Mimpi Untuk Devi

Mimpi Untuk Devi
Ke Acara Akikahan


__ADS_3

Aku melihat motor yang biasa digunakan Bapak untuk mengambil atau berjualan ayam sudah terparkir di halaman rumah. Sekarang masih siang, aku baru pulang dari sekolah dan sepertinya Bapak justru akan pergi. Bapak memang selalu bersemangat dalam bisnis jual beli ayam kampungnya. Aku justru sebaliknya, kasihan jika melihat Bapak terus menerus bekerja hanya demi aku dan Rehan. Bapak juga butuh istirahat.


"Bapak mau pergi?" tanyaku sesaat setelah memarkirkan motor dan menghampiri Bapak.


"Iya, tadi pas di pasar ketemu ibu-ibu di desa sebelah. Dia katanya mau jual ayam juga, Bapak mau lihat dulu sekarang. Kebetulan besok ada juga pesanan ayam," jelas Bapak sambil menata potongan tali rafia yang digunakan untuk mengikat kaki ayam nantinya.


"Mau dibuatin kopi, Pak?" tawarku.


"Bapak sudah bikin, nih." Bapak menggeser kopi yang ternyata berada di belakangnya.


"Kamu mending istirahat dulu, capek habis sekolah. Itu tadi ada jamu di meja buat kamu sama Rehan."


Hmm, kalah cepat sama Bapak. Niatku ingin membuatkan kopi untuknya, malah Bapak yang membuatkan untukku. Kalau begini terus, tentunya aku merasa bersalah karena sebenarnya hal semacam itu tugas perempuan.


"Bapak bikin jamu lagi? Banyak? Temanku banyak yang tanya juga sebenarnya," ucapku cukup heboh.


"Bapak cuma bikin sedikit, buat kamu sama Rehan. Kalau memang teman kamu mau, coba besok kamu tanya siapa aja yang pesan. Nanti Bapak sempatkan untuk membuat."


Sebenarnya ketika Bapak membuat jamu tersebut laku-laku saja. Bukan masalah tidak ada yang beli, hanya saja Bapak untuk saat ini lebih fokus mengurus usaha barunya. Beberapa teman dan tetangga juga ada yang menanyakan, tapi bilang sedang libur jualan. Alasannya karena aku kasihan dengan Bapak.


"Nanti Bapak kecapekan," timpalku.


"Nggak, kok. Itu juga nggak susah bikinnya. Kalau memang ada yang mau pesan, pasti Bapak buat."


"Iya, deh, Pak. Devi ganti baju dulu. Bapak mau langsung berangkat?" tanyaku.


"Sebentar lagi, ngabisin kopi dulu."


"Oh, ya udah, deh."


"Untuk nanti sore nggak usah masak, Nduk. Itu tadi ada yang ngasih nasi," ucap Bapak kepadaku.


"Siapa, Pak?"

__ADS_1


"Istrinya Gilang, anaknya Pak Harun itu, lho. Dia sudah melahirkan dan hari ini acara akikahannya."


Sudah menjadi tradisi di desaku jika ada yang memiliki hajat selalu memberikan nasi kepada para sanak saudara dan tetangga. Pak Harun masih saudara jauh Bapak, jadi kami mendapatkan rizki hari ini. Hmm, pasti makanan yang diberikan enak-enak, setahuku Pak Harun adalah keluarga kaya raya yang dermawan.


"Oke, Pak!"


"Nanti sore kamu ke sana, ya? Hitung-hitung tilik bayi, gantinya ibumu."


Ya, setelah kepergian Ibu, setiap kali ada tetangga yang memiliki acara, akulah yang menjadi gantinya. Acara menikah, khitanan, bahkan kenduri, jika yang memiliki hajat masih saudara atau tetangga, biasanya aku ikut membantu walaupun sekadar mengupas bawang atau mencuci sayurannya. Begitu juga jika ada kondangan, akulah yang selalu hadir.


"Sama siapa, Pak?"


"Sendiri berani nggak? Soalnya yang dari sini kayaknya nggak ada yang dapat nasi kecuali kita," jelas Bapak.


Hidup di desa memang terkadang terlihat menyenangkan. Akan tetapi, itu tidak berlaku seterusnya. Hal sederhananya adalah nasi yang diantarkan oleh si pemilik hajat atau biasa disebut punjungan. Sebagian besar orang di desaku mengartikan bahwa nasi itu sebagai undangan, undangan agar si penerima mau datang ke rumah pemilik hajat dengan membawa amplop atau keperluan dapur seperti beras, gula, minyak, mie, telur, dan keperluan dapur lainnya.


Mau tidak mau anggapan itu memang dibenarkan. Biasanya masyarakat di sekitarku akan menghadiri kondangan jika sudah menerima nasi punjungan tadi. Jika tidak? ada dua kemungkinan; tetap hadir entah karena merasa masih memiliki hubungan baik dengan si pemilik hajat ataupun tidak hadir karena merasa tidak diundang.


***


Sore itu aku berangkat ke tempat diselenggarakannya acara akikah di rumah anak Pak Harun. Rehan awalnya merengek untuk ikut denganku. Akan tetapi, Bapak mencegah karena takut jika nantinya malah menjadi bahan pembicaraan orang. Takut dikira sengaja mencari makanan di sana.


"Di rumah aja, ya, Le. Sama Bapak." Bapak mengelus kepala Rehan. Adikku itu semakin cemberut ketika aku sudah berpakaian rapi dengan membawa tas yang berisi berbagai keperluan dapur.


"Mbak Devi aja boleh, Rehan malah nggak boleh," tukas Rehan yang sepertinya sangat membenciku saat ini.


"Mbak Devi itu wakilnya Ibu, nggak boleh iri."


"Sekali ini aja, Pak. Pak Harun orang baik, dia nggak akan marah. Biasanya malah senang kalau Rehan ikut." Rehan masih berusaha agar Bapak mengizinkannya ikut bersamaku.


"Bukan masalah Pak Harunnya, Re. Pak Harun tentu dengan senang hati jika kamu ikut. Masalahnya kamu tahu sendiri, kan? Orang-orang di desa kita sangat perhitungan. Kamu ikut nanti, malah dikira mau nyari makanan gratis," jelasku memberi Rehan pengertian.


Jika dipikir-pikir, uang yang dikeluarkan untuk membeli keperluan yang hendak diberikan si pemilik hajat cukup banyak. Tentunya uang tersebut bisa digunakan untuk biaya membeli bahan makanan dua bahkan tiga hari. Bukankah sebenarnya boleh-boleh saja mengajak anggota keluarga untuk turut serta ikut di acara hajatan meskipun sekadar memakan nasi dengan lauk rendang dan balado kentang? Tentu si pemilik hajat tidak akan keberatan, kan? Yah, tapi terkadang mulut tetangga lebih tajam. Jika ada kejadian seperti itu, siap-siap saja menjadi bahan pembicaraan di penjuru desa.

__ADS_1


"Kan, emang Rehan ikut tujuannya mau nyari makanan. Pasti yang disuguhkan di sana banyak dan enak-enak. Boleh, ya, Pak?"


"Ini buat jajan, di rumah aja, ya?" Bapak menyerahkan uang kepada Rehan. Sepertinya hanya cara itu agar Rehan tidak mau ikut denganku.


"Kalau begitu Rehan nggak jadi ikut, deh. Rehan mau main di lapangan. Rehan berangkat dulu, ya!"


Haduh, bisa-bisanya anak itu. Kalau masalah uang sana cepat sekali tergodanya. Begitu Rehan meninggalkan rumah, Bapak menyuruhku untuk segera berangkat.


***


"Ini Mbak Devi, bukan?" Aku yang sedang memilih menu terkejut ketika mendengar ada yang menyebut namaku.


Bu Salma, ibu Alwi ternyata juga datang di acara akikahan. Aku tersenyum, kupersilahkan beliau untuk memilih menu terlebih dahulu. Bu Salma seperti sedang menungguku, dia tidak langsung mencari tempat duduk, namun masih mengajakku bicara menanyakan kabarku, Bapak, dan juga Rehan.


"Ke sana, yuk, Mbak!" Bu Salma menunjuk deretan kursi yang masih kosong, aku hanya menurut saja.


"Ibu tadi sendiri atau sama siapa?" tanyaku. Bingung juga mencari topik pembicaraan.


"Sama Alwi, dia menunggu di luar."


Hening sejenak dan kami sibuk menikmati makanan masing-masing. Bu Salma yang porsi makanannya memang sangat sedikit sudah selesai terlebih dahulu.


"Makan yang kenyang, biar tambah berisi," canda Bu Salma.


"Hehehe, iya, Bu."


"Habis ini mampir ke rumah Ibu bisa nggak? Mampir sebentar saja," ucap Bu Salma.


Sebenarnya aku bisa-bisa saja. Akan tetapi, sungkan sekali, aku belum pernah ke rumah Bu Salma.


"Bisa, ya? Sebentar saja. Ibu tadi panen rambutan. Tetangga juga sudah dikasih, ini masih. Nanti nitip buat Pak Basir sama Rehan," jelas Bu Salma.


"Iya, Bu. Nanti aku mampir, deh."

__ADS_1


__ADS_2