Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Ada Kelebihan Ada Kekurangan


__ADS_3

"Tadi kenapa nggak ikut voli, Deb?" Setelah meminum beberapa tegukan, Nindi menaruh botol hijaunya di atas meja.


"Aku bantu Pak Edi di utara gerbang," jawabku.


"Padahal seru banget, sayang kamu nggak ikut."


"Aku nggak bisa main voli, kalaupun ikut pasti cuma diam bengong." Aku tertawa, rasanya kurang afdol jika tidak menepuk bahu orang di sekitar ketika tertawa.


"Ih, kebiasaan ketawa pakai mukul!" protes Nindi.


"Nin, tadi aku ketemu teman SD-ku, namanya Zaki. Dan, penggemarmu bertambah. Dia tadi mau minta nomormu," ucapku menceritakan keinginan Zaki.


"Zaki anak 8D?" tanya Nindi.


"Aku nggak tahu kelasnya. Nggak kepikiran lihat badge yang dia pakai juga."


"Terus kamu kasih nomorku?" tanya Nindi lagi.


"Nggak, aku izin kamu dulu. Kalau kamu izinin, baru aku kasih ke dia," jelasku.


"Bagus kalau begitu. Nomorku jangan dikasih ke sembarang orang, ya. Aku capek kena teror terus." Nindi terlihat cukup lelah. Mungkin kelelahan menghadapi beberapa orang yang nekat ingin berkenalan dengannya.


"Tapi, aku beneran nggak pernah nyebar nomor kamu ke orang-orang, lho," ujarku.


"Iya, itu kesalahanku sendiri, kok. Aku dulu gampang banget ngasih nomor ke orang lain bahkan orang yang belum begitu aku kenal. Sekarang bingung banget, Dev. Mereka ada yang sampai berani telepon gara-gara pesannya nggak aku balas," terang Nindi menceritakan hal yang membuatnya jengkel.


Oh, ternyata seperti itu sisi tidak menariknya hidup Nindi. Hidupnya mungkin terkadang terasa tidak nyaman karena kehadiran orang-orang yang menyukainya. Dengan adanya cerita seperti ini, aku jadi merasa tidak berada di titik rendah terus. Akan tetapi, haruskah aku bersyukur ketika hanya mengetahui sisi lemah orang lain?


"Beneran, ya, Dev. Jangan kasih nomorku ke orang lain." Nindi memegang kedua tanganku penuh harap, aku mengangguk setuju seraya tersenyum.


"Kamu mau?" Nindi menawarkan rotinya. Dia juga menunjukkan ada tiga bungkus roti di loker mejanya.


"Tumben beli roti. Biasanya nggak suka roti," celetukku. Buru-buru Nindi memintaku untuk diam, dia mendekatkan jarinya ke bibir.


"Kenapa?" lirihku hampir tak bersuara.


"Ini pemberian. Nggak baik kalau ditolak, kamu makan satu, ya," jelas Nindi.


Inilah salah satu keistimewaan Nindi. Aku heran kenapa ada makhluk seperti dia. Nindi cantik, cerdas, dan yang paling utama dia memiliki etika yang baik di luar nalar. Dia selalu menghargai pemberian orang lain meskipun barang yang diberikan tidak ia sukai. Susah payah aku berusaha meniru semua perilaku baik Nindi.


"Kamu mau yang rasa cokelat?" Nindi menyodorkan dua roti dengan rasa yang berbeda; cokelat dan vanilla.


"Aku mau yang rasa cokelat." Kuambil sebungkus roti sandwich dengan selai cokelat di tangan kanan Nindi.


"Terima kasih, Nin," ucapku hampir lupa, Nindi hanya tertawa. Kebiasaan sederhana seperti ini juga kuterapkan setelah berteman dengan Nindi. Sebelum-sebelumnya, aku sering melupakannya.

__ADS_1


"Enak, lho, Nin. Kamu beneran nggak mau?"


"Kalau saja tubuhku nggak mudah sensitif, Dev. Rasanya semua makanan ingin aku lahap. Cokelat, es krim, kenapa semua yang enak justru tidak baik untuk tubuhku?" Nindi tertawa.


Nindi pernah bercerita kepadaku. Dia memiliki penyakit asma yang terkadang bisa kambuh. Maka dari itu, dia menghindari beberapa makanan yang dapat memberikan kemungkinan buruk. Dia juga mudah batuk, makanya cokelat dan es krim yang sangat lezat itu harus ia hindari.


"Siapa yang ngasih ini tadi?" bisikku dengan sedikit menunduk.


"Alwi, dia habis dari kantin terus ngasih aku ini sama jus jambu. Untung jus jambunya tanpa es," jawab Nindi dengan berbisik juga.


Aku hanya mengangguk-angguk seraya masih mengunyah rotiku. Alwi masih menjalankan misinya untuk mendekati Nindi. Aku lupa memberikan arahan kepadanya, tentang apa yang boleh dan tidak boleh diberikan kepada Nindi. Pulang sekolah nanti dia harus ku-briefing.


"Kamu mau lagi, Dev?" tawar Nindi begitu tahu rotiku habis lebih dahulu daripada punyanya.


Buru-buru aku menggeleng, Nindi tertawa lagi. Begitulah Nindi ketika bersamaku, penuh dengan tawa. Katanya aku sosok yang humoris. Ya, memang faktanya begitu, namun hanya satu dari 100 orang yang menyadarinya karena memang ekspresi dan wajah dan jutek yang dominan kumiliki. Eh, tapi aslinya aku baik, kok.


"Kamu beneran nggak mau? Rasa vanilla itu enak banget, lho," ucap Nindi masih berusaha membujukku.


"Kok, maksa? Itu bisa kamu makan nanti siang, Nin. Jangan terlalu dermawan ke orang, nanti jadi miskin, lho," selorohku dengan bergurau.


"Justru dengan berbagi itu nantinya rezeki yang kita terima akan berlipat ganda, Dev. Ini bentuk rasa syukurku, makanya aku kasih ke kamu. Ayahku pernah bilang ketika kamu mau bersyukur--" Belum selesai Nindi meneruskan kalimatnya, aku memotongnya dengan memberi isyarat agar dia diam.


"maka Allah akan menambahkan rezekinya," ucapku menyambung kalimat Nindi. Sudah berulang kali aku mendengar kalimat itu darinya. Oleh sebab itu, aku sampai hafal di luar kepala.


Bel pergantian jam berbunyi, waktu istirahat dari olahraga telah selesai. Sebenarnya tadi memang belum waktunya istirahat. Akan tetapi, karena olahraganya bebas, beberapa siswa memilih melipir ke kantin untuk jajan. Untung saja Pak Edi tidak mempermasalahkannya.


Materi untuk hari ini adalah tentang puisi. Bu Irma tampak menjelaskan dan memberikan contoh-contoh puisi serta penggunaan majas di dalamnya. Aku cukup antusias kali ini, maklum biasanya aku iseng menulis puisi di buku. Pelajaran seperti ini sangat penting untuk menambah pengetahuanku tentang dunia puisi.


Kelas begitu lengang, beberapa temanku bahkan terlihat sibuk sendiri. Aku pernah dengar, mereka bilang Bahasa Indonesia sangat membosankan. Mungkin saat ini mereka merasakan demikian.


"Ada yang suka buat puisi?" tanya Bu Irma. Kukira mungkin itu cara beliau agar kondisi kelas tidak terlalu sepi.


"Devi, Bu. Saya pernah baca puisi di buku tulisnya." Mendadak aku menjadi pusat perhatian gara-gara Oliv.


"Eh, apaan, sih, Liv?"


Dasar Oliv, bisa-bisanya aku dijadikan mangsa. Jangan sampai setelah ini Bu Irma menyuruhku untuk membaca puisi di depan kelas.


"Oh, iya? Devi yang mana?" Hm, aku memang tidak populer di kalangan guru, aku mengangkat tangan agar Bu Irma tidak kesulitan mencariku.


"Puisinya dibawa?" Aku mengangguk.


"Boleh Ibu mendengarkan kamu membaca puisi?" izin Bu Irma dengan sopan.


"Saya malu, Bu."

__ADS_1


"Ih, sok-sokan malu. Biasanya malu-maluin," celetuk Oliv lagi. Bahkan Nindi tampak menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Oliv.


"Nah, bagaimana kalau kamu yang baca puisi Devi. Siapa namamu?" Bu Irma mendekati Oliv.


"Oliv, Bu!" jawabku cepat. Akhirnya, senjata makan tuan.


"Kok, saya, Bu?" protes Oliv.


"Kamu pasti PD tampil di depan. Namanya collab ini. Ayo Oliv, silahkan ke depan!"


Tugas seperti itu mungkin bukan hal yang sulit bagi Oliv. Dia yang terkenal cerewet itu juga ada kelebihannya. Dia pernah juga mewakili kelas untuk lomba pidato di acara ulang tahun sekolah. Hasilnya, dia berhasil mendapatkan juara dua.


"Mana puisinya, Dev?" Oliv mendatangiku.


"Yang ini aja, ya." Kuberikan buku kumpulan puisiku, aku memintanya untuk membaca puisi yang kumaksud.


"Oke, Devi."


Oliv tampil di depan kelas. Dia membaca dengan penuh penghayatan. Dia hebat!


Surga yang Kurindu


Hening pagi menyambut hari


Yang hadir selepas kepergianmu


Tutur lembut yang membangunkanku


Kini dan seterusnya tak lagi kurasa


Aku rela mendengar omelmu


Aku rela merasakan pukulan kayumu


Asal sekali saja bisa kuulangi lagi


Hidup dan menerima lagi kasih sayangmu


Wajah lelahmu itu tak bisa kupandang lagi


Lezat dan wangi masakanmu kini hanya khayal


Semua hanya tertinggal kenangan saja


Engkaulah surga yang kurindu, Ibu

__ADS_1


Puisi yang kubuat tidak indah sebenarnya. Akan tetapi, pembawaan Oliv yang penuh penghayatan membuatku berhasil meneteskan air mata. Kurasa seisi kelas setuju denganku. Setelah selesai Oliv mendapatkan hadiah tepuk tangan yang meriah.


__ADS_2