaren yang dari tadi tersenyum sangat terkejut karena Dimas menyentuh perutnya. Tadinya ia mengira, itu khayalannya saja.
Dimas seakan tersihir ketika menyentuh perut Syaren.
"Hai baby ... ini papa sayang ...." lirih Dimas, air matanya menetes begitu saja.
"Pak Dimas, pemeriksaan ibu Mey sudah selesai," lirih perawat lain, yang baru keluar dari ruangan Mey.
Syaren segera menarik diri dari Dimas, dan pergi meninggalkan Dimas, Dimas ingin mengejar namun perawat itu memanggilnya lagi. Dimas pun terpaksa masuk keruangan Mey.
"Mas nangis ya?" Tanya Mey. Saat melihat Dimas masuk kedalam ruangannya.
"Oh ... aku cuma khawatir sama kamu." sahut Dimas, Mey tersenyum, ia merasa Dimas benar-benar mencintainya.
"Aku dan bayi kita sehat," ucap Mey.
"Syukur lah ... tadinya aku sangat khawatir." lirih Dimas.
Dimas menyentuh perut Mey, namun tak sama rasanya saat ia menyentuh perut Syaren.
"Bayi kita belum bisa gerak sayang, baru 3 bulan," lirih Mey
"Hehehee, aku sangat ingin melihatnya hadir diantara kita." lirih Dimas.
"Iya, dia akan hadir di saat yang tepat," sahut Mey.
"Bisa kita pulang sekarang sayang? Soalnya sekarang aku harus kembali kerja." lirih Dimas.
"Ngga bisa sayang ... aku harus nginep malam ini, kata Dokter." lirih Mey.
"Emm kamu pulang aja ..., biar perawat menemani aku di sini." sahut Mey.
"Nggak, aku nggak akan kemana-mana." lirih Dimas.
***
__ADS_1
Waktu terus berlalu, Dimas sangat tersiksa oleh perasaannya. Dimas semakin sadar, kalau cintanya hanya buat Syaren, sedang pada Mey hanyalah iba. Keadaan Mey sungguh memprihatinkan, ia malah menambah penderitaan Mey dengan membuat Mey hamil. Semenjak pertemuan di rumah sakit itu, hanya Syaren yang ada dif
pikiran Dimas.