
Dina dan Dona sangat bosan berdiam diri seperti ini, mereka memandangi wahana permainan yang ada. Lama menunggu namun orang-orang dewasa ini masih betah dalam keheningan mereka.
"Ayah ... bunda ... main yang lain aku bosen." rengek Dina. Sambil menarik lembut tangan Syaren dan Joan.
"Iya aku juga bosen." rengek Dona.
Lamunan Syaren buyar, dia segera bicara pada si kembar. "Sebentar sayang ... kenalan dulu sama om Dimas dan aunty Mey." pinta Syaren.
Dina dan Dona mendekat pada Dimas dan Mey.
"Ini Madona Aziya Wisma, ini Madina Aziya Wisma." seru Syaren, mengenalkan kedua anaknya pada Dimas dan Mey.
"Kita sudah kenal bunda, dulu pas di mana ya kak?" lirih dina.
"Aha ... di acara panti." seru dona.
"Hai om, tante senang bisa ketemu lagi." seru si kembar bersamaan.
Dimas segera berjongkok hingga ia setara dengan tinggi si kembar, dia langsung memeluk keduanya, Dimas menangis memeluk si kembar yang ternyata anaknya dan Syaren.
Sedang si kembar hanya diam, karena kasian menyadari yang memeluk mereka itu menangis.
Mey pun ikut menangis dan memeluk si kembar yang masih di peluk dimas.
"Sudah om, sudah auty." seru dona.
Syaren segera menarik si kembar kearahnya.
"Syaren ... izinkan kami mengurusnya." rengek Mey.
"Kau bilang tak ada orang yang tega memisahkan ibu dan anaknya." sahut syaren.
"Tapi Dimas ayah mereka," ringis Mey. Dia sangat jatuh hati pada si kembar.
"Anak-anak, peluk ayah kalian." pinta Syaren.
Dina dan Dona langsung memeluk Joan.
__ADS_1
"Aku menikah dengan syaren karena aku berjanji akan memastikan anak-anaknya tetap bersama Syaren, ini kalau kau lupa." seru Joan memberikan lembaran kertas.
"Itu foto copy surat perjanjian kita Dimas, dan itu foto copy akta nikah kami." seru joan lagi.
"Bukankah kamu bilang kamu bahagia dengan pilihan hatimu? Maka izinkan aku bahagia dengan pilihan hatiku." sahut syaren
Mey hanya diam memeluk karem, sedang Dimas mematung melihat syaren memeluk joan yang mengendong Dina dan Dona.
"Setidaknya izinkan kami bermain bersama." lirih dimas.
"Kami kemari untuk bermain sebelum pulang." sahut joan.
"kalau begitu kapan mainnya ayah?" Seru Dina.
"Sekarang!" Teriak Syaren.
Mereka pun segera berlarian masuk menuju wahana lainnya.
Sebelum berpisah mereka foto bersama, Syaren memeluk Joan, sedang Joan menggendong si kembar. Sedang Mey memeluk Dimas yang menggendong Kareem.
"Bersama pilihan hati"
Seelah berpisah, mereka semua pulang kerumah masing-masing.
Sekitar jam 7 malam Joan mengajak sikembar jalan jalan naik motornya, hingga di rumah tinggal Syaren dan Marta.
Syaren yang tengah santai, dia mendengar suara isak tangis dari kamar marta.
"Hiks hiks ... ya Tuhan ... sebelum aku mati ... izin kan aku memeluk keturunan dari anakku Joan. Aku sudah tak mungkin memeluk keturunan anakku yang lain karena mereka sudah menjadi WNA, mana mungkin mereka pulang hanya untuk menjengukku." isak Marta.
Syaren yang mendengar semua itu, dari balik pintu merasa bersalah, akhirnya ia putuskan membuang pil kb nya, tanpa bicara pada Joan.
*****
Setelah melalui penerbangan yang panjang akhir nya mereka sampai di kota yang selama ini mereka bermukin di sana.
"Bunda kita langsung kerumah ayah aja ya," seru Joan.
__ADS_1
"Terserah ayah aja ... tapi kalau di tempat ayah, gimana bunda ke pantinya." sahut syaren.
"Bunda ngga usah ke panti lagi ya ... ayah pengen bunda di rumah sama ibu sama anak-anak. Kalau bunda mau sesekali kepanti ngga apa-apa kok." seru Joan.
"Bunda bicara dulu ya sama team." seru Syaren.
"Sudah ... mereka dudah tau kalo sikembar punya ayah." seru joan.
Syaren setuju dengan permintaan Joan. Sesampai rumah lima pembantu Joan sudah menyambut mereka. Joan membantu si kembar, sedang Syaren membantu Marta.
Sampai di dalam rumah Syaren memijat marta, dia faham, pasti sangat lelah bagi lansia seperti marta melakukan perjalanan jauh.
"Cukup nak." lirih Marta.
"Ngga enak ya bu?" Tanya Syaren.
"Enak ... tapi kamu juga lelah." lirih Marta.
"Engga ah, Syaren ngga capek." sahut Syaren dengan mengukir senyuman di wajahnya.
"Wah bunda mijet oma, ikut ya bunda." seru Dina.
"Boleh ... tapi jangan sakiti oma." seru Syaren
Si kembar pun ikut ngerecokin memijit Marta.
"Terima kasih nak, kamu memberi kebahagiaan di masa tua ibu." lirih Marta.
"Terima kasih juga, ibu memberi kami kesempatan untuk berbakti." sahut Syaren.
Joan sangat terharu melihat pemandangan itu. Air matanya menetes segera ia hapus.
"Dona Dina suka ngga kamar yang ayah sediain?" Seru Joan.
"Suka banget ayah!" Teriak si kembar yang langsung memeluk Joan.
"Terima kasih ayah." seru si kembar bersamaan.
__ADS_1