Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Nindi Marah


__ADS_3

Sudah tidak terlalu pagi, aku dan Alwi berangkat pukul setengah tujuh. Alwi menjalankan motor dengan kecepatan yang tidak seberapa, tapi tetap lebih laju jika dibandingkan aku yang menyetirnya. Aku sedikit was-was, sedari tadi kuperhatikan jalanan, barangkali ada teman sekelas yang nantinya akan memergokiku berboncengan dengan Alwi.


"Dev, ada ayam!" teriak Alwi.


Tubuhku terhuyung ke samping kanan hingga menempel pada punggung Alwi. Spontan aku menepuk bahu kiri lelaki itu dengan keras hingga ia mengaduh. Untung saja tadi aku memilih duduk posisi menyamping, begini saja aku sudah merasa deg-degan.


"Pelan aja, Al. Jangan rem mendadak juga!" protesku sembari menggeser tubuh hingga berada di ujung jok.


"Makanya pegangan, Dev. Ini aku udah pelan banget jalannya. Kebetulan aja tadi tiba-tiba ada ayam lewat," cerocos Alwi tak mau sepenuh kusalahkan.


Aku memilih diam, toh kalau terus menyangkal pasti Alwi juga akan mencari-cari alasan lain. Rut yang dilewati memang terdapat bentangan jalan persawahan yang kondisi jalannya sedikit bergelombang dan terdapat beberapa lubang. Wah, aku harus lebih berhati-hati.


"Pegangan, Dev! Jalannya jelek, nih. Banyak kubangan!"


Tangan kiriku berpegang pada bagian belakang motor, kurasa itu tidak akan membuatku jatuh nantinya. Aku yakin benar-benar aman, di antara aku dan Alwi ada sedikit celah jok yang kosong. Lumayan bisa digunakan sebagai tumpuan tangan kananku.


"Al, agak cepetan dikit. Malu kalau ada teman yang lihat," ucapku begitu lolos dari jalanan yang rusak.


"Tadi katanya minta pelan, sekarang suruh cepet. Kamu aja yang nyetir gimana?" Wah, si Alwi suka marah-marah.


"Emangnya kamu mau kalau ada teman yang lihat kita boncengan?"


"Emangnya kenapa? Ada yang salah? Kita nggak ngapa-ngapain juga." Skakmat, benar juga yang dibilang Alwi. Kenapa aku harus takut? Takut ketahuan Nindi? Gadis itu pasti bisa memaklumi keadaan Alwi.


Sialnya begitu tiba di parkiran, kondisi tempat itu tak lagi sepi. Banyak siswa yang tengah menitipkan sepedanya. Beberapa pasang mata sempat menyorot kedatanganku dan Alwi, aku sungguh malu.


"Kalian tadi berangkat bareng, ya?" Risa menghampiriku, aku menanggapinya dengan tatapan tidak suka. Takut saja jika nanti dia bilang yang tidak-tidak kepada teman-teman.


"Kalian siapa? Jelas-jelas di sini aku sendiri," ucapku begitu sinis karena memang hanya ada aku sendiri, Alwi masih memarkirkan motor di bagian dalam.


"Maksudnya kamu sama Alwi."


"Iya, tadi motor Alwi dipakai papanya, kebetulan tadi aku ketemu dia lagi jalan kaki sendirian. Karena aku kasihan, kita akhirnya berangkat bareng," jelasku dengan sedikit manipulasi.


"Oh, pasti kamu cari kesempatan, kan? Bilang aja sok mau jadi pahlawan buat Alwi." Hmmm, aku jijik dengan Risa saat ini. Kenapa pemikirannya bisa seperti itu.

__ADS_1


"Nggak, lah! Alwi temanku. Salah kalau aku bantu dia?" tanyaku sedikit membentak.


"Slow aja, Dev. Kenapa ngegas gitu? Oh, aku tahu, tega banget mau rebut pacar sahabatnya." Risa melipat kedua tangannya di dada seraya tersenyum sinis. Memang cocok menjadi pemeran antagonis.


"Ada apa, nih? Kok, kayak lagi seru!" Alwi menghampiri aku dan Risa. Seru gundulmu! Risa berdeham sambil bergantian melirik ke arahku dan Alwi.


"Ayo, Al. Nggak usah ditanggapin." Kutarik tangan Alwi agar tidak meladeni gadis yang suka mengurusi hidup orang tersebut.


Aku masih terus menggandeng tangan Alwi hingga jarak tiba di sekolah tinggal sekitar 500 meter. Berbagai pertanyaan yang ia lontarkan sengaja tidak kujawab. Alwi akhirnya berhasil meloloskan tangannya, sejenak aku mematung memerhatikan ia yang terlebih dahulu berhenti di belakangku.


"Ada apa sebenarnya?" ucap Alwi dengan ekspresi penuh tanda tanya.


"Si Risa biang rese. Dia tadi ngatain aku," jawabku.


"Ngatain apa?"


"Bilang kalau aku sok jadi pahlawan buat kamu. Ambil kesempatan lah biar bisa berduaan. Katanya aku mau rebut kamu dari Nindi," cerocosku menggebu-gebu.


"Ehh, gitu."


"Ya, emang kenyataannya kita nggak ngapa-ngapain, kan? Cuma bareng aja. Kenapa takut?"


"Hmm, ya udah, deh. Ah, lupain aja. Aku mau duluan!" Aku berjalan mendahului Alwi dengan langkah yang cepat. Tidak dipedulikan teriakannya, mungkin aku yang terlalu panik.


***


Bel masuk setelah waktu istirahat telah berbunyi. Aku segera kembali dari perpustakaan setelah mengembalikan buku yang kupinjam. Nindi tidak bersamaku, waktu istirahat tadi dia sedang bersama Alwi. Jelas tidak mungkin jika aku menggangu keduanya.


"Yah, capek banget habis istirahat waktunya bahasa Inggris," keluhku sambil duduk di bangku. Tumben Nindi tidak menanggapiku.


"Ghina, bangku sampingmu kosong, kan?" teriak Nindi.


"Kosong."


"Aku duduk ke situ, ya." Nindi membawa seluruh barangnya ke bangku yang berada di urutan paling belakang itu. Aneh, kenapa tiba-tiba Nindi mendiamkanku.

__ADS_1


Aku melirik ke arah Alwi, dia juga tampak tak bersemangat. Sempat aku melihatnya mengucapkan kata 'semangat' kepadaku. Tidak ada suara, namun aku bisa mengetahui dari gerak bibirnya. Hmmm, pasti ini ada kaitannya dengan kejadian tadi pagi.


"Kompor, ya!" Tudingku pada Risa yang memang bangkunya berada di sampingku.


"Kelihatannya gimana? Seru, nih. Bakal ada perang dunia."


"Kamu bilang apa ke Nindi?"


"Makanya kalau istirahat jangan keluar kelas. Tadi ada pertengkaran seru banget. Ah, udahlah mau ke kamar mandi dulu." Risa malah berlalu dariku.


"Tadi ada apa, Dil?" tanyaku pada Dila.


"Tadi apa, Dev?"


"Em, tentang Nindi," ucapku sedikit kikuk.


"Oh, itu. Biasa orang pacaran, mereka berantem. Tapi dengar-dengar katanya kamu penyebabnya."


"Si Risa yang bilang?" Dila mengangguk. Dadaku bergemuruh, sakit hati sekali aku difitnah seperti ini. Kurasa ini bukan masalah yang terlalu runyam, aku bisa menjelaskannya pada Nindi nanti.


Tak lama berselang akhirnya Bu Intan datang. Setelah mengucapkan salam dan memeriksa kehadiran siswa, Bu Intan langsung meminta kami untuk menukarkan tugas sebelumnya dengan siswa lain.


"Siapa yang mau mencoba membaca teks dan menjawab soalnya? Ibu kasih nilai keaktifan," ucap Bu Intan seperti biasanya ketika ada tugas.


"Saya, Bu!" Nindi mengangkat tangannya antusias. Aku menatap sahabatku itu, bisa-bisanya dia termakan ucapan si kompor Risa.


Aku sempat menyunggingkan senyum ketika aku dan Nindi beradu tatap. Akan tetapi, rasanya sesak sekali begitu tahu dia membuang pandang dan tampak berdecak. Aku tahu dia sedang membenciku, dan ternyata seperti ini sakitnya dibenci sahabat sendiri.


Pelajaran tetap berjalan meskipun perasaanku tidak karuan. Jelas saja, itu masalah pribadiku, siapa yang peduli? Aku merasa tidak nyaman jika terus begini. Hari ini juga permasalahan ini akan aku selesaikan.


"Nah, bagus. Jadi jawaban nomor satu adalah C!" tegas Bu Intan setelah Nindi membacakannya.


"Selanjutnya siapa, Nin. Ibu minta kamu yang tunjuk."


"Devi, Bu!" kapok!

__ADS_1


__ADS_2