
"Kamu tahu Nela? Apa kalian saling kenal?" Aku menggeleng menjawab pertanyaan Mas Ovi.
"Kok, tahu namanya?" Mas Ovi kelihatan sedikit panik.
"Tadi Mas Erwin manggil dia 'Nela' gitu."
"Oh, gitu. Aku kira kenal. Dia emang sering main ke sini, sih." Aku tanya apa, jawabnya apa.
"Pacar?" tebakku.
"Bukan, dulu dia adik kelasku waktu SD." Masih belum juga menjawab rasa penasaranku. Kuduga, sepertinya ada ikatan khusus antara Mas Ovi dan Nela.
"Terus kenapa sering ke sini?" Dasar aku, kepo sekali jadi manusia.
"Dulu aku memang naksir dia, Dev. Aku masih SMA waktu itu, terus ngungkapin perasaan ke dia, tapi ditolak." Kasihan sekali Mas Ovi, ternyata mantan sad boy. Atau, malah sekarang masih menjadi sad boy juga?
Wah, pantas Mas Ovi sudah jarang main ke rumah, jadi Nela alasannya. Eh, aku tidak mengharap kehadirannya, ya, sekadar heran. Dulu biasanya Mas Ovi hampir setiap sore datang ke rumah dan bercengkrama bersama Bapak. Akan tetapi, beberapa minggu ini Mas Ovi jarang datang. Kadang hanya seminggu sekali.
"Nela cantik, ya? Cocok kalau sama Mas Ovi. Pasti dulunya juga cantik, sampai Mas Ovi tergila-gila," ucapku sedikit meledek.
"Iya, dari dulu dia cantik, sekarang malah makin cantik, sih. Katanya juga banyak yang suka sama dia." Wah, apakah Mas Ovi menyerah karena banyak saingannya? Tapi, kalau Nela sering bertandang ke toko Mas Ovi, berarti ia juga memiliki perasaan yang sama, kan?
"Berarti Mas Ovi orang yang beruntung, dong. Cintanya udah nggak bertepuk sebelah tangan lagi. Tapi, kenapa kayak menghindar dari Nela?"
"Beruntung? Kata siapa? Nela itu baik ke aku setelah tahu aku punya usaha gini. Ada juga yang bilang kalau yang diincar Nela sebenarnya adalah materi, bukan aku."
"Kalau cuma 'katanya' jangan asal percaya, Mas. Eh, tapi kalau dari pandanganku, emang kayaknya si Nela itu cewek matre." Kuutarakan opiniku, memang terlihat dari gerak-geriknya.
"Kalau itu, sih, aku nggak begitu peduli, Dev. Masalahnya si Nela ini juga sudah punya pacar, berani-beraninya dia main api. Dikira cowok nggak ada perasaan, apa? Terus nanti kalau cowoknya marah aku juga yang kena, kan?"
"Ya, siapa tahu mereka bersekongkol."
"Gimana maksudnya?"
"Mungkin gini, kalau Mas Ovi mau sama Nela otomatis Nela mikir kalau Mas Ovi bakal ngasih ini itu ke dia. Nanti dia bisa morotin harta Mas Ovi, terus mereka nanti bagi hasil. Kan, nggak ada yang tahu juga." Aduh, dasar lidah tidak bertulang. Bisa-bisanya aku berasumsi seperti ini. Parahnya, seolah menjadi provokator. Maafkan hamba, Ya Allah.
"Ah, masa gitu, sih, Dev."
__ADS_1
"Ya, bisa jadi. Kan, cuma perkiraanku."
"Pak Basir nambah pesanan lain atau cuma yang kemarin?" Mas Ovi menyudahi pembahasan Nela dengan pertanyaan itu.
Aduh, saking asyiknya membicarakan Nela hingga lupa tujuan awal datang ke sini. Segera kuserahkan kertas catatan dari Bapak kepada Mas Ovi, dia kemudian bergerak untuk mengambil barang di beberapa rak.
"Kamu nggak cemburu kalau aku sama Nela, Dev?" Mas Ovi meletakkan dua botol berisi biji-bijian untuk pakan burung. Aku spontan mendongak ke arahnya. Wah, ternyata jika diperhatikan dengan saksama dan dari jarak dekat Mas Ovi tampan sekali.
"Eh, malah bengong, terpesona, kan?" Aduh, kambuh lagi tingkat kepercayaan diri Mas Ovi yang tinggi.
"PD banget. Bukan, aku tadi kurang dengar apa yang Mas Ovi bilang," ucapku memastikan perkataan Mas Ovi tadi.
"Kamu nggak cemburu kalau aku sama perempuan lain termasuk Nela?"
Cemburu? Kenapa aku harus cemburu? Em, aku menyebutnya bukan cemburu, melainkan sedih karena merasa kehilangan sosok penyayang seperti Mas Ovi, tapi hanya sedikit. Tenang saja!
"Nggak, dong. Selama Mas Ovi bahagia, Devi selalu mendukung. Kalau bisa jangan Nela, sih," lirihku.
"Siapa? Kamu?" Mas Ovi mendapatkan hadiah tatapan tajam dariku karena ucapannya. Gila, ya kali aku mau sama lelaki sudah tua seperti Mas Ovi. Dasar p*dof*l!
"Aku itu cocoknya jadi anaknya Mas Ovi. Kan, aku masih imut." Sengaja kukeluarkan suara yang sok imut.
"Lah, ngapain mau ketemu Bapak?"
"Mau minta izin, siapa tahu ada lowongan jadi menantu."
"Ih, ngaco. Masa anak kecil mau nikah sama om-om?" celetukku begitu saja.
"Om-om? Eh, Devi, aku ini masih muda, lho. Baru 18 tahun," sergah Mas Ovi.
"18 tahun lebih berapa?" tanyaku, Mas Ovi terkekeh.
Bercanda hingga lupa waktu, tak terasa sudah satu jam lebih di toko Mas Ovi. Setelah semua pesanan Bapak disiapkan, aku segera membayar dan berpamitan untuk pulang. Gara-gara Mas Ovi, jam istirahatku berkurang sebab membahas sesuatu yang kurang penting.
Untung saja pesanan Bapak tidak banyak-banyak hingga aku bisa membawanya sendiri tanpa bantuan Mas Ovi seperti waktu itu. Mas Ovi bertanya terus kepadaku, memastikan apakah aku bisa membawanya sendiri. Ah, padahal sama sekali tidak ada masalah bagiku.
"Hati-hati, mau diantar?" tawar Mas Ovi.
__ADS_1
***
"Mbak, kata Bapak nanti disuruh ke rumahnya Mbak Siska. Habis makan langsung ke sana, ya!" teriak Rehan dari luar rumah.
"Ada apa, Re?"
"Nggak tahu, pokoknya disuruh datang aja." Rehan menghampiriku, lebih tepatnya tujuan dia mendekat adalah untuk minum.
"Oke, Re. Ikut, yuk!" ajakku pada Rehan karena malas untuk keluar rumah seorang diri.
"Mau main aku, Mbak. Sudah ditunggu teman-teman di lapangan."
"Yah, sendiri, dong!"
"Iya, Mbak. Aku main dulu!"
Rencana untuk istirahat gagal lagi. Mungkin memang tidur siang tidak bisa bersahabat denganku. Giliran senggang tidak mengantuk, giliran mengantuk selalu saja ada yang harus dikerjakan.
Segera kuhabiskan nasi dan sedikit lauk yang tersisa di piring. Setelah ini aku langsung ke rumah Mbak Siska. Mungkin Bapak disuruh Bapak untuk mengambil ayam di sana.
Rumah kutinggalkan dalam kondisi kotor dan berantakan pada bagian dapurnya. Kubersihkan nanti saja, pokoknya harus segera ke rumah Mbak Siska. Seperti ada panggilan hati yang memintaku segera pergi ke rumah Mbak Siska daripada melakukan pekerjaan lain.
Dengan kecepatan tinggi aku menyusuri jalan menuju rumah Mbak Siska. Tiba di sana, kudapati ibu muda tersebut sedang menidurkan anaknya yang berada dalam gendongan. Dia kemudian menghampiriku.
"Eh, Devi sudah datang. Ayo masuk, Dev!" Aku mengangguk.
Mbak Siska terus memintaku untuk mengikutinya. Di ruang belakang ternyata terdapat berbagai model baju yang sedang digantung dan ada juga yang masih dalam kondisi terbungkus.
"Kamu mau pilih yang mana? Coba dulu, siapa tahu ada yang cocok." Mbak Siska membuka beberapa baju yang masih dibungkus menggunakan plastik.
"Lho, ini ada apa, Mbak?" tanyaku heran.
"Tadi Pak Basir ke sini, katanya cari baju-baju panjang buat kamu. Kamu disuruh ambil tiga, nanti masalah pembayaran diurus sama Bapakmu."
"Tumben," gumamku.
"Katanya mau ke pesantren habis ini. Stok baju panjangmu biar nambah katanya."
__ADS_1
Oh, jadi itu alasannya. Aduh, kenapa Bapak harus repot-repot, aku jadi sedih, kan? Sebahagia itukah Bapak melepasku?