
"Dev, sebentar lagi kita udah kelas sembilan. Habis ini kamu mau lanjut ke mana?" tanya Nindi mengawali pembicaraan pagi itu.
"Belum tahu, Nin. Kamu mau ke mana?"
"Aku rencananya mau ke SMA 1 bareng Alwi," jawab Nindi dengan tersenyum.
"Aku sebenarnya juga pengen ke sana, Nin. Tapi Bapak bilang kalau aku disuruh masuk pesantren aja," jelasku pelan.
"Serius? Kenapa aku yang nggak yakin, ya." Nindi justru tertawa.
"Jangankan kamu, aku aja nggak yakin," sergahku.
"Kita nggak bisa ketemu terus, dong, kalau kamu ke pondok."
"Kalau liburan, aku pasti ke rumahmu, Nin." Aku mencoba menghibur.
"Naik sepeda? Jauh, jangan, Dev!"
"Aku bisa naik motor sebenarnya, yang belum ada itu motornya. Semoga saja Bapak ada rizki biar bisa beli motor."
"Beneran, ya? Kamu wajib main ke rumahku!"
Aku mengeluarkan buku tulis matematika. Semalam PR yang kukerjakan belum selesai. Bukannya belum selesai, lebih tepatnya aku tidak bisa mengerjakan.
"Belum selesai, Dev?" tanya Nindi.
"Belum, masih bingung."
Nindi mengambil pensilnya. Ia mulai menerangkan materi yang diajarkan guru pada pertemuan yang lalu. Begini yang kusukai dari Nindi, dia mengajariku dengan sabar dan mudah dipahami.
"Bagaimana? Kamu masih bingung?" Aku menggeleng. Nindi tampak puas, dia memintaku untuk mencoba mengerjakan sendiri.
Nindi banyak membantuku untuk memahami pelajaran. Aku tidak bisa membayangkan jika nantinya akan berpisah di masa SMA. Sangat langka orang seperti Nindi yang mau berteman tanpa pilih-pilih, yang mau menolong tanpa ada rasa pamrih.
"Nanti siang Alwi ngajak ke toko buku, kamu mau nitip?" tawar Nindi kepadaku.
Semenjak berpacaran dengan Nindi, Alwi sudah tidak lagi bersepeda untuk ke sekolah. Tepatnya sejak seminggu yang lalu, Alwi membawa sepeda motor yang kemudian di titipkan di penitipan yang berada sekitar 100 meter dari sekolah. Akibatnya, sudah tidak ada lagi teman saat perjalanan menuju atau pulang dari sekolah.
"Nggak titip, deh, kayaknya," balasku.
"Kemarin aku sama Alwi ke perpustakaan daerah mau pinjam buku buat pelajaran IPA tapi nggak ada. Eh, dia hari ini mau ngajak cari di toko buku," terang Nindi.
Kisah percintaan keduanya lucu menurutku. Mereka memanfaatkan waktu untuk kegiatan yang positif, tidak seperti orang pacaran pada umumnya. Meskipun kelihatannya sangat menarik, aku sudah bertekad untuk tidak berpacaran. Aku masih ingat nasihat Bapak.
"Dia mau beliin buat kamu?" tanyaku.
"Nggak, dong! Aku sudah larang dia beli-beli buat aku. Dia masih minta uang ke orang tua. Jadi kalau pengen apa-apa kami harus siap uang masing-masing."
"Wah, bagus, dong!" Nindi tersenyum.
__ADS_1
"Assalamualaikum."
Yang sedang menjadi bahan perbincangan ternyata datang. Alwi sempat mencubit lenganku, dia tertawa puas begitu aku meringis kesakitan. Alwi kemudian beralih menjahili Nindi tapi dengan perlakuan yang beda. Lelaki itu mengacak-acak rambut kekasihnya dengan lembut. Nindi kemudian protes dengan nada manja, khas orang sedang jatuh cinta.
"Jangan cemberut, Dev!" seloroh Alwi kepadaku.
"Jangan cemberut gundulmu! Kalau sakit kayak gini siapa yang terima?" Aku berbalik menyerang lengan Alwi, seketika dia berteriak.
"Lemah, kayak gitu aja sakit!" ejekku.
"Nindi, sahabatmu, nih! Jahat banget jadi orang?" Alwi mengadu pada Nindi.
"Cowok, kok lembek!"ya
"Udah, udah, jangan berantem!" Nindi mencoba meleraiku dan Alwi.
"Orang kayak Alwi emang perlu dikasih pelajaran!"
"Daripada ngoceh mulu, ini buat kamu!" Alwi mengeluarkan snack box dari tasnya.
"Buat aku?" tanyaku tak percaya.
"Iya, itu buat kamu."
"Dalam rangka apa?" Aku membuka kotak itu sekilas. Di sana ada berbagai macam kue basah yang terlihat begitu lezat.
"Pasti cuma modus, kan?" tuduhku yang sudah curiga.
"Nggak, beneran itu buat kamu."
"Terus Nindi nggak kamu kasih?" protesku.
"Oh, jangan salah. Ini buat kamu." Alwi memberikan kotak yang lebih besar dari tasnya untuk Nindi. Tasnya seperti kantong Doraemon saja, muat banyak benda.
"Makasih, Al," ucapku seraya mencomot nugget pisang.
"Sama-sama. Gimana kabar Zaki?" tiba-tiba Alwi menanyakan manusia satu itu.
"Aku udah nggak ada apa-apa lagi sama dia, SMS-an juga nggak," jawabku jujur.
"Beberapa hari yang lalu Zaki nitip cokelat ke Zahra anak kelas tujuh buat diberi ke kamu. Tapi, si Zahra nitipin ke aku. Karena aku adalah orang yang pertama kali menolak terjadinya hubungan antara kamu dan Zaki, maka bentuk-bentuk usaha pendekatannya aku gagalkan," jelas Alwi.
"Terus cokelatnya mana?" pintaku pada Alwi.
"Aku kasih ke Nindi kemarin," jawab Alwi begitu enteng tanpa merasa bersalah.
"Lho, itu punya Devi? Kenapa kamu kasih ke aku?" Sukurin! Pasti Nindi kecewa mendengar itu.
"Nggak papa. Kan, udah aku ganti cokelatnya pakai jajanan tadi."
__ADS_1
"Lho, ini gantinya, Al?" Alwi mengangguk.
"Kurang banyak ini!"
"Jangan banyak-banyak, secukupnya aja." Itu alasan Alwi saja.
"Devi ... Devi ...." Aku dan beberapa siswa lainnya kompak mencari sumber suara. Tidak lama kemudian, dari arah pintu datang Dila dan Oliv.
"Ada apa?" tanyaku. Tumben mereka mencariku pagi-pagi.
"Ada titipan buat kamu." Oliv menyodorkan tas kertas kecil yang tidak kuketahui isinya.
"Dari siapa?"
"Aku lupa namanya, siapa, Dil?"
"Zaki kalau nggak salah," jawab Dila yang sepertinya ragu.
"Zaki? Mana!" Alwi menyerobot benda di tangan Oliv itu secepat kilat. Dia kemudian mengeluarkan isi di dalamnya.
"Ternyata belum kapok juga." Alwi menata kota bekal berisi nasi goreng di atas meja. Selain itu ada juga susu siap minum dan beberapa buah potongan.
"Namanya juga usah, Al," celetuk Dila.
"Mau usaha sekeras apapun, aku nggak bakal kasih izin Devi pacaran sama Zaki!" tegas Alwi.
"Kenapa gitu?" tanya Oliv.
"Zaki itu anak nakal. Pacarnya nggak cuma satu. Sementara Devi terlalu polos, aku tidak sanggup jika akhirnya dia nanti patah hati," terang Alwi.
"Terus kalau misalkan Tuhan bilang mereka berjodoh bagaimana?"
"Selagi belum melengkung janur kuning, aku akan terus berusaha memisahkan mereka."
"Lho, kok malah kamu yang makan, sih?" protesku ketika Alwi menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya.
"Cuma icip aja, kok!"
"Itu harusnya buat aku, Al. Jangan dihabiskan, Al! Eh, Oliv, Dila, makasih ya!"
Terdapat juga selembar surat yang mungkin sengaja ditinggalkan untukku. Kali ini Alwi tidak penasaran, dia langsung menyerahkannya untukku.
"Buruan dibaca!" Alwi mulai penasaran sepertinya.
Teruntuk Devi yang paling kusayang
Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa agar kamu bisa mengerti jika aku suka kamu. Belum lagi SMS yang kirim tidak pernah kamu balas. Jadi, bagaimana Dev? Aku berharap kamu segera memberikan jawaban bahwa kamu mau menjadi pacarku
Zaki
__ADS_1