Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Insomnia


__ADS_3

"Pak Herman kenapa harus repot-repot ke sini? Saya juga bisa sebenarnya kalau cuma jemput Devi," ucap Bapak memecah keheningan yang terjadi beberapa saat setelah obrolan seru berakhir.


Ya, Bapak dan kedua orang tua Alwi baru saja membahas masa depanku dan Alwi. Bukan masa depan yang itu, maksudku masa depan untuk artian sekolah setelah lulus SMP. Ternyata Bapak masih bersikukuh untuk menyekolahkan aku ke pesantren.


Mungkin Alwi atau keluarganya merasakan kesedihanku tentang rencana ke Bapak tersebut. Pak Herman bahkan berusaha membujuk Bapak agar Bapak mau menyekolahkan aku bersama Alwi di SMA yang sama. Akan tetapi, keputusan Bapak sudah bulat. Bapak bilang bahwa beliau sudah bertanya-tanya kepada salah satu temannya yang sudah berhasil memasuk anaknya ke pesantren. Ya, setelah Bapak menceritakan hal itu, semua saling diam.


"Tidak apa-apa, Pak. Saya juga mau sekalian ngantar anak istri buat belanja. Bapak nggak perlu merasa sungkan," jawab Pak Herman.


"Terima kasih kalau begitu."


"Katanya lagi bisnis jualan ayam kampung, ya, Pak?" tanya Pak Herman lagi.


"Iya, Pak. Kalau ada yang pesan saya carikan. Kalau ada yang jual, saya beli juga. Dari pada menganggur, Pak." Bapak tersenyum.


Bapak dan Pak Herman masih melanjutkan percakapan, Bu Salma sesekali menimpali. Aku menarik Alwi untuk pergi ke dapur. Kuminta ia untuk membantu menyiapkan makanan seadanya.


"Ada apa, Dev? Nggak bilang apa-apa langsung main tarik aja!" keluh Alwi sembari melepaskan tangannya dari cengkramanku.


"Bantu aku siapin makanan. Tapi aku cuma ada mie instan sama tempe, sih." Aku tersenyum.


"Nggak usah repot-repot, Dev. Bukannya tadi Mama udah bawa makanan dari rumah?" Aku meringis, hampir saja aku melupakan itu.


"Eh, tapi masa iya makanan dari tamu dikasih lagi ke tamunya?" Aku tertawa.


"Ya, nggak papa, Dev."


"Ya udah, itu aku suguhin lagi, tapi nanti aku tambah tempe goreng sama mie kalau gitu."


Aku kemudian mengambil panci dan mengisinya dengan air. Kupersiapkan air tersebut untuk merebus empat bungkus mie instan yang untungnya sudah tersedia. Alwi malah mengekorku, aku sadar dan aku merasa risih.


"Kenapa ngikutin terus?" tanyaku.


"Aku bingung mau ngapain," jawabnya.


"Bisa bikin mie instan?" Alwi mengangguk.

__ADS_1


"Kamu bikin mie, aku siapin tempe gorengnya."


Tak butuh waktu lama, dua makanan itu siap untuk disajikan. Kuminta Alwi untuk menaruhnya di bagian depan pada tikar yang sudah kugelar. Untung saja temanku itu tidak banyak mengoceh ketika kusuruh terus menerus.


"Dev, sambalnya jangan lupa," pesan Alwi sebelum meninggalkanku menuju ruang tamu. Oh, ide yang bagus.


Setelah beberapa saat, sambal yang diminta Alwi sudah jadi. Makanan pelengkap dengan dominan rasa pedas itu kubawa untuk menyusul teman-temannya. Alwi yang setia menjadi asistenku membawa teko dan beberapa gelas dalam sebuah nampan.


"Pak, Bu, ayo makan dulu. Seadanya saja, ya. Itu tadi malah makanan yang kalian bawa disuguhkan lagi," ucap Bapak mempersilahkan.


Bu Salma dan Pak Herman tampak saling menyenggol. Aku paham hal seperti itu. Maklum, kebiasaan masyarakat di desaku jika ada tamu, tidak jarang tuan rumah selalu menawarkan untuk makan. Kejadian yang dilakukan Pak Herman dan Bu Salma wajar terjadi jika tamu sudah dalam kondisi kenyang namun merasa sungkan karena sang pemilik rumah sudah menyiapkan makanan.


"makan sedikit saja nggak papa, Pak, Bu. Sebagai syarat saja," imbuh Bapak lagi.


"Ayo makan, Al!" Kutarik Alwi untuk duduk di tikar, dia menjadi sosok yang penurut sedari tadi.


"Mau makan seberapa?" tanyaku seraya menaruh secentong nasi di piring.


"Itu buat aku?" tanya Alwi.


"Udah, itu cukup!"


"Mau lauk apa? Opor ayam?" tawarku lagi.


"Pakai mie goreng tadi aja sama sambal, tempe goreng jangan lupa."


"Pak, Bu, mari makan! Ini Alwi sudah makan, lho," ucapku berusaha membujuk kedua orang tua Alwi.


"Bapak juga ikut makan. Rehan mana?" Ah, sifat rempongku akhirnya muncul.


"Rehan masih di masjid, sebentar lagi pasti pulang. Nanti saja, Nduk!"


"Ayo, Ma!" Pak Herman beranjak dari duduknya dan menghampiri aku dan Alwi. Bapak juga melakukan hal yang sama.


"Wah, sambal buatan Mbak Devi, nih?" Pak Herman langsung fokus ke sambalku.

__ADS_1


"Ayo, Ma. Sambal yang kayak tadi, lho. Mama nggak tertarik?" Bu Salma akhirnya bergabung juga.


Kukira makanan tadi tidak akan habis. Syukurlah jika tidak ada yang tersisa. Rehan juga sudah makan, dia pulang sesaat setelah orang-orang di ruang tamu mulai makan.


Pukul sembilan malam Pak Herman akhirnya berpamitan. Sepertinya rencana untuk berbelanja tadi gagal. Alwi dan Bu Salma juga tampak tidak keberatan ketika Pak Herman mengajak mereka langsung pulang saja.


Setelah Pak Herman dan keluarganya pulang, aku menyimpan piring-piring dan peralatan yang digunakan untuk makan tadi. Bapak dan Rehan juga membantuku, mereka membersihkan sampah dan melipat tikar yang menjadi alas ketika makan tadi.


"Dicuci besok saja, Nduk. Sekarang waktunya istirahat," ucap Bapak mengagetkanku. Ya, sebelumnya aku sendirian di dapur.


"Ya, Pak. Aku juga mau tidur, capek banget rasanya."


Bapak meninggalkanku lagi. Setelah dari dapur aku kembali ke ruang tamu. Sekarang kondisinya sudah lumayan bersih. Rehan pun sudah masuk ke kamarnya, adikku itu pasti sudah sangat mengantuk.


"Minta tolong pintunya dikunci, Nduk."


Aku melakukan perintah dari Bapak. Setelah memastikan semuanya terkunci, aku segera masuk ke kamarku. Hmmm, aku ingin segera tidur.


Baru juga berbaring sebentar, rasa kantukku tiba-tiba menghilang. Aku ingin segera tidur saja, tapi rasanya mataku enggan untuk terpejam. Apalagi sekarang kondisi perutku benar-benar begah. Ah, siapa suruh sudah kenyang masih saja makan?


Aku mencoba untuk duduk dan meraih buku tulisku. Aku ingin membaca cerita-cerita yang sudah kukarang di benda tersebut. Terkadang aku rindu dengan diriku yang dulu, akubyang selalu bisa menyempatkan waktu untuk menulis. Untuk saat ini aku seolah-olah berhenti dari hobiku itu, ya, aku pemalas.


"Aku ternyata hebat, ya. Aku bisa nulis cerita seperti itu rupanya," gumamku setelah membaca satu cerita. Kalau saja tidak kutulis, mungkin aku sudah lupa jika aku bisa membuat cerita yang menurutku sendiri sangat menarik.


"Aduh, udah mau jam sebelas aja. Kenapa belum ngantuk, sih!" gerutuku pada diri sendiri.


"Katanya kalau membaca bikin ngantuk, ini kenapa nggak, ya?"


Tulisan di buku itu justru membuatku semakin tertarik untuk membacanya. Bahkan, rasa mengantuk sedikit saja tidak ada yang mampir. Oh, mungkin aku salah baca buku.


Kutaruh buku itu dan segera mengambil asal buku pelajaran. Eh, kenapa pas sekali buku IPA?


Aku meregangkan otot untuk mempersiapkan diri sebelum membaca. Bagus, belum juga bukunya kubuka, aku sudah menguap duluan. Masih menjadi pertanyaanku dari dulu, kenapa buku pelajaran seolah menina-bobokkan?


Rasa kantukku akhirnya tiba. Aku paling anti ketiduran. Meskipun mengantuk, aku masih sadar untuk mematikan lampu dan merapikan tempat tidur. Hingga hampir dini hari aku terjaga, setelah semua beres aku merebahkan badan dan berdoa.

__ADS_1


__ADS_2