Menua Bersama

Menua Bersama
Bab 33. Gatal


__ADS_3

Perhatian Yumna dan Dimas fokus pada Syaren. Syaren perlahan membuka matanya.


Yumna sangat Gembira melihat hal ini.


"Syaren! Aaakhkkk!" Teriak Yumna kegirangan, dia tak sadar memeluk Dimas, yang berada di sampingnya, sambil melompat-lompat kecil.


Dimas juga tak menyadari, kalau Yumna tengah memeluknya, karena matanya fokus memandangi Syaren.


"Kak ...." Suara Syaren terdengar sangat lemah.


Yumna langsung melepas pelukannya pada Dimas, dia mendekati Syaren. Yumna mengganti selang oksigen Syaren.


"Kak ... aku kenapa?" Tanya Syaren.


"Kamu kecelakaan sayang," lirih Yumna, jemarinya membelai wajah Syaren.


"Kak, dia siapa?" Tanya Syaren, meng isyarat pada Dimas.


"Kamu nggak kenal dia?" Tanya Yumna, dia sangat heran, Syaren menggelengkan kepalanya, perlahan. Menjawab perkataan Yumna.


"Syaren Did---"


"Yumna! Jangan!" Potong Dimas.


"Sebaiknya kita panggil Dokter dulu." lirih Dimas. Dimas meraih telepon rumah sakit, dan langsung menelpon perawat. Sedang Yumna langsung mengabari Reyhan, tentang keadaan Syaren.


Dokter dan perawat datang, mereka langsung memeriksa keadaan Syaren.


"Hal apa yang terakhir anda ingat?" Tanya Dokter.


"Saya baru wisuda kuliah saya Dok." sahut Syaren


"Apa anda bahagia saat wisuda kemaren?" Tanya Dokter.


"Sangat Dok ... usaha saya, akhirnya selesai, tinggal cari kerja saja nantinya." sahut Syaren


Dokter terus memeriksa Syaren. "Okey ... semua baik-baik saja, pada bagian lain, apakah ada yang sakit?" Tanya Dokter.


Syaren menyentuh kepalanya, meng isyarat, kalau bagian itu yang sakit.


"Untuk bagian itu, anda harus bersabar sedikit, mungkin,sebetar lagi sembuh, anda di Operasi pada bagian itu, jadi sabar ya." seru Dokter


"Semuanya saya permisi, tolong perwakilan kalian datang keruangan saya." pinta Dokter.


"Iya dok, kami akan segera kesana bila kakak lelaki kami datang." Sahut Yumna.


Setelah Reyhan datang, Dia mengajak Dimas menemui Dokter yang merawat Syaren.


Di ruangan Dokter.


"Apa ada masalah sama adik saya dok?" Tanya Reyhan


"Sejauh ini semuanya baik, seperti perkiraan di Awal, ternyata Adik anda mengalami kehilangan sebagian memorynya. Sering kita kenal dengan istilah "Amnesia" " kata Dokter.


"Hal ter akhir yang ia ingat saat Wisuda, kapan dia wisuda?" Tanya Dokter.


"Hampir 2 tahun Dok." sahut Reyhan.


"Apakah dia bisa mengingat lagi? Kami baru menikah kemaren." lirih Dimas.


"Silahkan coba,tapi jika dia syok, saya tidak tanggung jawab." sahut Dokter.


"Lebih baik kita tanya sekarang, agar kita bisa mencegah hal buruk yang lain." pinta Reyhan.


Dokter pun kembali keruang perawatan Syaren, bersama Dimas dan Reyhan, juga para perawat nya.


"Selamat siang Nona Syaren." sapa Dokter.


"Siang dok." Sahut Syaran


"Kita mau tes neh ingatan nona Syaren, apa anda siap?" Tanya Dokter.


Syaren menganggukan kepalanya.


"Yumna, tolong kamu tanyakan Foto lama yang masih ada di ponsel kamu, pada syaren," pinta Reyhan.


Yumna mulai memperlihatkan satu persatu Foto yang ada di ponselnya. Syaren menjawab dengan lancar semua foto-foto yang di tanyakan Yumna.


Yumna memperlihatkan Video akad nikah Syaren dan Dimas. Tiba-tiba Syaren membeku. Kedua matanya juga terbelalak.


"Hentikan ! Maaf pak, ini bisa membahayakan nyawa adik anda." seru dokter, dokter dan perawat langsung berlari ke arah Syaren. Mereka langsung memeriksa Syaren.


"Suster siapkan alat defribrilator secepatnya, pasien mengalami masalah di jantungnya!" Dokter nampak panik.


Beberapa perawat datang mendorong kereta yang berisi peralatan medis yang dimaksud Dokter. Salah satu perawat menyuruh Reyhan Dimas dan Yumna menjauh dari pasien.

__ADS_1


Perawat lain mulai memasang peralatan dan nampak di monitor garis turun naik yang jaraknya agak jauh, serta angka yang terus menurun. Setelah alat siap, dokter mulai meng oprasikan.


"Clear?"


"Clear!" Seru perawat


Degup!!! badan syaren terperanjat.


"Lagi!1 2 3. Clear?"


"Clear!!" Sahut perawat.


Deguppp!!


Lagi-lagi tubuh Syaren seakan terpental kekasur.


"Normal dok!" seru perawat.


Dokter merasa lega. Dia menarik dan membuang nafasnya dengan teratur.


Perawat membereskan alat-alat yan sudah tidak di perlukan lagi. Dokter menyeka keringatnya. Kejadian barusan sungguh mengkhawatirkan.


"Ternyata dampaknya buruk baginya, jika ia ingat masa lalu, yang dia lupa." lirih Dokter.


"Lihat lah ... seperti ini akibatnya jika dia teringat masa lalunya. Kalian harus menghapus kenangan masa lalu yang ia lupa.


Dia akan sehat dan baik-baik saja, jika dia tidak ingat masa lalunya, biarlah dia lupa masa lalu dua tahun terakhir ini. Bukankah hidup itu berjalan kedepan? Jaga adik anda baik-baik." ucap Dokter. Dokter langsung pergi dari ruangan Syaren.


Dimas merasa sangat terpukul, dia melangkahkan kakinya, meninggalkan ruangan Syaren. Melihat Dimas keluar, Reyhan mengejarnya.


"Kemana kamu?" Tanya Reyhan.


"Aku ingin menghapus berita pernikahan kami, pastikan dia tidak menonton tv atau membuka berita online seharian ini." Pinta Dimas.


30 menit kemudian, banyak wartawan yang datang, 5 orang wartawan, siap untuk mewawancarai, Dimas, Reyhan dan Dokter yang merawat Syaren. Sedang rekan mereka yang lain siap merekam semuanya.


Wawancara di lakukan di depan kamar Syaren, Dimas mulai menjelaskan kenapa ia memanggil rekan media.


"Mohon maaf sebelumnya, saya memanggil semua rekan-rekan media kemari, untuk menceritakan kecelakaan yang menimpa istri saya." Dimas mulai menceritakan kejadian yang menimpa Syaren.


"Karena kejadian ini, sangat membahayakan nyawa istri saya, jika dia tahu berita pernikahan kami, saya meminta pertolongannya pada semua orang, agar menghapus foto atau apa saja, yang berkaitan dengan pernikahan kami. Mohon pengertiannya."


Beberapa wartawan lain mengajukan pertanyaan, Dimas dengan lancar menjawab pertanyaan mereka.


Beberpa awak media masuk, kedalam ruangan Syaren, untuk melihat keadaannya secara langsung, setelah mendapatkan foto dan informasi lain, mereka kembali keluar.


Tidak bisa di tahan, mata Dimas terus menetes, tak bisa berhenti, mengingat ia harus melepaskan Syaren, yang mulai ia cinta.


"Saya harap teman-teman Syaren, dan seluruh tamu yang hadir malam waktu itu, jika mereka menyimpan atau meng apload gambar kami, atau lainnya ke media sosial, sekiranya agar berkenan membantu kami untuk menghapus semua kenangan itu, demi kebaikan Syaren." ucap Reyhan.


Kini giliran Dokter yang memberi keterangan pada media tentang Syaren.


"Saya harap berita ini besok sudah tidak ada lagi. di televisi atau di media online, mohon untuk media cetak jangan memuat berita ini.


karena saya khawatir istri saya akan melihat nya." ucap Dimas.


Para awak media mengerti. Dimas membayar mahal, agar berita ini mencuat dalam sehari, dan hilang dalam sekejap juga menghilang selamanya setelahnya.


Satu jam kemudian berita tentang Syaren mengemuka di mana-mana. Mereka yang mengunggah foto mereka menghadiri pernikahan Dimas, terpaksa menghapus unggahan mereka, dari pada di tuntut Dimas.


Dimas menelpon Citra, menceritakan apa yang terjadi pada Syaren.


Di rumah ....


Citra menangis, melihat foto-foto Syaren dan Dimas di bakar para pembantu, karena intruksi Dimas. Sedang yang lain menghapus semuanya dari ponsel mereka.


Yumna juga langsung menghapus foto-foto mereka. Dia juga menghapus semua foto yang ada di ponsel Syaren. Dengan sangat terpaksa Dimas mengajukan pembatalan Nikah, dengan membawa bukti-bukti dari rumah sakit. Juga surat keterangan rumah sakit, yang menjamin Syaren masih perawan.


"Bagaimana kalian?" Tanya Citra, hatinya hancur melihat kesedihan di wajah Dimas, yang tak sempat membawa pulang wanita, yang baru di nikahinya.


"Kalau Syaren jodoh Dimas, maka dia akan datang pada Dimas mah. Sesuatu yang bukan untukmu, sekuat apapun kita menahan ia tetap akan lepas. Sesuatu yang memang milikku, sekuat apapun dia menjauh pergi dan menolak, dia akan datang sendiri padaku mah, jodoh Tuhan yang menentukan," sahut Dimas lirih.


..........


Semua masalah tentang ini Selesai.


Seminggu kemudian Syaren bisa di bawa pulang.


Hari-hari Syaren berlalu seperti biasa, keseruan bersama dua kakak-kakaknya, Yumna dan Reyhan selalu merawatnya dan di setia berada di sampingnya. Beberapa kali mereka membawa Syaren kontrol. Memastikan kesehatan Syaren. Adik bungsu yang sangat mereka sayangi.


***


Rasanya waktu sangat cepat berlalu. Satu tahun sudah dilewati. Syaren sudah sehat kembali, hanya saja rambutnya masih pendek.


"Kak ... aku pengen rambutku panjang lagi ...." rengek manja, Syaren.

__ADS_1


"Sabar sayang ... nanti juga tumbuh ...." sahut Yumna.


"Kak Rey, kapan kakak melamar Samantha?" Tanya Yumna.


"Nunggu kalian nikah ...." seru Reyhan.


"Kalau kakak nunggu kami nikah, Samantha bakal di gaet orang!" Seru Yumna.


"Aku akan Nikah ... syaratnya, kamu juga harus nikah dengan laki-laki pilihan kakak." seru Reyhan pada Yumna.


"Kok aku?" Rengek Yumna.


"Secara kamu sudah lebih 30 tahun, tapi belum nikah juga." ledek Reyhan.


Yumna terlihat lesu, "Jika itu dapat menebus, untuk mendapat maaf kaka aku siap. "Sahut Yumna.


"Baik, aku akan carikan suami buatmu." seru Reyhan.


"Buat aku ada ngga kak?" seru Syaren.


"Gatal!!!" Bentak Reyhan. Mereka semua tertawa.


Di sela-sela tawa mereka, tiba-tiba bel rumah berbunyi. Syaren langsung berjalan kearah pintu, dia langsung membukakan pintu.


"Hai kak Malik, apa kabar kak?" Sapa Syaren.


Sejak Malik tahu, Dimas melepaskan Syaren, sejak kala itu juga, dia menaruh hati pada Syaren, Malik tersenyum melihat Syaren, yang membukakan pintu dan menyapanya.


"Baik Ren, kak Reyhan ada?" Tanya Malik.


"Ada, em ... kamu ya, yang mau melamar adik kak Reyhan?" Tanya Syaren.


Malik bengong, dia tidak mengerti apa maksud Syaren.


"Siapa Ren?!" Teriak Reyhan dari dalam.


"Kak Malik, ayo masuk!" Seru Syaren.


Reyhan melangkahkan kakinya, mendekati Syaren. "Oh Malik, " sapa Reyhan.


"Kak Rey, dia calonnya kak Yumna?" Tanya Syaren.


"Hus!! Kamu ini, dia datang bukan melamar Yumna, tapi bisnis sama kakak." sahut Reyhan.


Syaren tersenyum kaku, dia malu, salah menuduh Malik. "Hehe ... maaf ya kak Malik ...." ucap Syaren, lirih.


"Iya nggak apa-apa." sahut Malik.


Syaren langsung pergi kedalam, untuk mengambilkan air buat Malik dan Reyhan.


"Malik, bagaimana kesehatan kamu?" Tanya Reyhan.


"Lumayan lah kak Rey, sepertinya aku harus lebih banyak lagi bantu orang, aku merasa waktuku tidak lama lagi." lirih Malik


Syaren datang dengan membawa nampan yang berisi minuman dingin, buat Reyhan dan tamu nya. "Kak Malik sakit apa?" Tanya Syaren.


"Ada masalah sama jantungku, penyakit bawaan dari lahir." sahut Malik


"Silakan minum kak." seru Syaren. Syaren duduk di samping Reyhan.


"Dimas apa kabar?" Tanya Reyhan


"Kak Dimas baik-baik saja kak Rey, dia jauh berubah semenjak ...." Malik menghentikan ucapannya karena ada Syaren.


"Syukurlah ... semoga dia cepat mendapat pasangan." seru Reyhan.


"Aamiin ...." sahut Malik.


"Kak Rey, sejak kapan sih sahabatan sama kak Malik? Masalahnya aku ngga ingat sama kak Malik." Tanya Syaren.


"Oh sejak pernikahan---"


"Sejak pernikahan sepupu saya!" sahut Malik, dia langsung memotong kata-kata Reyhan.


"Thank you!" isyarat bibir Reyhan, karena ia hampir keceplosan bicara.


"Ren, mau ikut kita ke panti nggak, aku dan Rey menjadi Donator beberapa panti." seru Malik.


"Boleh, kalau kak Rey kasih izin." sahut Syaren.


"Ikut aja, hampir setahun ini kamu nggak pernah keluar kan?" Seru Reyhan.


"Pernah kok, kerumah sakit!" Sahut Syaren.


Malik dan Reyhan sama sama tersenyum, mendengar jawaban dari Syaren.

__ADS_1


__ADS_2