Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Syiham 2


__ADS_3

"Nak, berhenti sebentar!"


Aku menghentikan kayuhan sepedaku ketika seorang ibu berteriak ke arahku. Wanita berusia sekitar 30 tahunan itu menghampiriku. Aku bingung, apakah ibu itu salah panggil orang?


"Kamu sekolah di SD situ, kan? Tunggu sebentar, bisa?" Aku mengangguk, sebenarnya tidak paham.


"Nak, ayo jangan lama-lama. Ini sudah ditunggu temanmu!" Ibu tersebut berteriak.


"Iya, Ma."


Tak lama berselang keluar seorang anak laki-laki dengan menuntun sepedanya. Begitu tahu anak dari sang ibu, aku langsung merasa malas. Ternyata Syiham, adik kelas yang selalu menjadi langganan omelan guru.


"Eh, Mama kenapa panggil Devi?" tanya Syiham yang juga keheranan.


"Kalian saling kenal ternyata?"


"Dia kakak kelasku, Ma."


"Bagus kalau gitu. Ini tadi Mama asal berhentiin dia aja. Pokoknya kelihatan seragamnya kembar sama kamu, makanya Mama suruh tunggu." Aku masih tidak paham dengan pembicaraan ibu Syiham.


"Ibu hari ini nggak bisa antar Syiham. Syihamnya pengen naik sepeda sendiri, daripada gak ada teman, lebih baik Ibu suruh kamu temani dia, ya." Ha? Anak dan ibu sama-sama aneh.


"Gak keberatan, kan? Ini buat kamu sebagai imbalan." Ibu Syiham memberiku sesuatu yang terbungkus kantong plastik.


"Nggak usah, Bu. Saya nggak merasa direpotkan, kok." Aku berusaha menolaknya dengan halus.


"Jangan ditolak, tidak baik. Ibu juga ikhlas ini. Ibu taruh keranjang kamu, ya."


"Ya sudah, Bu. Terima kasih, ya."


"Ya sudah, Ma, Syiham berangkat dulu, ya!" Ibu dan anak tersebut tengah ber-cipika-cipiki. Mau berangkat sekolah saja harus drama seperti itu.


"Nak, pulangnya nanti barengan sekalian, ya."


"Pulangnya selisih satu jam, Bu. Nanti Syiham kelamaan nunggu saya," jelasku.


"Aduh, gimana, dong?"


"Aku bisa pulang sendiri, kok, Ma. Kalau mau, ya, nanti aku nunggu Devi nggak papa," sahut Syiham berusaha agar mamanya tidak khawatir.

__ADS_1


"Oh, oke kalau begitu. Jaga diri baik-baik, ya, Nak. Maafkan Mama tidak bisa mengantar hari ini. Pulang sekolah nanti Mama ajak kamu jalan-jalan, deh." Ah, gemas sekali. Rasanya ingin kukayuh pedal sepedaku dan meninggalkan dua orang yang menghambat berangkat sekolahku pagi ini.


"Eh, udah, kasihan teman kamu nunggu lama. Buruan berangkat, deh!"


"Oke, Ma."


Untung saja jarak yang ditempuh menuju sekolah hanya tinggal setengah kilometer. Jarak yang tidak terlalu jauh sebenarnya. Aku dan Syiham saling diam, dia berada di belakangku.


"Syiham, kamu di depan aja. Nanti kamu hilang, lho," ucapku berniat meledek Syiham. Dia kan anak mama, harus selalu di posisi paling aman dan diprioritaskan.


"Enak aja, aku sebenarnya bisa berangkat dan pulang sendiri, Dev. Tapi ya gitu, mamaku kan rempong."


"Kan emang anak mama," celetukku.


"Bilang kayak gitu lagi, awas ya, Dev!"


"Awas kenapa? Ih, takut."


Syiham mendahuluiku, namun ia sempat juga menendang bagian boncengan sepedaku hingga aku hampir terjatuh. Untung saja aku bisa menjaga keseimbangan dan akhirnya aku tetap aman. Syiham tertawa puas, dia masih mengayuh sepedanya dengan cepat, mungkin mengira aku akan mengejarnya.


Akhirnya aku tiba di sekolah. Sudah terdapat beberapa siswa yang datang. Ini semua gara-gara Syiham, aku berangkat sedikit kesiangan hari ini.


"Aku ke kelasmu sebentar, ya."


"Dev, kenapa bocah ini ikut kamu?" Dera, teman sekelasku merasa heran menyadari Syiham yang tak memiliki rasa sungkan berada di kelasku.


"Dia tadi berangkat bareng aku. Mungkin di kelasnya belum ada yang datang, makanya gak berani ke sini."


"Aku cuma sebentar di kelas ini, habis ini juga balik ke kelasku, kok," ucap Syiham sambil menulis asal di papan.


"Eh, jangan dibuat mainan spidolnya. Nanti kalau habis dimarahi Bu Vita!" Aku merampas spidol yang berada di genggaman Syiham.


Syiham masih berusaha merebut lagi spidol yang kubawa. Di sampai mengejarku, dasar anak kecil! Mungkin ia pikir aku sedang mengajaknya bercanda.


"Eh, dibilangin jangan buat mainan, kok." Kuangkat spidol tadi tinggi-tinggi.


Syiham yang tingginya hanya sebahuku tampak kesusahan. Dia tidak mau menyerah bahkan terus meloncat. Dasar keras kepala!


"Ih, main peluk-peluk, ngeselin."

__ADS_1


"Kamu sih, Dev. Kalau gak usil kayak gitu juga gak bakal aku peluk-peluk kamu." Menyangkal terus. Sudah tahu salah padahal.


Aku yakin yang dilakukan Syiham tadi adalah suatu ketidaksengajaan. Sudah kejadian begitu, Syiham akhirnya tidak lagi meneruskan niatnya. Dan, gara-gara kejadian itu aku terus menjadi bahan candaan temanku.


...Syiham ❤️ Devi...


Tulisan seperti itu mulai sering kujumpai. Di papan tulis, di buku pelajar, bahkan di tembok juga tak luput dari tangan-tangan jahil temanku. Aku mulai risih dengan candaan semacam ini. Sialnya, Syiham masih saja sering menjahiliku. Selalu ada saja yang ia lakukan di kelasku sewaktu istirahat tiba. Hal ini membuat teman-teman semakin gencar menjadikan aku sebagai bahan candaan mereka. Ah, hal seperti ini sepertinya lumrah dilakukan oleh anak-anak di masa SD.


"Dev, astaga, Devi!" Aku tersentak ketika Dila berteriak tepat di telingaku, refleks aku memukul bahunya. Ternyata ingatanku menari di masa SD, memikirkan kenangan yang berkaitan dengan Syiham.


"Bisa pelan nggak, sih? Bikin kaget aja!" protesku.


"Dari tadi udah pelan. Lama-lama aku tambah volumenya, kamu masih bengong. Ya, udah, aku teriak aja!" Dila tertawa.


"Ada apa, Dil?"


"Ada yang nyari kamu di luar. Masih kelas tujuh kayaknya. Soalnya masih pakai seragam SD."


Firasatku mulai tidak enak. Aku ingat dengan ucapan Syiham kemarin yang ingin datang ke kelasku di waktu pagi. Buru-buru aku keluar kelas untuk memastikan siapa yang sedang mencariku.


Tidak ada siapapun di luar. Kondisi koridor sekolah pun masih sepi, belum tampak orang yang berangkat sekolah. Dila bohong, nyatanya tidak ada orang yang ia maksud.


"Eh, Devi. Mau ke mana lagi? Dicariin juga?"


Aku bahkan tidak tahu dari mana Syiham bersembunyi. Lelaki itu menghampiriku dan menyodorkan sesuatu dalam kotak makanan. Untuk pertama kali setelah sekian lama tidak bersama, Syiham ternyata sudah tumbuh sangat tinggi. Aku sekarang hanya sebahunya.


"Apa ini?" Syiham masih berusaha agar aku mau menerimanya.


"Brownies buatan Mama. Enak, seperti yang pernah dikasih Mama waktu kamu temenin aku berangkat."


Wah, sudah lama aku tidak menyantap makanan dengan rasa cokelat yang khas itu. Brownies buatan ibu Syiham memang tak tertandingi. Aku baru sekali menyantapnya, namun rasanya masih bisa saja kuingat.


"Ambil aja, Dev. Kamu nggak mau?" Dengan sedikit jaim, aku mengambilnya.


"Makasih, Ham."


"Sama-sama, aku ke kelas dulu, ya, Dev. Aku cuma mau ngasih ini, kok."


Syiham melambaikan tangan kemudian pergi menuju kelasnya. Ternyata dia jauh lebih baik daripada Syiham yang kukenal saat SD. Di tengah langkahnya Syiham berhenti dan menoleh kepadaku, dia tersenyum dan tanpa sadar aku membalasnya, lucu saja menurutku.

__ADS_1


"Ehem, itu adik kelas atau pacar? Kok, manggilnya nggak pakai embel-embel Kak atau Mbak."


Aduh, jangan sampai tercipta gosip yang lain.


__ADS_2