
Setelah piringku kosong, Bu Salma sempat mengajakku mengobrol ringan. Aku hanya menanggapi seperlunya sebab tidak tahu topik apa yang bisa kubahas. Tak lama berselang Bu Salma mengajakku untuk segera berpamitan kepada si pemilik hajat. Pulang dari tempat tersebut, tasku yang semula berisi bahan dapur mentah berubah menjadi nasi beserta lauk dan beberapa kue-kue tradisional.
"Ibu tunggu di sana, ya." Aku mengangguk lalu mengambil motorku yang terparkir cukup jauh dari tempat yang dimaksud Bu Salma tadi.
Setelah berhasil mengeluarkan motor, aku menghampiri Bu Salma dan Alwi. Aku ingin tertawa, sepertinya Alwi belum mandi sore. Dia mengantar Bu Salma dengan mengenakan kaos pendek serta celana training berwarna hitam. Jangan-jangan Alwi baru bangun tidur, dia seolah malas dengan menenggelamkan wajahnya ke spidometer motor.
"Tuh, yang ditunggu sudah datang," ucap Bu Salma meskipun pelan namun masih bisa kudengar. Alwi menoleh setelah mendengar kalimat tersebut.
"Lho, Devi yang kita tunggu, Ma?"
"Iya, Mama tadi nyuruh Mbak Devi buat mampir ke rumah kita sebentar," jelas Bu Salma.
"Oh, ya udah. Kamu duluan, Dev!" perintah Alwi.
"Lho, aku kan nggak tahu arah rumahmu, Al." Alwi menepuk jidatnya. Aduh, kenapa tidak fokus anak itu.
"Maaf, Dev, aku lupa. Ya udah, Mama ayo naik!"
Bu Salma duduk di bagian belakang motor. Alwi kemudian melajukan motornya, aku hanya mengekornya dari belakang.
Akhirnya tiba di gang tempat biasa aku dan Alwi berpisah. Aku mengikuti Alwi yang memasuki gang tersebut. Sekitar 100 meter, Alwi menyalakan lampu sein dan memasuki pekarangan rumah yang cukup luas.
"Segera aja Mbak Devi masuk, ya, Mas!" Bu Salma jalan mendahului. Alwi kemudian memasukkan motornya ke garasi, dia menyuruhku untuk melakukan hal yang sama.
"Gimana ceritanya bisa ketemu Mama?" tanya Alwi kepadaku.
"Ya, kebetulan waktu makan tadi kita ketemu. Eh, malah disuruh mampir."
"Ini baru pertama kali kamu ke sini, kan?" Aku mengangguk.
"Itu ada Papa, barangkali mau salim dulu." Alwi menunjuk Pak Herman yang baru muncul dari samping rumah dengan membawa gulungan selang. Aku segera menghampiri beliau.
"Ini siapa namanya, Mas? Papa lupa," ucap Pak Herman saat aku mencium punggung tangan beliau.
__ADS_1
"Devi, Pak," jawabku.
"Anaknya Pak Basir itu, ya?"
"Iya, Pa. Yang kita ketemu di pasar malam," jelas Alwi membuat sang Papa tampak berusaha mengingat saat itu.
"Oh, iya, Papa ingat. Kabar Pak Basir gimana, Mbak?"
"Alhamdulillah baik."
"Adiknya?"
"Alhamdulillah baik juga."
"Ya udah, diajak masuk ke rumah, Mas. Papa mau siram-siram tanaman dulu."
Rumah keluarga Alwi menurutku cukup luas. Rumah dengan dominasi warna kuning itu tampak begitu hijau bagian pekarangannya karena memang terdapat berbagai jenis tanaman baik tanaman hias ataupun buah dan sayur. Di bagian terasnya terdapat beberapa bunga yang ditaruh di dalam pot-pot kecil. Di sisi kiri rumah terdapat kolam kecil untuk tempat tinggal ikan. Pasti jika tinggal di sini sangat menyenangkan.
"Kamu ikut Mama ke dapur, ya. Aku mau mandi dulu," ucap Alwi yang mengarahkanku menuju dapur. Dugaanku ternyata benar, dia belum mandi.
"Hm, Mama masak apa, sih? Baunya bikin lapar," ucap Alwi sambil menarik napas kuat agar bisa leluasa menikmati aroma khas masakan mamanya.
"Masak kari ayam. Tadi dari mana? Kok, baru ke sini?" Bu Salma melirik ke arahku dan Alwi bergantian.
"Tadi masih ngobrol sama Papa di luar. Perasaan nggak lama, deh."
"Iya, emang nggak lama. Mas Alwi tadi belum mandi, lho. Masa nggak malu ada Mbak Devi di sini?" ledek Bu Salma pada Alwi.
"Ini tadinya juga udah niat mau mandi, Ma. Masih ngantar Devi ke dapur, nih."
"Iya, udah. Buruan mandi, udah jam lima lebih. Tapi udah salat Asar, kan?"
"Udah, tadi bareng Papa ke masjid. Sebelum antar Mama tadi, lho," jelas Alwi meyakinkan mamanya.
__ADS_1
"Mas Alwi itu jarang mandi, Mbak. Tapi kalau di sekolah aman, kan? Nggak ada bau apek gitu kalau bareng sama Mas Alwi?" Aku tertawa, bisa saja Bu Salma becanda. Sementara anak lelakinya begitu tidak terima dan memasang wajah cemberut.
"Mama jangan bilang gitu, Devi itu polos. Yang ada dia nanti malah percaya."
"Tapi emang kamu selalu kelihatan kucel kalau di sekolah, pasti jarang mandi, kan?" godaku yang saat ini sejalan dengan Bu Salma.
"Perempuan sama saja. Iya, iya, aku jarang mandi. Mama sama Devi udah puas?"
Alwi kemudian meraih handuk yang berada di tempat jemuran yang letaknya ada di belakang rumah. Ya, pintu keluar dapur langsung menjurus ke bagian itu. Alwi kemudian masuk ke kamar mandi yang bersebalahan dengan dapur. Dia begitu heboh, suara air ia timbulkan begitu keras. Apakah dia mandi dengan emosi?
"Alwi marah, Bu?" tanyaku.
"Nggak, dia emang kalau mandi kayak gitu. Nggak bisa santai." Bu Salma tertawa.
"Yang Ibu masak ini ayam kampung, jadi lumayan lama proses perebusannya. Mbak Devi bisa bikin sambal?" tanya Bu Salma. Bagus, ada pekerjaan untukku. Itu lebih baik daripada diam mematung saja.
"Bisa, Bu. Mau bikin sambal apa?"
"Sambal tomat terasi. Itu bumbu-bumbunya ada di sana. Ibu ngurus ini, ya. Mbak Devi bikin sambalnya." Aku mengangguk.
Aku mulai mengupas bawang merah dan putih untuk bahan membuat sambal. Selain pekarangan dan ruang utama yang bersih, dapur di rumah ini juga bersih dan rapi. Aku suka melihatnya. Mungkin jika disuruh berada di tempat ini seharian untuk memasak, aku tidak akan pernah merasa jenuh.
Bu Salma memintaku untuk menggoreng bahan sambal tadi di tungku sampingnya. Beliau menaruh wajan berisi sedikit minyak dan menyalakan kompor. Hmm, apakah ini simulasi memasak bersama ibu mertua nantinya. Ah, Devi kamu baru kelas dua SMP, bisa-bisanya pikiranmu sejauh itu. Tidak kupungkiri, aku senyum-senyum sendiri membayangkannya.
"Ternyata enak, ya, kalau punya anak perempuan. Bisa bantu-bantu masak," ucap Bu Salma dengan mengeraskan suara.
"Mama senang, deh. Kelihatannya Mbak Devi udah mahir banget di dapur."
Sejenak kuhentikan aktifitas mengulek sambal di cobek. Bu Salma memberiku kode untuk diam, beliau menunjuk ke arah kamar mandi, mungkin sengaja menggoda Alwi.
"Ya udah, Ma. Kalau memang mau punya anak kayak Devi ambil aja dia. Alwi mau pergi habis ini."
Aku terkejut, Alwi bersuara dan tiba-tiba muncul dari pintu kamar mandi. Segera aku pura-pura mengulek, malu sekali melihat lelaki itu yang hanya melilitkan handuk di tubuhnya. Aku yakin dia menyadariku yang tadi seketika mengalihkan pandangan.
__ADS_1
"Makanya Mas Alwi, kalau ada tamu bawa sekalian baju ganti di kamar mandi. Astaghfirullah, deh!"
"Iya, Ma. Maaf lupa tadi." Terdengar suara tawa Alwi, mungkin dia juga malu.