
Aku, Bapak, dan Rehan tiba di rumah pukul setengah sepuluh malam. Niat untuk membeli makanan gagal karena banyak pedagang yang sudah tutup. Bapak langsung menuju dapur untuk melihat kondisi nasi yang ditinggalkan dari tadi siang. Sayangnya nasi tersebut sudah berubah bau, warna, dan rasanya.
"Kita masak nasi dulu, ya?" tawar Bapak yang sepertinya tidak tega kepadaku dan Rehan.
"Nggak usah, Pak. Mau langsung tidur aja, udah ngantuk."
Kutangkap ekspresi kekecewaan di wajah Rehan. Dia mengikutiku yang berjalan menuju kamar.
"Sir ... Basir ... sudah tidur, tho?" Kudengar suara ketukan pintu dapur.
"Belum, ada apa, Dhe?" Bapak bergegas membuka pintu, dari suara yang terdengar, sepertinya Mbah Tirah yang sedang mencari Bapak.
"Ada apa, Dhe?"
"Ini untukmu. Tadi bu carik ada hajatan, nasi berkat."
Mendengar ucapan dari Mbah Tirah, aku dan Rehan kompak saling menatap. Benar-benar rizki yang tidak terduga untuk kami yang sedang kelaparan. Sepulangnya Mbah Tirah, aku dan Rehan langsung menghampiri Bapak.
"Alhamdulillah, kita makan bareng-bareng. Di depan TV aja, ya?"
Rehan merebut makanan yang dibawa Bapak tersebut. Dengan penuh semangat ia menuju depan TV. Aku mengikutinya dari belakang, alhamdulilah!
"Isi snack-nya apa aja, Mbak?" Rehan mengeluarkan kotak snack yang berada di bagian paling atas.
Aku segera membukanya. Ada berbagai jajanan di sana; kue apem, lemper, risol, donat, jeruk, bikang, kacang telur, dan air mineral. Maklum, yang memiliki hajat adalah orang yang berada.
Sementara untuk nasinya ada dua wadah. Satu dalam kemasan kotak styrofoam yang biasanya khusus untuk bapak-bapak yang mengaji. Kali ini nasi kotak tersebut berisi lauk rendang, sambal kentang, dan acar. Rehan seketika menyembunyikan kotak tersebut untuk dirinya sendiri.
"Ini buat aku, Mbak!" ucap Rehan.
"Lihat nasi cething-nya!"
Rehan menggeser nasi yang satu lagi. Nasi tersebut biasanya ditaruh dalam wadah sejenis mangkok plastik yang biasa disebut cething. Isinya lebih beragam, ada ayam panggang berukuran lumayan besar, lalapan, sambal, kering kentang, dan mie goreng. Sebagai pelengkap, ada juga rempeyek dan krupuk udang yang berada dalam kemasan tersendiri.
"Lho, yang itu enak juga ternyata," ucap Rehan.
"Hayo, bingung kan mau makan yang mana? Makan bareng-bareng aja, Re," saranku.
"Nggak! Aku tetap mau yang ini. Tapi aku nanti minta juga lauk yang di situ."
"Iya, iya. Ya udah, segera makan. Nanti keburu malam," ucap Bapak yang berada di sampingku.
__ADS_1
Aku pernah mendengar katanya lauk yang paling enak adalah apapun yang kita makan ketika lapar. Dan, untuk saat ini kami benar-benar merasakan nikmat tersebut. Di samping karena lapar, karena memang pada dasarnya semua lauk pada makanan tersebut memanglah enak.
"Bapak ambil ini, ya?" ucap Bapak seraya mengambil lemper. Aku hanya mengangguk sebab mulutku masih terisi penuh makanan.
"Donatnya kelihatan enak. Risolnya juga. Em, bikang juga," lirih Rehan tampak kebingungan memilih jajanan.
"Semuanya enak, Re. Kita bagi aja, setengah-setengah biar sama-sama merasakan," saranku.
"Wah, ide yang bagus. Kita makan Bikangnya dulu aja, ya, Mbak?"
"Boleh!" Rehan meraih makanan dengan warnah hijau dan putih serta memiliki rasa manis tersebut. Dia kemudian membaginya menjadi dua sama besar kemudian salah satunya diberikan kepadaku.
"Ini buat Mbak Devi."
"Kamu nggak kenyang, Re?" tanyaku heran sebab Rehan masih tampak bersemangat melahap semuanya.
"Masih kuat menampung, Mbak." Rehan menepuk-nepuk perutnya.
"Nggak bisa tidur baru tahu rasa!"
"Mumpung bisa makan enak, Mbak!"
Nasi berkat tersebut tandas habis, hanya tersisa beberapa jajanannya saja. Bapak sudah terlebih dahulu menuju kamarnya. Aku masih menunggu Rehan yang masih enggan untuk mengakhiri kegiatan makannya.
"Buruan, ih. Masih aku tunggu, lho!"
Aku mulai berisitirahat dan mencoba untuk memejamkan mata ketika Rehan sudah selesai makan dan masuk ke kamarnya. Sayangnya, hingga tengah malam tiba, rasa kantukku belum juga terasa. Tanganku bergerak mencari selimut, mendadak tubuhku merasa kedinginan.
"Nduk, sudah pagi. Tumben belum bangun." Bapak mengetuk pintu kamarku.
Aku mengerjap mengamati jam di dinding. Perasaan baru saja aku bisa tidur. Namun, ternyata yang diucapkan Bapak memang benar, sekarang sudah pukul lima pagi. Aku buru-buru ke kamar mandi untuk wudu dan segera melaksanakan salat Subuh.
Sekembalinya dari kamar mandi, kulihat tungku kayu yang sudah menyala dengan dua kuali di atasnya. Bapak tampak sibuk memotong beberapa sayuran yang ia petik dari ladang.
"Sakit, Nduk?" tanya Bapak.
"Kayaknya, Pak. Rasanya pusing sama mual. Rehan mana?"
"Di depan. Katanya tadi mau menyapu, padahal masih gelap gini."
"Ada-ada aja."
__ADS_1
"Kalau sakit nanti libur dulu, kamu pasti kecapekan, Nduk."
Aku hanya tersenyum kemudian berlalu untuk segera melakukan salat. Memang sepertinya aku perlu istirahat. Tubuhku terasa sakit semuanya, mungkin masuk angin.
Selesai salat aku langsung limbung di atas sajadah. Aku ingin berteriak pada Bapak, aku tidak bisa membantunya pagi ini. Akan tetapi, tubuhku sangat lemas. Kudengar suara khas langkah kaki Rehan yang sepertinya sedang berjalan di depan kamarku, segera kupanggil ia.
"Ada apa, Mbak?"
"Bilang Bapak, aku nggak bisa bantu. Badanku sakit semua, Re. Minta tolong buatkan surat, ya. Hari ini aku libur dulu."
"Iya, Mbak."
Tak lama berselang Bapak mengetuk pintuku. Aku memintanya untuk membuka sebab memang tidak pernah kukunci. Segelas teh hangat Bapak bawakan untukku. Bapak membantuku untuk duduk.
"Diminum dulu, Nduk!"
Aku menyeruput teh itu sedikit. Minuman yang biasanya begitu nikmat itu sama sekali tidak membangkitkan seleraku.
"Nanti suratnya dikasih ke siapa?" tanya Bapak.
"Titip ke rumah Alwi, Pak. Bapak kenal Pak Hendra, kan? Pak Hendra suaminya Bu Salma," jelasku.
"Oh, iya, tahu. Nanti Bapak titipkan kalau sudah selesai dibuat Rehan."
"Ini sudah, Pak." Rehan menyodorkan amplop yang berisi surat izinku.
"Kamu pasti masuk angin, dipanggilin Mbah Rum, ya?" Aku menggeleng, sudah lama aku tidak dipijat dan aku juga tidak menginginkannya saat ini.
"Nggak papa, Mbak. Nggak sakit, kok. Nanti biar cepat sembuh," ucap Rehan seolah meyakinkanku.
"Geli, Re."
"Nggak papa, Mbak."
"Mau, ya, Nduk. Nanti Bapak panggilkan sekalian pas mau nitip surat."
Aku mengangguk, untuk kali ini saja. Bapak pamit, takut nanti tidak bertemu dengan Alwi.
Rehan masih menunggu di sampingku. Aku justru ingin tertawa melihat ekspresinya yang seolah tidak tega denganku. Dia sesekali izin ke dapur untuk menengok barangkali kayu api Bapak keluar dari tungkunya.
"Kamu nggak siap-siap sekolah, Re?" tanyaku pada Rehan yang belum bersiap-siap untuk sekolah.
__ADS_1
"Habis ini, Mbak. Nunggu Bapak!"