
Seminggu sudah pembelajaran di tahun ajaran baru dimulai. Perlahan siswa pindahan dari kelas lain bisa membaur dengan penghuni asli. Begitu juga yang awalnya tampak malu-malu, mulai menunjukkan sifat aslinya.
Di antara beberapa teman baru dari kelas lain tersebut, aku masih saja suka diam-diam memerhatikan Alwi. Dibandingkan teman laki-laki lainnya, Alwi tampak lebih pendiam. Dia juga tidak banyak bicara. Bicara hanya satu dua kali, itupun bersama Firman, teman sebangkunya.
Aku sebenarnya juga tidak paham dengan perasaanku. Ada rasa senang ketika melihat Alwi tersenyum. Entah benar-benar suka, atau hanya sekadar kagum. Aku sudah remaja dan sangat wajar jika ada ketertarikan pada lawan jenis. Bolehkah aku jatuh cinta?
"Tadi katanya mau cerita, Dev?" tanya Nindi kepadaku.
"Ah, lupa mau cerita apa," jawabku.
"Maaf, gara-gara aku terlalu sibuk bercerita, kamu sampai lupa mau cerita apa."
"Santai aja, Nin. Kapan-kapan kalau ingat aku cerita, deh."
Sebenarnya itu tadi alibiku saja. Semula aku ingin bercerita mengenai perasaanku kepada Alwi. Akan tetapi, aku malu untuk sekadar bercerita kepada Nindi yang merupakan sahabatku sendiri.
"Ya udah. Balik ke kelas, yuk! Udah sepi banget."
"Ayo!"
Aku dan Nindi beranjak dari taman dan kembali ke kelas.
"Kalian dari mana?"
Kukira kelas sudah dalam kondisi sepi, ternyata masih ada Alwi di sana. Aku dan Nindi memang terbiasa pulang paling akhir. Selepas salat Zuhur, agenda bercanda atau curhat di taman yang berada di sisi selatan kantor memang tidak pernah lupa. Bukan kebiasaan baik, sih, tetapi aku dan Nindi merasa ada yang kurang jika tidak melakukannya.
"Dari taman. Kok, belum pulang, Al?" tanyaku.
"Iya, tadi masih ngerjain matematika." Alwi kemudian tampak menggendong tasnya dan keluar kelas.
"Devi, Nindi, aku duluan, ya," ucap Alwi berpamitan.
"Iya, Al. Kamu tadi bawa motor atau sepeda?"
"Sepeda."
"Barengan, Al," ucapku berharap Alwi mau menemaniku.
"Nggak bareng Nindi?"
"Beda arah. Lagian dia bawa motor, kok."
"Oh, ya udah. Aku tungguin di luar, ya."
Aku dan Nindi segera mengemasi buku dan alat tulis yang masih berceceran di meja. Lumayan juga pulang sekolah ada teman mengobrol.
"Dia aneh nggak, sih?" bisik Nindi.
__ADS_1
"Siapa? Alwi?"
"Iya. Dia senyum-senyum terus ke kamu," ucap Nindi dengan tampak bergidik. Aku sedikit setuju dengan Nindi, tapi kurasa senyum Alwi bukan ditujukan untukku.
"Bukan, deh, kayaknya. Ke kamu mungkin," sergahku.
"Dia kayak salah tingkah, gugup gitu waktu ketemu kita," tambah Nindi.
"Ah, nggak. Mungkin itu perasaanmu aja, Nin Duluan, ya, nggak enak ditungguin Alwi."
****
"Kami beneran nggak ingat aku waktu TK, Al?"
"Sedikit ingat. Ternyata dulu kita satu kelompok," ucap Alwi.
"Itu ingat!"
"Aku tanya mama waktu kamu bilang kalau kita dulu satu TK, justru mama ingat banget sama kamu. Katanya ibu kamu dulu juga teman SD mama. Titip salam buat ibu kamu dari mamaku." Aku tersenyum getir mendengar ucapan Alwi.
"Kok diam aja, titip, ya!"
"Ibuku udah meninggal, Al."
"Oh, maaf, aku nggak tahu, Vi," ucap Alwi.
"Iya, maaf jadi bikin kamu ngerasa bersalah. Titip salam buat mamamu, ya. Terima kasih mie sama ayam gorengnya," celetukku iseng.
"Emang mama kamu bilang apa?" Aku penasaran.
"Kata mama kamu dulu pernah tumpah bekalnya, terus sama mama dikasih punyaku. Aku ngambek tapi. Sebenarnya aku nggak ingat kamu, cuma gara-gara penjelasan mama itu, aku jadi pura-pura ingat," jelas Alwi.
"Yah, kirain beneran ingat."
Sepedaku dan sepeda Alwi terus berjalan melewati jalan yang kanan kirinya merupakan lahan pertanian padi. Masih setengah perjalanan lagi dan rasanya sudah sangat melelahkan. Kalau saja ada motor yang bisa kubawa ke sekolah, mungkin tidak akan selelah ini.
"Duluan, Al," ucapku ketika aku dan Alwi berpisah di sebuah gang menuju rumahnya. Lelaki itu hanya mengangguk.
Alwi sebenarnya ramah dan tidak terlalu pendiam. Buktinya tadi sewaktu dalam perjalanan denganku, dia masih terus mengajakku berbicara. Jika mengingat kebersamaan tadi, rasanya aku ingin senyum-senyum sendiri.
****
Malam itu rencananya aku hendak mengerjakan tugas matematika yang diberikan guru sewaktu pembelajaran tadi. Aku duduk di menghadap meja belajar. Beberapa buku yang tidak ada jadwalnya besok aku keluarkan. Sebuah benda mengganjal masuk di dalam bukuku.
[Akhir-akhir ini aku sangat sibuk. Kata Firman, aku membuang waktu dengan percuma. Aku terus memikirkan kamu. Wajah cantikmu, senyum manismu, dan tutur halusmu.
Lain kali, aku akan mencoba memberanikan diri berbicara langsung denganmu. Saat ini, lewat surat saja dulu, ya
__ADS_1
Alwi]
Perasaanku campur aduk tidak karuan. Sepucuk surat yang ditaruh bersama dengan sebatang cokelat itu ternyata dari Alwi. Ya Allah, rasanya aku seolah sudah menembus angkasa. Apakah ini benar? Alwi juga merasakan hal yang sama dengan apa yang kurasakan?
"Mbak, kok punya cokelat?"
Ah, kenapa bocah lelaki itu peka sekali ketika aku memiliki sesuatu, jajan misalnya. Jangan tanya lagi, pasti sudah tertebak apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Dia pasti menginginkan cokelatku.
"Kamu mau?" tanyaku.
"Mau dong, Mbak. Tumben bisa beli kayak gini, dapat uang dari siapa?" tanya Rehan penasaran.
"Ada yang ngasih," jawabku
"Kok bisa?" Rehan mengambil sepotong cokelat pada bagian ujung.
"Ih, aku yang punya belum makan padahal. Main ambil aja." Aku mencubit lengan Rehan pelan, dia hanya tertawa.
"Aku cuma mau ngecek, bahaya atau tidak cokelat ini. Daripada nanti Mbak kenapa-kenapa. Iya, kan?" Aku hanya komat-kamit menirukan ucapannya.
"Enak, Mbak. Mau lagi, boleh?" tanya Rehan mengiba.
"Sedikit aja, ya!" Kusodorkan cokelat batangan itu pada Rehan. Dia berhak mengambil cokelat yang ia mau sebenarnya, ucapanku hanya basa-basi.
"Terima kasih, Mbak. Aku mau ke masjid dulu!"
Seperginya Rehan dari hadapanku, aku masih terdiam di tempat yang sama. Memandang cokelat batang yang sudah tersisa setengahnya, sangat manis. Cokelat seperti ini lumayan mahal, aku pernah mengintip harganya ketika Bapak mengajakku di toko serba ada. Dari mana Alwi mendapatkan uang untuk membelinya? Ah, bukan urusanku. Lagipula dia anak orang yang berada, bisa jadi ia meminta uang kepada mama atau papanya.
"Nduk, kenapa nggak makan?" Kudengar suara Bapak dari arah dapur.
"Sudah, kok, Pak. Itu bagian Bapak," jawabku.
"Rehan juga udah?" Suara Bapak terasa sangat dekat. Dia berada di ambang pintu kamarku.
"Udah, Pak. Tadi bareng aku. Bapak buruan makan, Nanti sayurnya keburu basi," ucapku.
Jangan heran, lauk dari pagi memang biasa dimakan hingga sore atau malam. Untuk saat ini, bisa makan saja sudah sangat bersyukur.
"Iya, Nduk. Rehan mana? Bapak bawa martabak pesanannya. Bapak taruh di meja dapur."
"Ya Allah, bocah itu ada aja yang diminta. Jangan dituruti terus, Pak. Nanti dia keterusan."
"Kebetulan ada rejeki, Nduk. Sebulan sekali juga belum tentu Bapak bisa ngasih. Dimakan, ya."
"Iya, Pak. Terima kasih. Bapak mau cokelat?"
"Udah, Nduk. Kamu beli sendiri?"
__ADS_1
"Dikasih teman."
"Ya udah, Bapak ke dapur dulu."