Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Anak Orang Miskin


__ADS_3

"Kamu istirahat dulu aja, Nduk," ucap Bapak yang masih sibuk mencabuti rumput yang tumbuh di sekitar tanaman kacang tanah.


Aku yang berada tidak jauh cukup merasakan haus kali ini. Belum lagi peluh yang seolah menghujan, membuat badan terasa lengket. Aku bangkit dari dudukku, menyambut baik tawaran Bapak, sepertinya aku perlu istirahat sebentar.


"Bapak nggak istirahat dulu?" tanyaku.


"Iya, nanti, Nduk."


Sementara itu terlihat Rehan, adik laki-lakiku yang masih asyik bermain layang-layang. Ia berlarian ke selatan dan utara secara bergantian. Tidakkah ia memperhatikan bapak dan kakaknya yang tengah mengeluh kepanasan?


Matahari sebenarnya belum cukup tinggi, tetapi teriknya begitu menyengat badan. Aku berjalan menuju gubuk kecil yang berada di sisi depan ladang. Tempat berukuran 2×2 meter beratap jerami yang saat ini kutempati lebih dari cukup sekadar sebagai tempat berteduh dari panas atau hujan. Seingatku gubuk ini dibuat sekitar tiga tahun yang lalu ketika Ibu masih hidup. Andai saja Ibu masih ada di sini, pasti teh manis dan gorengan tidak pernah absen menemani aktivitas di ladang. Ah, aku benci jika mengaitkan segala sesuatu yang akhirnya mengingatkanku kepada Ibu.


"Kenapa, Re?" tanyaku kepada Rehan yang menimbrung duduk di sampingku. Dia kemudian mengambil air minum dan meneguknya cukup banyak.


"Capek, Mbak," keluhnya setelah mengelap tetesan air minum yang masih mengalir di mulut hingga lehernya.


Aku hanya menjawab dengan kata 'oh'. Realitanya sama sekali tidak sebanding dengan keinginannya yang menggebu-gebu sewaktu meminta Bapak untuk membelikan layang-layang. Beberapa hari yang lalu teman-temannya sibuk bermain layang-layang di lapangan, sementara Rehan hanya menonton dari tepi. Aku selalu menemaninya di sana setiap sore.


Beberapa kali Rehan mengatakan kepadaku jika ia ingin memiliki layang-layang berwarna biru. Rehan masih kelas lima SD, aku rasa wajar jika ia juga ingin seperti temannya. Ternyata sepulang dari lapangan Rehan pun mengutarakan keinginannya itu kepada Bapak. Sayangnya waktu itu Bapak belum bisa memenuhi permintaan sederhana itu, Bapak berjanji membelikannya ketika sudah ada uang. Untung saja Rehan dapat memahami kondisi Bapak. Ia kemudian menyisihkan uang saku untuk memiliki main itu dan pagi tadi keinginan kecilnya itu tercapai.


"Tuh, Bapak pasti lebih capek." Jariku menunjuk ke arah Bapak, berharap Rehan menaruh simpati.


"Bapak nggak pernah mau kalau aku bantu, kok, Mbak."


"Bapak itu sungkan kalau mau minta tolong, seenggaknya kita punya kesadaran buat bantu. Jangan menunggu perintah. Selagi kamu longgar, ayo bantu Bapak," ucapku menceramahi Rehan.


"Iya, Mbak. Nanti Rehan bantuin habis ini."


Tidak kusangka Rehan segera menaruh layang-layangnya di gubuk dan lekas menghampiri Bapak. Aku tidak dapat menyimak percakapan dua lelaki hebatku itu sebab suara mereka yang pelan. Tapi dari gerak-geriknya, terlihat bahwa Bapak tidak memperbolehkan Rehan membantu. Bapak dan Rehan, dua orang yang sama-sama memiliki kecenderungan bersifat pendiam. Keduanya hemat dalam berbicara, tidak heran jika rumah selalu berada dalam kondisi sepi meskipun anggota keluarga lengkap.


"Rumputnya bisa banyak gini, ya, Pak," ucapku yang baru bergabung bersama Bapak dan Rehan.


"Iya, Nduk, nggak papa. InsyaAllah tetap diberikan panen selagi kita mau berusaha untuk merawatnya."


"Ini panennya masih lama, Pak?" tanya Rehan.

__ADS_1


"Sekitar dua bulan lagi. Semoga tidak diganggu tikus, ya, Le, biar dapat hasil yang banyak."


"Aamiin, nanti Rehan mau tas baru, ya, Pak."


Aku hanya tersenyum ketika melihat Bapak mengangguk. Sedih sekali rasanya ketika Rehan atau aku meminta sesuatu kepada Bapak. Jarang sekali Bapak langsung mengiyakan dan membelikan, Bapak selalu menghibur kami dengan janjinya. Ya, mau bagaimana lagi, Bapak hanya mengandalkan ladang sebagai tempat untuk mencari uang.


"Bayam sama cabai yang Bapak tanam dulu sudah bisa dipanen, Nduk. Coba kamu petik, nanti ditawarkan ke warung Bu Minah, siapa tahu bisa ditukar dengan minyak atau gula," ucap Bapak menyuruhku menuju sebidang tanah yang khusus untuk tanaman sayur.


"Ya udah, ini Devi tinggal, ya. Mau panen sayuran dulu."


Sesuatu yang paling kusenangi ketika di ladang adalah dapat melihat warna serba hijau ditambah bonus pemandangan Gunung Lawu yang sewaktu-waktu menunjukkan pesonanya. Aku tidak pernah bosan berada di tempat ini sebenarnya. Sayangnya, Bapak jarang sekali memperbolehkanku untuk ikut ke tempat ini.


"Rehan bantu petik cabai sama terong, ya, Mbak."


Tanpa menunggu persetujuan dariku, Rehan langsung memetik buah cabai yang sudah ranum. Sebenarnya hanya ada sekitar delapan pohon cabai. Akan tetapi, kali ini cabai itu berbuah sangat banyak sekaligus berkualitas baik. Ah, kalau seperti ini aku semangat jadinya. Aku segera mencabut bayam yang siap panen dan menaruhnya pada selembar daun jati.


Selain itu, Bapak juga menanam gambas dan pare. Ada juga tanaman kangkung air yang tumbuh liar sebab kondisi tanah yang mengandung banyak air. Terdengar suara Rehan yang berdendang tidak jelas. Sepertinya ia juga bahagia dengan hasil tanaman Bapak yang menggembirakan. Semoga saja nanti laku semuanya.


"Sudah kamu ikat masing-masing, Nduk?"


"Sudah semuanya, Pak. Nanti langsung dibawa ke warung Bu Minah?"


"Iya, habis itu jangan ke sini lagi, di rumah aja. Tanya dulu ke Bu Minah, dia mau beli atau nggak. Kamu ajak Rehan, ya, Nduk. Kalau dia mau jajan, nggak papa."


"Boleh, Pak?" tanya Rehan antusias, telinganya peka sekali untuk hal seperti ini.


***


Kondisi warung Bu Minah cukup ramai. Semua pelanggan seolah ingin dilayani lebih dulu. Aku dan Rehan hanya berdiri di belakang ibu-ibu. Sebagian sayuran yang masih segar tadi sengaja masih kutaruh di keranjang sepeda. Selain berat, aku juga malu jika nantinya menjadi pusat perhatian para pembeli.


"Mau beli apa, Nduk?" tanya Bu Minah begitu warungnya dalam kondisi lumayan sepi.


"Disuruh Bapak nawarin sayuran, Bu."


"Sayurannya ada apa aja?"

__ADS_1


Setelah mengetahui jenis sayuran yang kubawa, Bu Minah seolah tertarik untuk membelinya. Aku tidak paham dengan harga pasar saat ini, mungkin harga belinya memang sangat murah, hampir separuh dari harga di pedagang biasanya.


"Nggak dikasih tambahan harga, Bu?"


"Nggak bisa, Nduk. Kalau mau dijual di pedagang lain silahkan. Lagi pula sayurannya udah kuning gini warnanya."


Aku sedikit tersentak ketika Bu Minah meletakkan sayuranku dengan kasar. Wanita berusia sekitar 50 tahun itu memang sedikit tempramental, terlebih jika melayani anak-anak.


"Iya, deh, Bu, nggak papa harga segitu," ucapku mengalah daripada pulang tanpa membawa uang.


Aku baru ingat jika tadi Bapak meminta untuk membeli minyak goreng, gula, dan kopi. Rencananya aku ingin membeli minyak saja, sepertinya uang tidak mencukupi jika langsung membeli semuanya.


"Bu, uang sayuran dimintai minyak goreng yang setengah liter aja," ucapku yang tidak dipedulikan oleh Bu Mira. Dia masih asyik menikmati makanannya.


"Mbak, kok, lama banget, ya. Dari tadi belum juga dilayani," runtuk Rehan yang mau kesal.


"Sabar, Re, Bu Minah lagi repot," ucapku mengibur Rehan.


"Dia dari tadi perasaan santai terus."


Aku mengisyaratkan Rehan untuk diam. Ucapan memang benar, hanya saja aku takut jika Bu Minah semakin murka gara-gara mendengarnya.


"Lho, ada bu bidan. Mau beli apa?"


Aku merasakan perbedaan perlakuan ketika Bu Ratri, bidan desa, mampir di warung Bu Minah. Bu Minah tampak ramah sekali, beberapa kali dia menawarkan tempat duduk kepada Bu Ratri. Rehan yang kebetulan duduk di salah satu kursinya bahkan diminta pergi.


"Mbak, enak jadi orang kaya, ya?" bisik Rehan.


"Kenapa?"


"Disegani banyak orang."


"Jangan keras-keras, Re. Itu bagus buat dijadikan motivasi, biar kita bisa sukses selanjutnya."


Terima kasih sudah membaca novel ini.

__ADS_1


__ADS_2