
...Beberapa Bulan Kemudian...
Libur semester genap telah usai. Perjalananku selama di kelas delapan terasa begitu singkat. Semua seolah mengalir begitu saja dan tanpa disadari hari ini adalah masuk untuk pertama kalinya di kelas sembilan.
Teman sekelas untuk kali ini masih sama karena tidak ada pertukaran dari kelas reguler. Kalau saja masih ada, aku berharap manusia seperti Risa dipindahkan ke kelas lain saja. Dia benar-benar siswi paling rusuh di kelas ini. Semenjak pertengkaran dengan Nindi waktu itu, aku sama sekali tidak mau untuk berbicara apapun kepada perempuan licik itu.
Seperti hari pertama di tahun ajaran sebelumnya, aku selalu berangkat pagi untuk menentukan bangku yang strategis. Sesuai kesepakatan dengan Nindi, aku mengambil bangku ke dua dari depan. Aku menukar kursiku yang sudah usang dengan kursi yang ada di bangku lain. Beginilah untungnya berangkat pagi, berbuat curang juga tidak akan ketahuan.
"Rajin amat, Dev. Pagi-pagi udah berangkat, sengaja nyari tempat duduk, kan?"
Aku sempat melonjak karena kaget. Tiba-tiba saja Dila datang dan kebetulan aku tengah membelakanginya. Seharusnya dia mengucapkan salam dulu.
"Dil, datang-datang bikin orang kaget aja!" protesku pada Dila. Dia hanya tertawa dan tampak berkeliling untuk menentukan bangkunya.
"Kamu datang tadi udah ada murid baru kelas tujuh?" tanya Dila kepadaku.
"Udah ada, kenapa emangnya?"
Hari ini juga merupakan hari pertama masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) bagi kelas tujuh. Biasanya aku tiba di sekolah dengan kondisi masih sepi seluruhnya. Akan tetapi, kali ini berbeda. Siswa-siswi yang masih mengenakan seragam SD tampak berada di tepi lapangan. Entah pada pukul berapa mereka berangkat, 06.15 WIB, sangat awal untuk datang ke sekolah. Padahal kegiatan baru akan dibuka pukul 07.00 WIB. Maklum, masih anak baru, biasanya sangat tertib dan takut mendapatkan hukuman bila tidak sesuai peraturan. Aku pun dulu juga begitu.
"Nggak papa, sih. Mereka berangkat awal banget. Baru jam segini padahal."
"Dulu aku juga gitu. Bahkan berangkat dari rumah setengah 6 karena aku mengayuh sepeda."
"Sekarang pun kamu juga berangkat awal, lho, Dev."
__ADS_1
"Iya, sih."
"Mereka masih kelihatan kayak anak kecil banget nggak, sih? Masih imut-imut, tapi ganteng-ganteng." Dila tertawa, mungkin tertarik dengan adik-adik kelas tujuh yang ia temui tadi.
"Astaghfirullah, Dil. Kamu lewat tadi sempat memperhatikan mereka? Aku lewat aja malu banget, mereka lihatin aku," ucapku mengingat waktu berangkat tadi.
"Aku justru suka dilihatin mereka. Tapi kalau lihat yang cewek aku auto pasang muka judes."
"Dil, Dil, biar apa kayak gitu?"
"Biar kelihatan keren. Aku, kan, kakak kelas mereka."
Kuacuhkan Dila dengan keluar kelas, dia juga tak mempedulikanku karena sibuk memilih bangku. Tak berselang lama, datang juga beberapa teman yang lain. Adat mencari bangku juga masih dilakukan dan bagian belakang selalu menjadi pilihan utamanya.
Aku duduk di lantai teras sembari menunggu bel masuk. Rupanya adik-adik kelas tujuh sudah mulai diinstruksikan untuk segera berbaris di lapangan. Benar yang diucapkan Dila, mereka masih tampak imut-imut.
Nindi melambai-lambaikan tangan ke arahku hingga beberapa anak kelas tujuh menyadari dan menatapnya. Kacau, harusnya Nindi menjaga image-nya agar terlihat berwibawa. Bukankah sebuah pantangan bagi kakak kelas terlihat slengean seperti Nindi?
Bel tanda masuk akhirnya berbunyi. Aku beranjak masuk ke kelas begitu juga dengan teman-teman yang lain. Hari pertama masuk di tahun ajaran ganjil memang selalu sepi. Maklum, beberapa siswa harus membantu terselenggaranya kegiatan MPLS adik-adik kelas tujuh, seperti yang dilakukan Nindi dan Alwi tadi.
Setelah berdoa, kelas tampak ramai karena belum juga ada guru yang datang. Kurasa memang tidak akan ada guru yang mengajar untuk hari ini. Jadwal pelajaran belum ada, biasanya untuk hari pertama akan digunakan untuk membentuk struktur organisasi kelas.
Meskipun sekitar seperempat siswa yang tidak ada di kelas karena mengikuti kegiatan MPLS, namun pemilihan ketua kelas tetap dilaksanakan. Para siswa mengusulkan kandidat yang sekitarnya cocok untuk mengisi bagian ketua kelas, bendahara, sekretaris, beserta wakil-wakilnya. Kasihan Nindi dan Alwi, mereka tidak ada di kelas namun dicalonkan karena teman-teman merasa keduanya cocok untuk dijadikan bagian penting dalam struktur organisasi kelas.
"Satu anak cuma berhak memberikan satu suara, ya. Silahkan tulis satu nama yang menurut kalian cocok dijadikan sebagai ketua kelas." Bagas yang sebelumnya menjabat sebagai ketua berdiri di depan kelas dan memberikan pengumuman tersebut.
__ADS_1
Aku menuliskan satu nama pada potongan kertas yang sudah diberikan sebelumnya. Tidak kuberi tahu pada kalian siapa yang kupilih. Masih ingat asas pemilu, kan? Kalau lupa aku ingatkan lagi. LUBER JURDIL: langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Ya, rahasia!
Bagas mengumpulkan kertas yang sudah berisi nama pilihan masing-masing siswa dengan menggunakan topinya. Entah bagaimana aku bisa berfirasat jika Alwi yang akan menjadi ketuanya. Untuk hasilnya lihat saja hasil perhitungan nanti.
Dibantu Firman dan Banu, Bagas mulai menghitung hasil pemungutan suara tadi. Bagas memberikan satu turus sesuai nama yang disebutkan oleh Banu.
"Eh, kok, udah dimulai pemilihan ketuanya." Alwi dan beberapa teman yang sebelumnya bertugas di acara MPLS akhirnya datang.
Alwi terlihat kesal ketika namanya tertulis di papan tulis. Aku yakin dia memilih diam daripada protes karena hal itu tidak akan mungkin didengarkan.
"Aku sama yang baru datang juga ikutan milih, dong!" Bagas menyerahkan potongan-potongan kertas tadi Alwi untuk diisi.
Pemilihan kloter kedua akhirnya dilakukan. Alwi mengkoordinir pengumpulan kertas yang sudah diisi pilihan nama. Kertas berbentuk lipatan itu dikumpulkan kepada Firman.
"Ini tadi siapa yang usul aku dijadiin kandidat?" Nindi tampak penasaran, tatapannya seperti penuh kecurigaan kepadaku.
"Serius bukan aku, lho. Aku juga kaget, nama kamu sama Alwi tiba-tiba ditulis di papan." ucapku.
"Tega banget, sih. Padahal aku nggak berminat jadi kayak bagian penting di kelas."
"Sabar aja, Nin."
"Iya harus sabar, dong, Dev. Eh, kayaknya Alwi yang bakal menang, deh. Lihat tuh dia udah dapat banyak banget suara." Nindi menunjuk bagian atas papan tulis yang berisi nama Alwi.
"Tuh, kan, benar." Surat suara terakhir sudah dibuka dan dibuang. Perolehan suara menyebabkan Alwi menjadi ketua kelas dan Nindi sekretarisnya.
__ADS_1
"Aduh, kenapa harus aku yang jadi sekretaris," keluh Nindi kepadaku.
"Tapi sebenarnya kamu suka kan kalau bareng Alwi." Aku menggoda Nindi.