
Joan meminta izin untuk menginap di rumah Syaren malam ini. Sesampai di rumah Syaren, Joan dibukakan pintu oleh pembantu Syaren.
"Bunda si kembar di mana bi?" Tanya Joan.
"Di kamar tuan, kalo si kembar udah tidur sepertinya,"
Joan pun melangkahkan kakinya menuju kamar Syaren. Perlahan Joan membuka pintu kamar itu, Nampak Syaren tengah sibuk dengan bermacam berkas. Joan semakin Khawatir, karena persis kejadian di mimpinya barusan.
"Berkas apa itu?" Joan mengagetkan Syaren dengan pertanyaannya.
"Mas, kamu bikin kaget, aku mau melengkapi berkas perceraian kita,"
Joan mematung mendengar berkas perceraian. Joan semakin takut, karena ini juga yang Syaren katakan dalam mimpinya barusan. Syaren berjalan ke arahnya membawa map.
"Aku ingin kamu bahagia, maaf aku terlanjur cinta dan sayang sama kamu, aku ingin mewujudkan kebahagiaan mu," Syaren memberikan map pada Joan.
"Tapi kebahagiaan aku itu kamu, dan anak anak, yang di kantor itu aku bercanda,"
"Tolong tanda tangani berkas ini, aku sudah tanda tangan," lirih Syaren.
"Tidak! Sampai kapanpun aku tak akan menceraikanmu, aku tidak seperti Dimas yang membuang berlian beharga sepertimu, hanya demi sekelumit kisah masa laluku,"
"Mas, ini demi kebahagiaan kita, setidaknya baca," lirih Syaren.
Joan membuka map itu dan membacanya. Air matanya menetes mengetahui apa isi map itu. Ternyata tidak sama seperti kejadian didalam mimpinya.
"Kau ...."
"Memang cuma mas yang bisa bercanda, aku juga bisa."
"Syaren ... kau hampir membunuhku," Joan langsung menarik Syaren kedalam pelukannya, ia sangat bahagia Syaren mengurus surat untuk mengadopsi Zay.
__ADS_1
"Cepat tanda tangan! Lebih cepat lebih baik," seru syaren.
"Baik, aku akan tanda tangan, tapi ... kau harus memberiku imbalan, tanda tangan seorang Direktur ini sangat beharga,"
"Baik Pak Direktur, imbalan apa yang bapak mau?" Syaren menggoda Joan.
Joan selesai membubuhkan tanda tangannya.
"Imbalannya ..., kau harus mempertemukan aku dengan calon adik si kembar, aku ingin bertamu secara resmi, Maaf, selama ini aku main nyelonong tanpa menyapanya lebih dulu," Joan mendalami aksinya. Joan sangat lega, ternyata kenyataannya dia malah mendapat ke untungan karena mendatangi istrinya.
****
"Terima kasih untuk kebahagiaan ini," Joan menyelimuti dirinya dan Syaren yang masih dalam pelukannya.
"Kapan kau tahu aku hamil?"
"Barusan, saat aku bertemu ibu, kenapa kau menyembunyikannya?"
"Kenapa kau bisa hamil?"
"Awhhh," ringis Joan karena Syaren mencubitnya.
"Kalau tak mau istri hamil, maka jangan menyemai benih di ladangnya," Syaren sebal.
"Bukan itu ..., bukannya kamu KB selama ini?"
"Aku sengaja tak meminum, karena aku ingin punya anak darimu," Syaren mengencangkan pelukannya.
"Apa kau siap menerima Zay di tengah keluarga kita?" Tanya Joan.
"Kau menyayangi si kembar, seperti mereka anakmu sendiri, apa aku tidak boleh menyayangi anak suamiku?"
__ADS_1
"Tentu boleh sayang ..., kamu memang luar biasa." lirih Joan.
"Udah tidur aku ngantuk," rengek Syaren.
******
Syaren dan Joan pun berhasil mengadopsi Zay, kini Zay tinggal bersama mereka. Tak ada sedikit pun Joan dan Syaren membedakan Zay dan si kembar, mereka mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang sama.
Zay, Dina, dan Dona lahir di bulan yang sama. Hari ini Syaren mengadakan pesta ulang tahun sederhana di rumahnya. Hanya dia dan anak anak juga anggota yang ada di rumah ini.
Setelah membaca do'a si kembar dan Zay memotong tumpeng bersama, lalu mereka berikan pada Syaren
"Lho, kok bunda yang dapat potongan pertama sayang?" Syaren menerima potongan tumpeng dan menciumi anak-anaknya bergantian
"Karena kita mau minta hadiah dari bunda," sahut Zay.
"Hadiah apa sayang?" lirih Syaren.
Zay dan si kembar berlutut di hadapan Syaren.
"Bunda ..., Bunda udah kasih kami kakak," lirih si kembar bersamaan.
"Sekarang kami mau bunda kasih kami adik, kami minta adik bunda," seru Zay dan si kembar bersamaan.
Syaren berusaha menjauh dari anak-anaknya, namun ditahan oleh Zay.
"Bunda ... jawab permintaan kami, apakah bunda mau memberikan kami adik?" lirih Zay.
"Ayah, lihat anak-anakmu, mereka ingin menjajahku, mereka minta adik padaku, kenapa tidak minta padamu," rengek Syaren menatap Joan.
"Kan yang mengandung bunda, kalo yang mengandung ayah, kami minta pada ayah " seru Zay.
__ADS_1