
Siapa Nandini?
Nandini adalah anak pertama Bella si pelakor gagal. Bella sangat dendam pada almarhum Rendra karena menolaknya mentah-mentah, bahkan membuatnya terlempar sampai di pelosok Desa. Namun satutahun pernikahannya dengan pemuda desa membawa keberuntungan bagi Bella.
Bella bertemu pria bule yang kaya raya, bule itu sedang berwisata di Desa tempat tinggal Bella. Bule itu jatuh cinta pada Bella, lalu Bella lari bersama pria bule itu dan tinggal di luar negri, hingga punya satu anak perempuan yang cantik bernama Nandini.
Satu tahun terakhir Bella pindah ke kota yang sama dengan anak-anak Rendra. Ia mencari tahu tentang Rendra, rencana balas dendam ke Syahila dan Rendra gagal, karena Rendra dan Syahila meninggal. Bella mencari tahu siapa saja anak Rendra, hingga ia berhasil menggagalkan pernikahan Reyhan dengan Samantha, karena Samantha tergoda dengan keponakan suaminya.
Setelah membawa Samantha keluar negri, ternyata usaha nya sia-sia, karena pernikahan Reyhan di ganti dengan resepsi Syaren dan Malik. Bella mulai mengutus beberapa orang untuk menggoda Malik, tapi percuma, karena Malik laki-laki yang setia.
Lalu ia memanas-manasi Samantha, kalau Reyhan akan jadi orang terkaya di kota itu.
Tentu saja mata hijau Samantha ber aksi,ia pulang ke tanah air, dan meninggalkan kekasih bule yang tidak kunjung menikahinya walau sudah punya 1 anak. Lalu ia kembali ke tanah air membawa anaknya yang ia katakan itu anak Reyhan. Misi Bella berhasil karena rumah tangga Reyhan retak.
Misinya yang sebelumnya,ia berkenalan dengan mertua Yumna yang sedang terpuruk usahanya. Di situlah Bella menjanjikan investasi dan membantu perusahaan mertua Yumna, dengan syarat anaknya menjadi menantu keduanya. Dengan mudah Bella menyingkirkan Yumna lewat tangan mama Andrey. Yumna pulang, karena dia tidak mau di madu oleh Andrey.
Misi Bella pun berhasil, karena Yumna terpisah dengan suaminya. Bahkan saat keadaan Yumna tengah hamil. Sedikit lagi anaknya akan menikah dengan suami Yumna.
Namun gagal, karena kekacauan yang tak sempat ia lihat.
Sedang Nandini tidak punya tujuan hidup, baginya kebahagiaan mamanya lah tujuan hidupnya, sedang ayahnya Willy Bergh tak mau ikut campur masalah lainnya, kebahagiaan Willy hanya lah kebahagiaan Bella.
********
Setelah menenangkan Yumna di rumah mereka, Reyhan dan Syaren pergi ke makam Reina putri Syaren.
"Maafin mama sayang ... mama ninggalin Reina maafin mamaa ...." tangis Syaren pecah di pusara Reina.
"Maafin aku mas Malik .... aku ngga bisa jaga anak kita,,sehingga ia lebih memilih bersama mu dari pada bersamaku" ringis Syaren.
Reyhan berusaha menguatkan Syaren.
setelah dari makam mereka pulang kerumah untuk istirahat. Lalu Syaren dan Reyhan kerumah Dimas malam harinya, karena kalau siang Dimas tidak ada di rumah.
Melihat siapa yang datang pembantu segera berlari kedalam memanggil Aira dan Dimas.
Segera Aira membawa bayinya turun.
Aira berlari berhamburan kepelukan Reyhan.
"Maafin aku kak Rey ... mataku buta karena kecemburuan dan ketakutanku kehilanganmu." lirih Aira.
"Maafin mas juga ... mas ngga bisa membuatmu percaya sama mas." lirih Reyhan.
"Mas ... mas nginep sini ya ...." pinta Aira.
"Tapi Yumna kasian sendiri " lirih Reyhan.
"Kak Rey nginep aja di sini biar aku yang pulang, sini kunci mobil kakak biar aku pulang ... nanti besok aku jemput." sahut Syaren.
"Biar aku antar kamu Syaren." seru Dimas, yang tiba-tiba datang dan mengejutkan semuanya.
"Biar aku antar kamu ... sekalian aku mau kerumah sakit menemani mama Citra." seru Dimas.
__ADS_1
"Mama sakit apa?" Tanya Syaren
"Mama koma, semenjak Reina meninggal " sahut Dimas.
"Aku ikut jenguk mama, ya ...." pinta Syaren.
"Baiklah, mari ikut aku." sahut Dimas sambil berlalu keluar.
"Kak Rey ... Aira ... aku pamit." lirih Syaren
"Iya hati-hati." sahut Aira dan Reyhan bersamaan.
Betapa bahagianya Aira melihat suaminya datang kerumah menemuinya. Rasanya tak mau Aira melepaskan pelukannya dengan Reyhan.
Di mobil, Syaren dan Dimas saling diam,
Dimas fokus menyetir dan Syaren hanya memandangi jalanan di depannya.
"Maaf kan aku ...." ucap Dimas memecah keheningan
"Maaf kan aku karena aku tak percaya padamu. Aku sangat merasa bersalah ketika Joan menjelaskan kalau kau dan Andrey berpacaran jauh sebelum menikah dengan ku." lirih Dimas.
"Aku juga minta maaf,aku---"
"Kamu tak ada salah Syaren," potong dimas.
Suasana pun kini hening kembali.
***
Syaren mendekati Citra, lalu memegang tangan Citra,
"Mah ... ini Syaren ...." lirih Syaren.
perawat yang selalu mengawasi monitor yang terhubung dengan seluruh tubuh Citra, kaget dengan perkembangan yang barusan terjadi.
"Angkanya meningkat, pasien merespon anda!" Seru perawat.
"Nona terus ajak pasien bicara." pinta perawat.
Syaren dan Dimas sangat senang, mendengar kalau Citra merespon.
"Mah ... maafin Syaren mah ... harusnya Syaren selalu mendampingi mama," Syaren menatap perawat, Namun perawat menggeleng.
Syaren menarik nafas panjang memikirkan apa yang harus ia katakan untuk membuat Citra semangat melanjutkan hidup.
"Mah ... Reina pergi menyusul ayahnya bukan salah mama, tapi salah Syaren, karena Syaren tidak menjadi ibu yang baik, juga tidak bisa menjadi istri kak Dimas dengan baik.
Tolong mah, mamah jangan menyalahkan diri mamah dengan kepergian Reina mah ...." ringis Syaren.
perawat mengacungkan tanda kalau itu baik, karena angkanya mulai meningkat.
"Mah ... Kepergian Reina memang janjinya mah, apa mama tak mau melihat, Tuhan akan memberi Reina-Reina yang lain dari rahim Syaren. Siapa yang memberi kasih sayang seorang nenek pada Reina yang lainnya, mah, kalau mamah ngga berusaha bangun!" lirih Syaren
__ADS_1
Entah dari mana kata-kata itu muncul, Syaren tidak menyadari apa yang ia katakan.
"Kalau mamah bangun ... Syaren janji akan jadi istri yang baik buat kak Dimas dan akan mencintai kak Dimas sepenuh hati Syaren." Ia berusaha menahan tangisnya, dan pura-pura tegar.
Namun ada orang yg hampir pingsan mendengar kata-kata Syaren tadi.
Dimas, tubuhnya gemetaran mendengar kalau syaren akan berusaha mencintai dia.
"Mah ... tolong bangun ... kalau mamah tak bangun siapa yang akan bantu Syaren mengurus anak Syaren dan kak Dimas nanti?" Seru syaren.
Suara monitor semakin nyaring
Namun bukan hanya suara monitor saja yang nyaring dan temponya lebih cepat.
Namun suasana detakan jantung Dimas pun lebih cepat dari suara rentetan dari layar monitor. Perawat nampak menunjukan senyuman lebar.
"Maa tolong bangun ... kalau mama tak mau bangun syaren pergi!" Teriak Syaren.
Entah sihir apa yang berlaku Citra reflek duduk dengan mulut menganga.
Semua yang ada merasa terharu melihat keajaiban itu. Perawat langsung menelpon dokter, mengabarkan keadaan terbaru Citra.
Sedang Syaren membantu Citra yang bangun dari koma untuk berbaring lagi. Mata Citra memandangi lekat wajah Syaren.
"Kalau mama sehat, Syaren janji, Syaren bakal jadi menantu dan istri yang baik." seru Syaren tersenyum. Citra juga berusaha tersenyum walau kaku.
Dokter memeriksa Citra,
"Keadaannya jauh lebih baik!" Seru Dokter.
Sedang perawat menyuntik Citra dengan beberapa suntikan. Setelah 2 jam membuka matanya, Citra mulai bisa bicara walau terbata.
"Wya en, a pwa kaa mu a an mene paati jan ji mu?"
(Syaren apa kamu akan menepati janji mu maksud Citra)
"Dilihat keadaan ... kalau mama sembuh dan sehat kembali, Syaren akan menepati semua janji syaren." ucap Syaren manis.
"Maa mha aaa an mena ih jan ii muu."
(Mama akan menagih janjimu maksud Citra)
"Okey ... ingatkan Syaren sama janji Syaren," serunya.
"Maa apa boleh Syaren pamit? Kasian Yumna sendirian di rumah." lirih Syaren.
Citra mengangguk.
"Mari aku antar" seru Dimas, dia dari tadi membisu.
"Siapa yang jaga mama?" Tanya Syaren.
"Ada perawat yang siaga di sini 24 jam." sahut Dimas.
__ADS_1