
Syaren merenung di kamarnya, mengapa Citra berubah, dan juga Dimas yang tak bisa di hubungi. Ia semakin kalut, karena Citra kemaren memintanya tanda tangan di kertas yang tak sempat ia baca. Pikiran Syaren melayang entah kemana. Baru saja ia menikmati kehidupan rumah tangga yang tenang dengan Dimas, namun sekarang ia merasa, biduk rumah tangganya sedang ditunggu badai yang besar, di depan sana.
"Maria, siapkan kamar tamu dan bersihkan kamar Aira, Dimas hari ini pulang." Teriak Citra.
Mendengar teriakan kalau Dimas pulang, hati Syaren sungguh bahagia. Ia segera bergegas melangkah keluar mendekati Citra.
"Mah ... kak Dimas pulang hari ini?" Tanya Syaren kegirangan.
"Iya." sahut Citra datar.
"Mah ... aku ikut jemput kak Dimas ya ...." pinta Syaren.
"Nggak perlu, kamu di rumah saja." sahut Citra, dia langsung meninggalkan Syaren.
Citra pun berangkat bersama supirnya menuju Bandara, menjemput Dimas, Aira juga tamu istimewanya, Meydarica.
******
Syaren berdiri di depan pintu menunggu kedatangan Dimas, tak lama mobil Citra terlihat memasuki halaman rumah Dimas.
Senyum Syaren mengembang. Ia melihat Aira dan Citra turun dari mobil. Hatinya semakin berdebar, ia sangat merindukan Dimas.
Gleggggg!
Rasanya tenggorokan Syaren tercekik, melihat Dimas turun dari mobil menggandeng wanita cantik, yang memakai topi kupluk. Senyum di wajah Syaren seketika langsung lenyap.
__ADS_1
"Mey sayang, dia yang aku ceritakan waktu itu, namanya Syaren, dia istri Malik yang terpaksa aku nikahi, Oh ya Syaren, ini Meydarica, cinta pertamaku yang lama hilang, dan sekarang kembali, Kami akan segera menikah." seru Dimas.
Syaren mematung mendengar perkataan Dimas. "Apa? Dimas terpaksa menikahiku hanya karena Amanah mas Malik?" Guman batin Syaren. Lamunan Syaren tersentak, saat melihat Mey mendekatinya.
Mey mengulurkan tangannya pada Syaren, dia mengenalkan diri, Syaren langsung menyambut uluran tangan Mey.
"Sudah Mey sayang, mari masuk, istirathat dulu, kumpulkan tenagamu untuk pernikahanmu dengan Dimas nanti," seru Citra.
Mereka semua masuk kedalam rumah, meninggalkan Syaren, sedang Syaren masih mematung, beridiri sendirian di teras itu. Hati Syaren sangat sakit, kenapa Dimas setega ini padanya. "Me-menikah?" bibir Syaren bergetar, mengetahui Dimas dan Mey akan menikah.
"Permisi, Pak Dimas nya ada?" Tanya seseorang.
Dimas menghentikan langkahnya. "Kalian, masuk duluan," Dimas bicara pada Aira, Citra, dan Mey. Mereka bertiga langsung masuk kedalam rumah.
"Ini pak, ada surat panggilan sidang buat Dzunaira." kata petugas itu.
"Baik, terima kasih." seru Dimas. Setelah Dimas tanda tangan, petugas itu pun pergi.
"Tunggu ..., apa maksudnya?" Tanya Syaren heran.
"Oh ... urusan cerai Reyhan dan Aira, kamu tenang saja, punya kamu sedang menyusul, Kakak kamu selingkuh, dan menikahi pengasuhnya, aku sudah mengirim mata-mata untuk menyelidinya, kakakmu mengirim adikku pulang dengan cara keji, tapi aku tidak seperti itu, tapi kamu baru boleh pulang, satu bulan dari sekarang." seru Dimas.
"Kenapa kamu tak pulangkan aku sekarang?" Syaren berusaha menahan suaranya.
"Karena kakakmu menyiksa fisik adikku, maka aku akan menyiksa hati adiknya." bisik Dimas. "Adil bukan?" Dimas menyeringai.
__ADS_1
Air mata Syaren menetes begitu saja, melihat kebencian Dimas pada dirinya.
***
Selama berada di rumah itu, Dimas selalu memanjakan Mey di hadapan Syaren, Syaren selalu berusaha tersenyum, walau hatinya sakit. Lebih satu bulan Syaren menyaksikan semua itu. Namun dia berusaha tegar.
"Persidangan Dimas dan Syaren akan selesai mah, mungkin ini hari terakhir Syaren di rumah ini " lirih Dimas.
"Baguslah sayang, kalau perceraian kalian beres semakin cepat, maka semakin cepat juga kalian menikah " seru Citra.
"Mey!" Teriak Syaren melihat Mey yang hampir ambruk. Dimas pun segera menopang tubuh Mey.
"Maria! Tolong telepon Dokter!" Teriak Syaren.
Dimas pun segera membopong tubuh Mey ke kamar yang di tempati Mey.
"Nggak usah sok panik kamu!" Citra membentak Syaren.
Setelah menunggu, akhirnya Dokter pun datang, sebelum dokter memeriksanya, Mey sudah siuman. Dokter langsung memeriksa Mey.
"Untuk lebih jelasnya, sebaiknya bawa nona, kerumah sakit, ini hanya dugaan, sepertinya Mey hamil." seru Dokter.
Perasaan Syaren langsung kacau, Syaren mundur perlahan dari ruangan itu, ia menyadari, kalau dirinya benar-benar tersingkir dari hati Dimas sekarang.
Sedang Citra, menatap Dimas penuh kemarahan, dia tidak menyangka, Dimas sudah menghamili Mey.
__ADS_1