
"Dimas! Mama mau bicara." bentak Citra.
Dimas pun mengkuti langkah kaki Citra, hingga mereka berada di jarak yang aman, agar tak terdengar Mey.
"Apa?! Apa kamu dan Mey?" Citra tidak sanggup meneruskan pertanyaannya.
"Iya mah, saat aku bersama Mey, aku tak bisa menahan diri, bertahun-tahun mah aku merindukan Mey." lirih Dimas.
"Mama nggak mau tau! Kamu harus segera menikahi Mey!" Teriak Citra.
"Tenang mah, sore ini, kami akan menikah." sahut Dimas.
Reyhan baru datang lagi ke Kota Dimas, dia segera ke rumah Dimas, untuk menemui adik bungsunya, karena lumayan lama tak pernah bertemu Syaren. Betapa terkejutnya Reyhan melihat persiapan pernikahan di rumah Dimas.
"Maaf, Syaren di mana?" Tanya Reyhan, dia mencegat salah satu pembantu.
"Di kamar itu tuan." sahut pelayan.
Reyhan pun segera berjalan menuju kamar itu, dirinya sangat terpukul, melihat Syaren menangis, Syaren di bantu Joan mantan sekretaris pribadi Dimas, mempacking barang-barangnya.
"Oh, baguslah kalau kau datang menjemput adikmu, jadi aku tak perlu repot-repot mengantarnya." seru Dimas.
"Apa maksud kamu Dimas!" Bentak Reyhan.
__ADS_1
"Hei ... santai, aku tak pengecut sepertimu, kau selingkuh, tapi tidak mengantar Aira kerumahnya, dengan baik-baik, tapi aku? Aku masih baik hati, tak mengasari adikmu," seru Dimas
"Aku tak pernah kasar pada Aira, aku juga--"
"Stop Pak Reyhan!" Teriak Aira. Dia sengaja memotong ucapan Reyhan, dia tidak mau Reyhan membuka masalah yang sebenarnya.
"Kak, tolong, usir mereka." lirih Aira.
"Baik sayang, kamu kembalilah kedalam," jawab Dimas.
"Tak perlu mengusir kami, kami akan pergi dengan senang hati." jawab Syaren.
"Aku pastikan Dimas, kamu akan menyesal! karena telah mendengarkan kebohongan adikmu, dan membenci serta menyakiti adikku!" Reyhan begitu geram pada Dimas.
Reyhan sangat ingin menampar Dimas, namun Syaren memegang bahunya untuk menahannya.
"Kak, kita pulang, tak perlu kaka menunjukan fakta pada orang yg membenci kita, karena mereka yang membenci hanya percaya pada keburukan yang mereka lihat, dan hanya fokus melihat keburukan kita." lirih Syaren.
Reyhan dan Syaren pun meninggalkan rumah Dimas.
"Dimas, aku pamit, mulai sekarang aku bukan pegawaimu, aku tengah merintis usaha di luar daerah, daerah itu juga sangat jauh dari sini," lirih Joan.
Dimas hanya memeluk dan menyalami sahabatnya itu.
__ADS_1
Joan mendekati Dimas. "Aku hanya kasihan padamu, nanti kau akan menyesal karena melukai hati Syaren, kau beruntung karen Malik meminta Syaren menikah denganmu, andai Malik tidak meminta itu, aku yakin, Syaren tidak akan pernah mau jadi istrimu." Joan menepuk bahu Dimas. Sedang Dimas menatap tajam pada Joan.
Joan langsung pergi setelah berpamitan kepada semua orang.
Akad nikah Dimas dan Mey pun berlangsung sore ini, acara berjalan lancar. Namun ada kekosongan di hati Dimas. Entah kenapa saat ia mencium Mey setelah sah menjadi istrinya, tak seperti saat ia mencium Syaren. Nama Syaren selalu terngiang di otaknya. Dimas selalu meyakinkan hatinya kalau ia masih mencintai Mey seperti masa lalu mereka. Namum hati Dimas tak merasakan itu.
*
Seminggu setelah keluar dari rumah Dimas, akta perceraian Syaren dengan Dimas pun selesai. Pengacara Reyhan yang mengantar langsung ke rumah Syaren.
"Maaf pak Reyhan, perceraian anda dan Aira tak semudah perceraian adik anda, jadi besok adalah final, saya harap anda membawa bukti kuat tentang perselingkuhan istri anda, agar hak asuh Andra jatuh pada anda." seru pengacara.
Reyhan pun memberitahu pengacara tentang bukti buktinya. Pengacara sangat senang, karena ia yakin, kalau mereka akan memenangkan kasus ini.
Syaren memandangi surat cerainya dengan Dimas, hatinya hancur, untuk kedua kalinya dia jadi janda, dia merasa hancur, kenapa Dimas meninggalkannya saat ia mulai membuka hatinya untuk Dimas.
"Kak, aku kekamar ya," lirih Syaren, sambil tersenyum, agar orang lain tak tahu luka hatinya.
"Iya, istirahat ya, jangan memikirkan Dimas, dia bukan laki-laki yang baik, sudah tiga kali, dia menyakitimu, itu sudah diluar batas." lirih Reyhan.
"Tiga kali?" lirih Syaren bertanya-tanya.
"Satu kali, sebelum kamu kehilangan ingatan mu." lirih Reyhan.
__ADS_1
Syaren pun pergi ke kamarnya, sedang Reyhan melanjutkan pembicaraan dengan pengacaranya. Untuk mengatur langkah menghadapi Aira dan pengacaranya.