
Aku yang masih belum sadar hanya menatap Alwi dan Nindi yang tak henti-hentinya tertawa. Benar-benar terasa linglung, menurutku tidur selain di malam hari hanya membuat tubuh lemas ketika bangun. Kembali kuletakkan kepalaku di atas meja, namun seketika Alwi mengangkat daguku agar tidak kembali limbung. Ah, menyebalkan! apalagi ketika tawanya kembali terdengar. Tidak tahu jika sedang malas, apa?
"Eh, kamu beneran ngantuk, Dev?" Kugaruk kepalaku dengan mata masih setengah terpejam, jarang sekali aku mengantuk seperti ini.
"Minum dulu, deh!" Nindi menyodorkan es kelapa muda yang tampak segar, namun tidak juga membuatku tertarik untuk mencobanya.
"Tumben nggak mau. Serius nggak mau?" tanya Alwi yang keheranan, aku menggeleng.
"Kena jin pojok kelas kali," celetuk Alwi yang disambut cubitan dari Nindi. Mungkin Nindi tidak terima jika sahabat paling cantiknya dikatakan hal yang tidak-tidak.
"Kalian habis beli apa?" tanyaku sambil mengerjapkan mata.
"Beli rujak cingur, nih! Kamu udah sadar?"
"Udah. Dikira aku habis kesambet, apa?" jawabku tidak terima.
"Si Alwi, nih. Asal ngomong, aja!" sergah Nindi.
"Eh, aku nggak bilang gitu," elak Alwi.
"Udah, jangan berantem terus. Kalian mau langsung pulang?" tanyaku lagi.
"Belum. Mau langsung pulang, Dev?"
"Aku mau ke tempatnya Mas Ovi, ada titipan dari Bapak," jelasku.
Aku memperhatikan Nindi yang berada di meja lain. Dia baru saja membuka makanan yang dia beli bersama Alwi tadi. Aroma rujak cingur mulai membuat perutku bereaksi. Awas saja jika aku tidak mendapat bagian.
"Kalian tadi beli berapa?" tanyaku sedikit memberikan kode.
"Iya, iya, ini aku beli juga buat kamu. Tanpa kamu suruh pun kita sudah peka. Rujak cingur spesial untuk Devi." Alwi meletakkan sebungkus rujak cingur di hadapanku, benar-benar aromanya sangat menggoda.
"Makasih, nggak sia-sia aku nungguin kalian sampai ketiduran." Aku tertawa.
"Sekalian makan di sini, lho, Dev," saran Nindi kepadaku.
"Em, kalian sebenarnya mau berduaan, kan? Aku mau duluan aja, mau ke Mas Ovi dulu, sih."
__ADS_1
"Oh, oke kalau begitu."
***
Tidak ada yang namanya pulang pagi bagiku. Nyatanya jam di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul sebelas, hanya satu jam lebih awal dari jadwal pulang biasanya. Sesuai permintaan Bapak, saat ini aku tiba di depan toko milik Mas Ovi.
Aku yang sering memilih menggunakan perasaan merasa aneh begitu berada di toko yang depannya berisi display berbagai akuarium. Pikirku, ya, bisa jadi dia juga menjual ikan, kan? Aku turun dari motor dan asal masuk, bahkan dengan tanpa merasa sungkan melewati beberapa mas-mas pegawai toko yang sedang menata barang-barang pajangan.
"Mas Ovi," ucapku sambil celingukan di dekat kasir toko.
"Nyari siapa, Dek?" Salah satu pegawai tadi menghampiriku. Aku sedikit takut karena tatapannya seperti lelaki yang suka usil menggoda perempuan di jalan.
"Dek, nggak, tuh?" celetuk teman yang satunya meledek. Masa iya Mas Ovi memperkerjakan orang-orang seperti ini.
"Eh, malah bengong. Nyari siapa?" tanyanya lagi.
"Mas Ovi." Aduh, sepertinya ada yang tidak beres. Lelaki tadi menahan tawa kemudian berdehem.
"Kamu ... salah tempat, Dek!" lirihnya yang sukses membuatku malu.
"Lho, kenapa, kok, pulang, Dek?" tanya seorang pegawai yang sedari tadi berada di luar.
"Salah tempat, Mas." Aku tahu dia sedang menahan tawa, tapi tahu tapi pura-pura tak peduli dan segera melajukan motor pelan.
"Mau nyari ******?" tanya Mas Ovi dengan tertawa.
"Nyari cowok," jawabku kesal.
"Kenapa bisa ke situ?" Mas Ovi menghampiriku kemudian puncak kepalaku menjadi sasarannya. Aku mendongak, seperti berdiri di dekat raksasa. Mungkin aku yang terlalu imut saat ini.
"Kenapa lihatin terus, aku ganteng, ya?" Aku memberikan reaksi seolah ingin muntah. Kubuang pandang ke jalan karena sebenarnya salah tingkah.
"Em, eh, Mas Ovi. Aku bawain rujak cingur, nih. Belum makan siang kan?" Kuambil kantong plastik yang diberikan oleh Alwi dan Nindi tadi.
"Baik banget, Dev. Ayo masuk kalau gitu." Mas Ovi mengulurkan tangannya, aku menerima bahkan menggelayut manja di tangannya yang menurutku begitu besar itu.
"Eh, kamu nggak salah makan, kan, Dev?" tanya Mas Ovi yang sepertinya kaget dengan respon dariku.
__ADS_1
"Nggak, dong, Mas Ovi sayang. Ya udah, ayo ke toko!" Aku semakin mengeratkan tangan di lengan Mas Ovi, dia sempat kembali mengacak rambutku tampak gemas.
Begitu tiba di dalam toko segera kulepas tangan Mas Ovi. Kali ini dia tidak kalah kaget dengan yang tadi. Mungkin heran dengan sikapku yang berubah-ubah.
"Kenapa, Dev? Kamu sudah sadar?" tanya Mas Ovi.
"Maaf, ya, Mas. Tadi itu ada Syiham di seberang jalan. Dia ternyata buntutin aku," ucapkku dengan merasa bersalah.
"Kenapa emangnya dia?"
"Dia itu berusaha deketin aku, seperti yang dibilang Alwi kemarin. Tapi aku nggak yakin dia beneran suka aku, bahkan tadi pagi aku dilabrak ceweknya. Dia itu katanya mau berhenti ganggu aku ketika sudah tahu kalau aku ada pacar. Tadi pagi asal celetuk aja bilang kalau aku punya pacar yaitu Mas Ovi." Mas Ovi tampak tersenyum mendengar penjelasanku.
"Terus?" tanya Mas Ovi.
"Ya karena dia masih kurang percaya, aku bilang suruh ikutin aku ke toko Mas Ovi. Ternyata dia nekat ngikutin aku, makanya tadi aku pura-pura mesra sama Mas Ovi."
"Oh, gitu." Aku takut Mas Ovi marah.
"Maaf, ya, Mas."
"Iya. Kenapa harus pura-pura, sih, Dev? Kalau beneran nggak mau?" goda Mas Ovi.
"Aku belum mau pacaran, Mas. Bapak juga nggak bakal ngebolehin."
"Oh, bagus, dong. Langsung nikah aja nanti kalau udah gede."
"Terlalu jauh kalau bahas nikah, Mas."
"Aku kan bilang kalau udah gede, Devi!" Mas Ovi menjitak kelapaku aku hanya meringis kemudian memilih mengamati isi toko Mas Ovi.
Toko Mas Ovi ternyata lumayan luas. Di dalamnya terdapat beberapa tak yang berisi berbagai keperluan atau makanan untuk hewan ternak. Selain menjual pakan unggas dan ternak, ternyata ada juga makanan untuk kucing.
"Mau lihat-lihat? Lihat aja, Dev!" ucap Mas Ovi dan aku hanya menggeleng.
Aku kemudian menjelaskan tujuanku datang ke tokonya. Mas Ovi kemudian mengambil beberapa barang yang dipesan Bapak. Beberapa karung yang berukuran tidak terlalu telah Mas Ovi siapkan. Kenapa bisa banyak sekali? Apakah Bapak sengaja ingin mengerjaiku?
"Serius Bapak pesan tiga karung?" Mas Ovi mengangguk. Bagaimana cara membawanya pulang nanti?
__ADS_1