
Jam makan siang sudah tiba, Zay langsung pergi dari ruangan nya meninggalkan Joan dan Aiman di sana. Dia langsung pergi menuju meja Tria.
"Tria ... jadi?" Tanya Zay.
"Jadi," jawab Tria.
Mereka berdua berjalan bersama meninggalkan kantor, dan menuju sebuah restoran ternama.
"Kamu ini penuh kejutan Zay, tadi pakai mobil bagus, sekarang makan di tempat mahal," kata Tria.
"Bos besar bahagia aku jatuh cinta, dia bakal kasih kejutan buat aku, jika kamu dan aku menikah, bos suka sama kamu, dia malah berharap kamu jadi menantunya sekarang," seru Zay.
"Kamu ini, tapi maaf, aku tidak bisa jadi menantu pak Joan, karena aku sudah nyaman bersama kamu, Zay." lirih Tria.
"Kamu menerima lamaranku?" Tanya Zay.
"Tapi lamar aku dengan benar, datang pada orang tuaku," jawab Tria.
"Tanpa kamu minta itu pasti, tapi aku minta izin kamunya dulu," seru Zay.
__ADS_1
"Iya aku izinin, kapan kamu mau ke rumah?" Tanya Tria.
"Malam ini, tadi bos Joan bilang kalau dia dan istrinya yang akan mendampingiku untuk melamarmu, jika kamu setuju," seru Zay.
"Wah kamu ini, kamu kali yang minta, biar keluarga ku tidak mampu menolak," seru Tria.
"Kalau kamu keberatan, aku akan ajak Aiman saja," kata Zay.
"Enggak, silakan sama siapa saja, tadi aku bercanda kok, surprise banget aku kalau pak Joan sama istrinya ikut datang, secara sulit mengenal siapa keluarga pak Joan," seru Tria.
Mereka makan siang bersama, mata Zay selalu melirik jari Tria untuk mengira-ngira ukuran jari manis Tria. Selesai makan siang Zay dan Tria kembali lagi ke kantor untuk bekerja.
Sesampai kantor, di depan meja Shafa, ada Joan dan Aiman, mereka memandang ke arah Zay dan Tria.
"Iya, aku masih di sini, karena aku ingin tahu jawaban Tria," seru Joan.
"Aku nggak dapat jawaban Pak, hanya dapat izin kalau aku boleh melamarnya pada keluarganya, jangan lupa sama janji om ya, kalau bapak dan istri bapak, akan mendampingiku melamar Tria," seru Zay.
"Oh aku senang, kapan kita akan pergi ke rumah Tria?" Tanya Joan.
__ADS_1
"Malam ini Pak," seru Zay.
"Okey, baiklah sampai ketemu nanti malam Tria, kami alan memberimu kejutan yang tidak akan pernah bisa kamu bayangkan sebelumnya," seru Joan meninggalkan mereka semua.
"Pengen juga di lamar, tapi sama anak pak Joan," rengek Shafa menggelayut ke tubuh Aiman, rasa keringat dingin Aiman karena Shafa bermanja pada dirinya.
"Maaf Shafa, aku hanya melamar wanita yang mau menerima aku apa adanya, bukan karena ada apanya," seru Aiman melepaskan pelukan Shafa padanya , lalu kembali ke ruangannya
"Aku lanjut kerja ya Tria, sampai ketemu nanti malam," seru Zay, dia juga masuk kedalam ruang kerja Direktur menyusul Aiman.
"Gua baru sadar bro, ternyata strategi kamu ampuh, coba dari awal kamu menampakan diri, sulit banget mengenali mana wanita yang benar cinta sama kamu, lihat saja nanti, pas mereka tahu aku hanya curutmu, heehh mereka akan pura-pura tidak kenal denganku, strategi anda sukses bos," seru Aiman.
"Iya itu dia Aiman, terima kasih karena selalu membantuku," seru Joan.
"Bos, kapan baju kerja ku balik? Kulitku gatal memakai baju-baju mahal milikmu bos," rengek Aiman.
"Segera, nanti aku laundry dulu, baju-baju aku yang kamu pakai, semua itu buat kamu aja semuanya, tenang aku masih banyak," seru Zay.
"Semoga sukses lamaran malam ini bos," seru Aiman.
__ADS_1
"Aamiin ...." jawab Zay.
Pekerjaan rutunitas mereka pun berlanjut lagi.